09/09/2026

Gubernur Koster Tegaskan AI Tidak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

Gubernur Koster Tegaskan AI Tidak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

Gubernur Koster Tegaskan AI Tidak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya lokal. AI harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan nilai-nilai kebudayaan dalam merancang pembangunan lingkungan binaan di masa depan.

Pesan mendasar tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) sekaligus membuka Seminar Nasional dan Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 yang berlangsung di Aula Pascasarjana Kampus Universitas Udayana, Jalan P.B. Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).

Gubernur Koster menyampaikan bahwa AI memang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah data berukuran besar, membuat prediksi, menyusun alternatif desain, hingga mengoptimalkan penggunaan energi. Kendati demikian, kemampuan teknologi mutakhir tersebut tidak secara otomatis melahirkan sebuah kebijaksanaan.

“Artificial Intelligence dapat membantu menjawab pertanyaan bagaimana, tetapi manusialah yang tetap harus menentukan untuk apa, untuk siapa, di mana, dan dengan nilai apa pembangunan itu dijalankan ke depan. Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya, melainkan harus memperkuat kecerdasan manusia dan budaya,” ujar Gubernur Koster.

Ia memaparkan bahwa kecerdasan budaya merupakan kemampuan memahami nilai, tempat, sejarah, identitas, tradisi, serta hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Tanpa sentuhan kecerdasan budaya, penerapan teknologi canggih berisiko melahirkan lingkungan binaan yang efisien secara fisik namun kehilangan makna, identitas, serta jiwa peradabannya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur mengajak seluruh peneliti dan akademisi untuk merenungkan satu pertanyaan besar mengenai arah masa depan peradaban.

“Ketika teknologi berkembang sangat cepat, lingkungan binaan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang?” tanyanya.

Koster juga mendorong para peneliti untuk membangun ekosistem data digital lingkungan binaan serta merancang AI berbasis konteks lokal. Langkah ini dinilai penting agar teknologi mampu menghadirkan solusi presisi yang menjawab kebutuhan wilayah tanpa menciptakan keseragaman.

“Dari Bali kita ingin menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghapus identitas, teknologi tidak harus menghilangkan kebudayaan, dan pembangunan tidak harus mengorbankan alam. Semakin tinggi teknologi yang kita gunakan, maka semakin tinggi pula tanggung jawab budaya dan ekologis yang harus kita miliki,” tegasnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE