Mengenal Tari Jangkang di Desa Cempaga, Begini Kisahnya
Tari Jangkang Desa Cempaga: Tradisi Sakral, Ritual Melukat, dan Tarian Budaya Bali Aga/ balikonten
BULELENG, BALIKONTEN.COM – Desa Cempaga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, menjaga tradisi leluhur dengan sangat ketat. Salah satu wujud penghormatan spiritual tersebut tefokus pada pementasan Tari Jangkang, seni pertunjukan sakral yang digelar berkala pada rahina Umanis Kuningan di Pura Desa Cempaga.
Bendesa Adat Cempaga, Putu Karya Dharma, menjelaskan bahwa Tari Jangkang diperkirakan telah hidup sejak era terdahulu dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan tarian ini terikat langsung dengan sistem kepercayaan warga Bali yang menempatkan kesenian sebagai bagian inti pelaksanaan upacara keagamaan.
Lahir sebagai ekspresi spiritual untuk menghormati leluhur, tarian ini berfungsi menjaga keseimbangan antara alam nyata (sekala) dan alam gaib (niskala). Pengetahuan serta teknik menarinya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Pementasan tarian ini terangkai erat dengan peringatan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Jika Galungan menandai kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan), maka Kuningan menjadi momen penutup saat para leluhur kembali ke kahyangan.
“Tari Jangkang ditarikan oleh anak-anak pada rahina Umanis Kuningan sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan mendalam kepada leluhur,” ujar Putu Karya Dharma.
Tahapan Ritual: Dari Melukat hingga Pembagian Tirta
Pementasan Tari Jangkang menuntut persiapan spiritual yang matang. Sebelum menginjakkan kaki di tempat pementasan, para penari wajib menjalani ritual melukat di Pura Desa Cempaga. Ritual pembersihan lahir dan batin ini ditujukan untuk memohon izin serta menyucikan diri di hadapan Hyang Widhi Wasa dan leluhur.
Prosesi melukat mengondisikan penari masuk ke ruang spiritual yang murni. Penyucian ini menghadirkan aura taksu serta rasa pengabdian yang tulus selama pementasan berlangsung.
Usai melukat, para penari membawakan Tari Jangkang di madya mandala (area tengah Pura) pada pukul 07.30–08.30 WITA. Gerakan tariannya lugas dan penuh energi, menggambarkan sosok prajurit yang gagah berani. Dentangan gamelan sakral mengiringi setiap hentakan kaki penari, memperkuat atmosfer religius di area pura.
Irama gamelan yang dinamis bersatu padu dengan gestur ketat penari. Tatapan mata yang tajam serta gerakan lambat namun pasti mempertegas kesiapsiagaan seorang prajurit dalam menjalankan tugas suci. Tarian ini menjadi persembahan spiritual, bentuk doa, sekaligus pilar kebersamaan warga dalam menjaga keselarasan dengan alam semesta.
“Masyarakat meyakini persembahan Tari Jangkang membawa keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa,” tutur Putu Karya Dharma.
Secara teknis, tarian ini menampilkan gerakan khas seperti ngayog (simbol kesiapsiagaan dan keseimbangan), nengkleng (penekanan ketegasan langkah), serta perubahan posisi yang teratur. Formasi dinamis tersebut merepresentasikan suasana peperangan yang sakral. Seluruh pementasan ditujukan sebagai bakti kepada Dewa Indra dan para leluhur desa.
Rangkaian pementasan berakhir pada pukul 08.30–09.00 WITA. Para penari melangkah menuju utama mandala (area inti Pura) untuk menerima tirta (air suci) dari Jro Mangku Desa. Pemberian tirta menandai penerimaan berkah, pembersihan akhir, serta pengembalian energi suci yang terpancar selama tarian berlangsung.
Busana, Senjata Tradisional, dan Keunikan Alat Penolak Bala
Keunikan Tari Jangkang terletak pada penggunaan senjata tongkat klengisan, yakni pelepah dari pohon sejenis enau (palempaleman). Selain menjadi identitas visual tarian, tongkat klengisan bermakna simbolis sebagai sarana perlindungan spiritual dan penolak bala.
Dalam pementasannya, penari mengenakan busana adat Bali lengkap yang terdiri atas badong, samir, kamen, kemeja putih lengan panjang, serta udeng (ikat kepala). Setiap elemen pakaian mencerminkan kesakralan tradisi yang dihormati warga setempat. Penari juga membawa keris tradisional sebagai lambang keberanian, kewaspadaan, dan kesiapan melindungi lingkungan desa.
Iringan musik mengandalkan gamelan Bali—seperti Gong Kebyar atau Gong Gede—yang menghasilkan irama heroik dan sakral. Kelengkapan upacara berupa banten, canang, dan dupa disiapkan sebagai sarana penghubung doa.
“Tari Jangkang tidak sekadar mengedepankan estetika, tetapi sarat makna spiritual. Busana kemeja putih, samir, badong, kamen, udeng, keris, hingga tongkat klengisan merepresentasikan nilai keprajuritan Bali,” pungkas Putu Karya Dharma.
Kekayaan Seni Tari Desa Bali Aga Cempaga
Desa Cempaga tergolong sebagai salah satu desa tua (Bali Aga) di Kabupaten Buleleng. Desa ini memiliki lanskap alam yang indah, mulai dari pemandangan laut, kawasan hutan desa, hingga air terjun. Di samping kekayaan alamnya, Desa Cempaga menyimpan khazanah seni tari sakral yang khas dan berbeda dari desa-desa lainnya di Bali.
Berikut daftar tarian tradisional yang hidup di Desa Cempaga:
- Tari Jangkang
- Tari Baris:
- Baris Jojor
- Baris Dadap
- Tari Pendet
- Tari Rejang:
- Rejang Beneh
- Rejang Tuding Pelayon
- Rejang Lilit Nyali
- Rejang Sirig Buntas
- Rejang Embung Kelor
- Rejang Kepet
- Rejang Galuh
- Rejang Pengecek Galuh
- Rejang Dephe
- Rejang Bungkol
- Rejang Renteng
- Rejang Lilit
- Rejang Legong
- Rejang Unda
Detail Makna Tarian Tradisional Cempaga
Tari Selir (Darot)
Tarian yang sangat sakral dan tidak dapat dipelajari secara sembarangan karena penarinya berada dalam kondisi tidak sadar (trance). Tarian ini merupakan bagian dari prosesi tapakan Ida Betara di Pura Puseh Desa Baliagung serta merajan dadia setempat, yang dipentaskan pada puncak upacara Kuningan maupun Karya Agung Muayon.
Tari Jangkang
Tarian sakral yang dibawakan oleh sekelompok anak yang telah mengalami prosesi mepinggah (pergantian gigi). Ditarikan pada hari Minggu Umanis Langkir saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Desa Cempaga, tarian ini memiliki nilai magis tinggi sebagai lambang prajurit perang yang membela kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).
Tari Baris
Tarian perang tradisional yang dibawakan oleh laki-laki dewasa dengan iringan gamelan. Tarian ini menggambarkan ketangguhan, jiwa keprajuritan, dan heroism seorang pemuda. Terbagi menjadi dua jenis:
Tari Baris Jojor (Nyawi):
Ditarikan secara tunggal oleh seorang pria. Gerakannya tegap dan berwibawa, mencerminkan ketangguhan prajurit di medan perang.
Tari Baris Dadap:
Ditarikan secara berkelompok oleh pria dewasa dan sering dipadukan dengan tari tapel. Pementasannya bertujuan menetralkan pengaruh bhuta kala serta menegakkan ajaran kebaikan.
Tari Pendet
Tari pemujaan yang dipentaskan di Pura Desa Cempaga sebagai lambang penyambutan turunnya Panca Dewata ke bumi. Tarian ini dibawakan oleh enam orang penari secara bertahap: diawali pasangan penari (Tari Rendet), dilanjutkan penari tunggal (Tari Jauk), dan diakhiri oleh penari wanita (Tari Condong).
Tari Rejang
Tarian kelompok yang digelar di Pura Puseh Agung Desa Cempaga dari malam hingga pagi hari. Tarian ini menggambarkan wujud widyadara-widyadari yang menuntun Dewata Nawa Sanga serta para dewa sesembahan warga. Gerakannya yang anggun sangat diminati oleh para wanita desa karena dipercaya membawa kedamaian batin. Pementasannya selalu dipadati oleh warga yang ingin menyaksikan keindahan tarian ini.
***
