03/11/2026

Memaknai Tumpek Uye, Momentum Pengendalian Sifat Kebinatangan dalam Diri

Memaknai Tumpek Uye, Momentum Pengendalian Sifat Kebinatangan dalam Diri

Memaknai Tumpek Uye, Momentum Pengendalian Sifat Kebinatangan dalam Diri/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang yang jatuh setiap 6 bulan sekali (210 hari) pada Saniscara Kliwon Wuku Uye bukan sekadar ritual seremonial bagi satwa atau binatang. Lebih dari itu, hari suci ini menyimpan makna filosofis mendalam sebagai momentum penyadaran manusia untuk mengendalikan sifat-sifat kebinatangan dan mengolah kegelapan (Sapta Timira) dalam diri.

Pedharmawacana sekaligus Penata Layanan Operasional Urusan Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Putu Widya Candra Prawartana, M.Pd., memaparkan bahwa makna filosofis Tumpek Uye terungkap melalui penggabungan urip dalam formulasi wariga. Hari Saniscara memiliki urip 9, Kliwon memiliki urip 8, dan Wuku Uye dengan urip 8.

“Bila dijumlahkan, 9 ditambah 8 ditambah 8 sama dengan 25, yang jika dijumlahkan kembali 2 ditambah 5 menghasilkan angka 7. Angka tujuh ini melambangkan Sapta Timira atau tujuh kegelapan di dalam diri manusia. Filosofisnya ada dalam diri manusia, bagaimana kita harus bisa mengekang sifat rajas, khususnya sifat-sifat kebinatangan,” ujar Candra Prawartana, Jumat (4/9).

Berdasarkan kajian Lontar Wariga dan Lontar Sundarigama, perayaan ini menjadi wahana pendewasaan diri setiap enam bulan sekali. Pengendalian sifat rajas, sifat yang cenderung agresif dan bergejolak, diibaratkan seperti mengelola potensi bahaya maupun kebaikan dari karakter satwa.

“Sapta Timita di dalam diri manusia harus dikendalikan. Tumpek Uye, tidak hanya di binatang saja orientasinya. Tapi filosofisnya ada dalam diri manusia. Bahwa dalam diri manusia itu dari 7 kegelapan yang perlu kita telusuri. Kita harus bisa mengekang sifat rajas kita, khususnya sifat-sifat kebinatangan. Jadi tumpak Uye ini adalah bagian penting dari Sapta Timira itu. Bagaimana kita bisa mengendalikan Sapta Timira,” tambahnya.

Candra menambahkan, guna melestarikan ekosistem dan memuliakan satwa, umat dianjurkan untuk tidak menyakiti hewan serta bijak sebelum memutuskan memelihara satwa. Penerapan etika kasih sayang ini juga mencakup aspek keharmonisan ekologis.

“Tumpek Uye ini momentum perayaan hari suci untuk lebih menguatkan pelestarian ekologis, baik dari sisi satwanya maupun pemeliharaannya. Kebijaksanaan dan etika memelihara hewan harus selalu dijaga. Jadi, Tumpek Uye tidak hanya sebatas ritual enam bulanan, bukan sekadar memori semata atau seremonial belaka,” pungkasnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026