Kearifan Luhur Kunci Keberlanjutan Arsitektur Bali, Prof Rai Remawa Tekankan AI Hanya Alat Bantu
Kearifan Luhur Kunci Keberlanjutan Arsitektur Bali, Prof Rai Remawa Tekankan AI Hanya Alat Bantu /balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses desain dan pembangunan modern diakui mampu mempercepat efisiensi kerja. Meski demikian, AI tidak boleh menggantikan spirit dan cara berpikir manusia, terutama dalam pelestarian jati diri arsitektur serta nilai kearifan di Bali.
Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar dan Akademisi bidang Desain Interior dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Dr. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn., dalam kegiatan Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 yang berlangsung di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).
Kegiatan yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertajuk “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pengembangan Berkelanjutan” ini menyoroti fenomena pembangunan yang masif namun acapkali mengabaikan arsitektur khas Bali.
Prof. Rai Remawa menyampaikan bahwa AI pada dasarnya adalah sarana untuk mempercepat dan mempermudah proses kerja, termasuk dalam perencanaan desain pembangunan. Namun menyerahkan seluruh proses kreatif dan desain kepada kecerdasan buatan dapat berisiko menghilangkan kedalaman, sistematika, serta nilai dasar budaya. AI dinilai sebatas teknologi bantu untuk mempercepat aktivitas tanpa boleh mengesampingkan spirit kebudayaan lokal.
“AI adalah alat yang bisa mempercepat proses kerja kita. Tapi kalau kita menyerahkan semuanya ke AI, itu terlalu bias, kedalamannya hilang, dan sistematikanya terlepas. Kita tetap memerlukan AI sebagai alat teknologi agar aktivitas lebih cepat dan halus, tetapi spiritnya harus tetap kita pikirkan,” ujar Prof. Rai Remawa.
Ia menambahkan, keterlibatan AI dalam arsitektur mirip dengan perumpamaan pembuatan cerita visual berbasis teknologi. AI mampu menghasilkan visualisasi yang lebih halus (smooth), namun sering kali kehilangan konsistensi spirit jika tidak dikontrol oleh cara berpikir manusia.
“AI bisa mempercepat proses kita, jadi tetap kita gunakan sebagai alat teknologi untuk membantu aktivitas kita agar bisa lebih cepat. Relevan kalau diterapkan dalam proses desain pembangunan, tapi tetap mempertahankan kebudayaan Bali,” jelasnya.
Di tengah pembangunan Bali yang kian masif belakangan ini, perhatian terhadap nilai-nilai mendasar arsitektur Bali dinilai sangat krusial. Nilai keluhuran yang dirumuskan oleh para leluhur terbukti menjadi daya tarik utama yang memikat masyarakat dunia.
Ia menekankan pentingnya mempertahankan landasan cara berpikir yang berorientasi pada kehidupan berkelanjutan melalui konsep yang ia sebut sebagai “kearifan luhur”. Penggunaan istilah ini dipilih untuk menegaskan adanya kesetaraan kedudukan budaya dan bidang ilmu Bali dengan budaya dunia lainnya.
“Saya biasanya tidak suka menyebut kearifan lokal, melainkan kearifan luhur. Sebab kalau menggunakan kata ‘lokal’, seolah tidak ada kesetaraan bidang ilmu dan budaya kita dengan yang lain. Nilai keluhuran yang dirumuskan oleh para leluhur masa lalu inilah yang menjadi daya tarik luar biasa dan terbukti dirasakan keindahannya oleh masyarakat mancanegara,” jelasnya.
Nilai-nilai kearifan luhur tersebut, lanjutnya, sangat krusial untuk menjaga kelestarian jati diri arsitektur Bali di tengah pesatnya industri pariwisata, sekaligus demi mendukung ‘Urip, Irup, Kahuripan’ (hidup dan kehidupan masyarakat).
***


