Jelang Akhir Tahun, Okupansi Hotel di Ubud Tembus 90 Persen, Didominasi Pasar Asia
dua orang wisatawan yang tengah melakukan proses check in /balikonten
UBUD, BALIKONTEN.COM – Alaya Resort Ubud mencatatkan kinerja operasional positif sepanjang tahun 2026 dengan rata-rata tingkat hunian kamar (occupancy rate) mencapai 90 persen per kamar dari total 106 unit yang tersedia.
Kinerja tersebut didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan asal kawasan Asia yang mulai mendominasi peta pasar pariwisata di Ubud sejak akhir 2024.
Berdasarkan data operasional kurun waktu 1 Januari hingga 30 September 2026, akumulasi tingkat hunian keseluruhan (year-to-date) tercatat berada di angka 92 persen, sebelum memasuki puncak musim kunjungan (high season) yang mendorong tingkat keterisian harian hingga mendekati kapasitas penuh.
Chief Operating Officer (COO) Alaya Hotels & Resorts, Dewi Mas, menyampaikan bahwa struktur pasar wisatawan di propertinya mengalami pergeseran signifikan seiring kuatnya pemulihan pasar Asia pascapandemi COVID-19.
“Kinerja year-to-date kami berada di angka 92 persen, dan secara rata-rata kami berhasil mendorong tingkat hunian unit kamar yang ada hingga mencapai 90 persen. Kawasan Ubud saat ini sangat diminati pasar Asia, terutama sejak November 2024. Puncaknya terjadi tahun ini berkat pemulihan pasar Tiongkok melalui platform Ctrip, serta wisatawan Korea, Jepang, dan Australia lewat jaringan Expedia dan Booking.com,” kata Dewi Mas, Rabu (7/10/2026).
Peta demografi tamu di Alaya Resort Ubud saat ini didominasi oleh wisatawan Asia (termasuk domestik) sebesar 45 persen, disusul pasar Eropa sebesar 30 persen, serta sisanya berasal dari kawasan Amerika dan Australia.
Pertumbuhan positif ini juga mendorong ekspansi portofolio Alaya Hotels & Resorts dari tiga properti menjadi lima properti pada tahun 2026, termasuk pengoperasian Alaya Suites Ubud pada Februari lalu.
Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, manajemen Alaya Resort Ubud konsisten menerapkan kebijakan pemanfaatan 100 persen tenaga kerja Indonesia tanpa melibatkan ekspatriat. Kebijakan ini berlaku di seluruh jenjang organisasi, mulai dari level eksekutif hingga operasional lapangan.
Dewi Mas menegaskan bahwa keberhasilan operasional perusahaan dibuktikan melalui kapasitas talenta lokal yang memiliki daya saing tinggi di industri hospitality internasional.
“Kami menggunakan 100 persen tenaga kerja Indonesia karena Alaya percaya pada potensi local talent. Dari posisi Chief Operating Officer hingga level operasional, tidak ada tenaga kerja asing. Warga lokal ber-KTP Bali menjadi prioritas, dan warga Desa Adat Padang Tegal mendapat perhatian khusus sesuai kesepakatan kemitraan lingkungan,” tegas Dewi Mas.
Guna mendukung inklusivitas dan keragaman iklim kerja, manajemen mulai membuka kesempatan karier bagi tenaga kerja non-Hindu serta dari luar Bali pada beberapa divisi strategis seperti Sales & Marketing serta keamanan (safety & security). Langkah ini diambil untuk memperkuat kapabilitas operasional perusahaan dalam menyambut pertumbuhan pasar global yang kian heterogen.
***
