22/01/2026

Nilai Moral dan Filosofi Kehidupan dari Galungan dan Kuningan

doa apa yang digunakan saat galungan dan kuningan

Penjor Galungan oleh Jorge Láscar/ Flicker/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah perayaan suci umat Hindu Bali yang dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Pawukon. Perayaan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarat dengan nilai moral dan filosofi kehidupan yang mendalam, mengajarkan keseimbangan antara kebaikan (Dharma) dan keburukan (Adharma), serta harmoni dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Galungan memperingati kemenangan Dharma, sementara Kuningan menjadi momen penghormatan kepada leluhur dan permohonan berkat.

Mengenal Galungan dan Kuningan

Galungan jatuh pada Rabu Kliwon Wuku Dungulan, diikuti Kuningan pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan, 10 hari kemudian. Galungan merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan, sedangkan Kuningan adalah waktu untuk menghormati leluhur (Pitara) dan memohon perlindungan spiritual. Kedua perayaan ini melibatkan persembahyangan di sanggah pamerajan, pura desa, dan pura besar, serta persiapan sesaji dan simbol seperti penjor dan nasi kuning.

Rangkaian Galungan dan Kuningan mencakup tahapan yang kaya makna, masing-masing membawa nilai moral dan filosofi yang memperkuat spiritualitas umat Hindu. Berikut adalah penjelasan rinci tentang rangkaian tersebut dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Rangkaian Perayaan Galungan dan Nilai Filosofinya

Galungan bukan hanya satu hari perayaan, melainkan rangkaian kegiatan yang memiliki makna mendalam. Setiap tahap mengajarkan umat untuk memperkuat keimanan, mengendalikan diri, dan bersyukur atas karunia Tuhan. Berikut adalah rangkaian dalam Galungan:

1.     Penyekeban (Tiga Hari Sebelum Galungan) 

Penyekeban berasal dari kata “nyekeb” yang berarti menutup atau menahan. Hari ini mengajarkan umat Hindu untuk mengendalikan hawa nafsu dan sifat-sifat buruk seperti kemarahan, iri hati, atau keserakahan. Menurut Lontar Sundarigama, Penyekeban adalah waktu untuk introspeksi diri, mempersiapkan hati dan pikiran agar suci sebelum memasuki hari raya utama. Umat biasanya mempersiapkan sesaji sederhana dan melakukan persembahyangan untuk memohon kekuatan batin. Nilai moral dari Penyekeban adalah pengendalian diri sebagai wujud Tri Kaya Parisudha (pikiran, ucapan, dan perbuatan suci), yang menjadi landasan hidup bermoral.

2.     Penampahan Galungan (Satu Hari Sebelum Galungan)

Penampahan berasal dari kata “tampah” yang berarti memotong atau membunuh, melambangkan upaya mengalahkan keburukan (Adharma) dalam diri. Hari Penampahan Galungan digunakan untuk mempersiapkan sesaji seperti banten pejati dan canang, serta menyucikan diri melalui ritual seperti melukat (pembersihan spiritual dengan air suci).

Penampahan juga ditandai dengan penyembelihan hewan untuk sesaji, yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan nilai kehidupan. Filosofi Penampahan adalah perjuangan batin untuk menegakkan Dharma, mengajarkan umat untuk menghilangkan sifat negatif dan mempersiapkan diri menyambut kemenangan spiritual.

3.     Umanis Galungan (Sehari Setelah Galungan)

Umanis Galungan adalah hari untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat, mempererat silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan. Umat Hindu biasanya mengunjungi sanak saudara, saling memaafkan, dan berbagi dana punia untuk keperluan upacara. Hari ini juga menjadi momen untuk bersyukur atas kemenangan Dharma dan kemakmuran yang telah diberikan Tuhan.

Nilai moral dari Umanis Galungan terletak pada pentingnya menjaga harmoni sosial, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana (hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam).

Selain rangkaian ini, Galungan ditandai dengan pemasangan penjor, tiang bambu melengkung yang dihias dengan janur, hasil bumi, dan kain putih-kuning. Penjor melambangkan Gunung Mahameru, sumber kesejahteraan, serta ungkapan syukur atas karunia alam. Penjor juga mencerminkan keseimbangan antara dunia material dan spiritual, sekaligus pengingat akan penciptaan alam semesta oleh Tuhan.

Nilai Moral dan Filosofi Galungan

Galungan mengandung nilai-nilai moral dan filosofi yang menjadi panduan hidup umat Hindu:

1.      Kemenangan Dharma atas Adharma 

Filosofi utama Galungan adalah kemenangan kebaikan atas kejahatan, baik dalam lingkup eksternal (melawan kekuatan jahat) maupun internal (mengendalikan nafsu duniawi). Simbol panji Dharma menggambarkan perjuangan ini.

2.     Penyatuan Kekuatan Rohani

Persembahyangan selama Galungan, seperti Tri Sandhya, membantu umat menyatukan pikiran, hati, dan jiwa untuk mencapai pencerahan spiritual, yang disebut galang apadang (cahaya batin).

3.     Introspeksi dan Pengendalian Diri 

Rangkaian seperti Penyekeban mengajarkan pentingnya refleksi diri untuk menghilangkan sifat buruk, sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha.

4.     Syukur atas Kesejahteraan  

Penjor dan sesaji mencerminkan rasa syukur atas karunia Tuhan, sekaligus pengingat untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam.

5.     Kesadaran akan Ciptaan Tuhan

Galungan mengingatkan umat akan posisi mereka sebagai bagian dari alam semesta, mendorong kehidupan yang selaras dengan Tri Hita Karana.

Rangkaian Perayaan Kuningan dan Nilai Filosofinya

Kuningan, yang dirayakan sepuluh hari setelah Galungan, menutup rangkaian perayaan dengan fokus pada penghormatan leluhur dan permohonan berkat. Upacara Kuningan harus selesai sebelum tengah hari (sebelum matahari condong ke barat), melambangkan kesadaran waktu dalam mencapai kesucian spiritual. Berikut adalah elemen utama Kuningan:

1.     Persembahan Nasi Kuning 

Nasi kuning, dengan warna emasnya, adalah simbol kemakmuran, keberkahan, dan kegembiraan. Persembahan ini disusun dalam endongan (wadah anyaman) bersama tamiang (hiasan pelindung) untuk menghormati leluhur dan memohon perlindungan dari Dewa dan Pitara. Nasi kuning juga mencerminkan harapan umat untuk hidup sejahtera dan penuh kebaikan.

2.     Upacara Sebelum Tengah Hari

Upacara Kuningan dilakukan sebelum pukul 12 siang, melambangkan bahwa anugerah Tuhan bersifat terbatas oleh waktu. Umat diajak untuk memanfaatkan waktu dengan bijak demi mendekatkan diri kepada kesucian. Persembahyangan dilakukan di sanggah pamerajan dan pura, dengan fokus pada rasa syukur dan permohonan tuntunan spiritual.

3.     Penghormatan kepada Leluhur 

Kuningan adalah momen untuk menghormati leluhur yang dipercaya turun ke bumi untuk memberikan berkat, lalu kembali ke surga sebelum tengah hari. Persembahan seperti banten pejati dan canang menjadi wujud terima kasih atas warisan spiritual yang ditinggalkan.

Nilai Moral dan Filosofi Kuningan

Kuningan memperkaya makna Galungan dengan nilai-nilai berikut:

1.     Penghormatan kepada Leluhur: persembahan selama Kuningan menunjukkan rasa hormat kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual dan budaya.

2.     Permohonan Anugerah dan Tuntunan: upacara Kuningan bertujuan memohon keselamatan lahir batin dari Dewa dan leluhur, memperkuat hubungan spiritual umat dengan Sang Pencipta.

3.     Simbol Kemakmuran: nasi kuning melambangkan berkat Tuhan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat.

4.     Kesadaran Waktu: Pembatasan waktu upacara mengajarkan pentingnya memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesucian hidup.

5.      Keseimbangan Duniawi dan Spiritual: Kuningan mencerminkan konsep Rwa Bhineda (dualitas), yaitu harmoni antara dunia nyata dan spiritual, di mana leluhur dan dewa memberikan berkat sementara umat menjaga keseimbangan hidup.

Galungan dan Kuningan adalah cerminan filosofi kehidupan Hindu Bali yang mengajarkan kemenangan kebaikan, syukur atas karunia Tuhan, dan harmoni dengan alam serta sesama.

Melalui rangkaian Penyekeban, Penampahan, Umanis Galungan, dan Upacara Kuningan, umat diajak untuk memperkuat moral, menjaga keseimbangan spiritual, dan menghormati leluhur.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE