Gandeng IPB Gubernur Koster Berhasil Kembangkan Tanaman Cabai Endemik Khas Bali, Diklaim Lebih Pedas dari “Omongan Tetangga”
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bali bersiap memiliki senjata baru di sektor pangan. Bukan senjata dalam arti sebenarnya, melainkan cabai dengan sensasi pedas yang diklaim bisa membuat pecinta makanan pedas berpikir dua kali sebelum menggigitnya, Rabu, 9 September 2026.
Cabai tersebut bernama Tabia Sala 1 dan Tabia Sala 2, varietas yang dikembangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Udayana (Unud) melalui riset selama tiga tahun.
Berdasarkan infomarsi yang berhasil dihimpun dari video TikTok pemilik akun Prof. Syukur, saat memperkenalkan tanaman cabai endemik khas Bali ini lebih jauh menjelaskan, yang membuat Tabia Sala mencuri perhatian adalah tingkat kepedasannya. Tabia Sala 1 bahkan diklaim memiliki kepedasan berlipat-lipat dibandingkan cabai rawit biasa. Seperempat buahnya disebut dapat memberikan sensasi pedas yang kurang lebih setara dengan sekitar 10 cabai rawit biasa.
“Jika klaim tersebut terbukti konsisten di lapangan, Tabia Sala bukan sekadar cabai baru. Ia berpotensi menjadi komoditas strategis Bali,” ujar Prof Syukur.
Lebih lanjut dalam videonya Prof Surya menjelaskan, pengembangan varietas ini kini memasuki tahap penting, yakni uji coba langsung di tingkat petani. Salah satu lokasi pengujian dilakukan di Luwus, Kabupaten Tabanan.
“Tahap ini menjadi ruang pembuktian apakah hasil riset selama tiga tahun benar-benar mampu diterjemahkan menjadi produksi yang stabil dan menguntungkan bagi petani,” tambahnya.
Lebih jauh, pengembangan Tabia Sala tidak semata-mata berbicara tentang rasa pedas. Di balik cabai superpedas itu terdapat agenda yang jauh lebih besar, yakni memperkuat kedaulatan pangan Bali.
Cabai selama ini menjadi salah satu komoditas hortikultura yang harganya mudah bergejolak. Ketika produksi tidak mampu memenuhi kebutuhan, harga bisa melonjak dan ikut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Karena itu, kehadiran varietas lokal dengan produktivitas dan karakter unggul diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat pasokan cabai dari tingkat petani.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster menambahkan, pengembangan tanaman cabai menjadi salah satu langkah Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster untuk memperkuat kedaulatan pangan.
“Tidak sekadar mengejar produksi, pengembangan varietas lokal seperti Tabia Sala diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Bali terhadap pasokan pangan dari luar daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Koster.
Menurut Gubernur Koster, cabai dipandang memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan stabilitas harga. Karena itu, inovasi varietas unggul harus diikuti penguatan sektor hulu hingga hilir, mulai dari benih, budidaya, produktivitas, pemasaran hingga pengolahan.
Bagi Koster, kedaulatan pangan bukan hanya soal mampu menanam sendiri, tetapi bagaimana Bali mampu membangun sistem pangan yang mandiri, berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi bagi petani.
“Pengembangan Tabia Sala pun diharapkan menjadi salah satu contoh bahwa kekayaan pertanian lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi sekaligus fondasi kemandirian pangan Bali,” tutupnya.
***
