Lama Tak Memiliki Keturunan, Tangkil ke Pura Ini Astungkara Mendapatkan Keturunan
Pura Luhur Catur Kandapat Sari - Pangideran Dewata Nawa Sanga, Peguyangan, Denpasar/ denpasarkota/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Bali memiliki kekayaan tradisi keagamaan yang melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya. Pulau yang dikenal dengan julukan Pulau Seribu Pura ini menyimpan beragam tempat suci dengan sejarah, fungsi, dan kepercayaan yang berkembang dari generasi ke generasi.
Keberadaan pura dapat ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari pekarangan rumah melalui sanggah atau merajan hingga kawasan desa adat. Dalam tatanan kehidupan masyarakat Hindu Bali, terdapat pula Pura Desa atau Penataran, Pura Puseh, dan Pura Dalem yang menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat setempat.
Setiap pura memiliki keunikan tersendiri. Ada yang menjadi pusat persembahyangan, tempat pelaksanaan upacara keagamaan, lokasi melukat, hingga tempat umat menyampaikan permohonan tertentu sesuai dengan tradisi yang diwariskan oleh leluhur.
Di Kabupaten Badung, Bali, terdapat sejumlah pura yang dikenal sebagai tempat memohon keturunan atau nunas sentana. Kepercayaan ini berkembang di tengah masyarakat dan berkaitan dengan kisah-kisah suci, keberadaan mata air, simbol keagamaan, serta pengalaman spiritual yang diyakini oleh umat.
Bagi pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, tempat-tempat suci tersebut menjadi tujuan untuk bersembahyang dan memohon anugerah. Berikut delapan pura di Badung yang dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai tempat memohon keturunan.
1. Pura Pemade Batan Kepuh di Tibubeneng
Pura Pemade Batan Kepuh berada di Banjar Tandeg, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Keberadaan pura ini berkaitan erat dengan warisan leluhur masyarakat setempat dan lingkungan alam yang menaunginya.
Sesuai namanya, pura tersebut berada di bawah pohon kepuh. Di kawasan yang sama terdapat Pura Batan Bingin, yang terletak di bawah pohon beringin. Meski sama-sama memiliki keterkaitan dengan pohon besar, kedua pura tersebut mempunyai kepercayaan dan fungsi yang berbeda dalam tradisi masyarakat.
Pura Pemade Batan Kepuh dikenal sebagai tempat bagi pasangan suami istri yang ingin memohon keturunan. Mereka datang untuk bersembahyang dengan membawa harapan agar memperoleh anugerah anak setelah menjalani berbagai upaya.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, permohonan disampaikan dengan hati yang tulus dan niat yang suci. Tradisi ini mencerminkan hubungan spiritual umat dengan tempat suci yang diwariskan oleh para leluhur.
Bagi masyarakat yang meyakininya, persembahyangan di Pura Pemade Batan Kepuh menjadi bagian dari ikhtiar batin dalam menantikan kehadiran buah hati.
2. Pura Kereban Langit, Tempat Memohon Keturunan di Sading
Pura Kereban Langit terletak di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pura ini memiliki karakteristik yang berbeda dari kebanyakan tempat suci karena berada di dalam sebuah goa.
Keunikan goa tersebut terlihat dari lubang pada bagian langit-langitnya yang berdiameter sekitar dua meter. Di dalamnya terdapat tirta atau air suci yang digunakan dalam tradisi spiritual masyarakat, termasuk oleh umat yang datang untuk memohon keturunan.
Nama Pura Kereban Langit juga berkaitan dengan kisah yang hidup dalam tradisi setempat. Salah satu cerita yang dikenal masyarakat adalah kisah kelahiran raja kembar buncing Sri Masula dan Sri Masuli.
Dalam kisah tersebut, sang permaisuri diceritakan memperoleh kehamilan setelah mendapatkan anugerah Tirtha Salaka yang berada di dalam goa. Cerita ini menjadi bagian dari latar kepercayaan yang membuat Pura Kereban Langit dikenal sebagai tempat memohon keturunan.
Hingga kini, pura tersebut menjadi tujuan umat Hindu yang ingin nunas sentana. Mereka datang untuk bersembahyang dan memohon anugerah melalui tradisi yang telah dikenal masyarakat secara turun-temurun.
Kisah Sri Masula dan Sri Masuli memberikan nilai tersendiri bagi keberadaan pura ini. Selain menjadi tempat persembahyangan, Pura Kereban Langit juga menyimpan narasi budaya yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Bali.
3. Pura Dalem Dasar, Tempat Memohon Anak Laki-Laki
Pura Dalem Dasar memiliki kaitan dengan sejarah Kerajaan Mengwi, kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Badung. Hubungan dengan sejarah kerajaan tersebut menjadi salah satu bagian dari latar belakang keberadaan pura ini.
Dalam kepercayaan masyarakat, Pura Dalem Dasar dikenal sebagai tempat untuk memohon anugerah keturunan, khususnya anak laki-laki atau anak lanang dalam istilah Bali.
Pasangan suami istri yang memiliki harapan untuk memperoleh anak laki-laki dapat datang untuk menyampaikan permohonan melalui persembahyangan. Tradisi ini mencerminkan bentuk pengharapan yang berkembang dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.
Kepercayaan terhadap fungsi khusus suatu pura umumnya berkaitan dengan cerita yang diwariskan oleh leluhur dan pengalaman umat yang meyakininya. Pura Dalem Dasar menjadi salah satu tempat suci di Badung yang memiliki makna demikian bagi sebagian masyarakat.
Bagi umat Hindu yang berkunjung, persembahyangan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menyampaikan harapan dalam kehidupan keluarga.
4. Pura Wulakan di Desa Adat Mengwi
Pura Wulakan berada di Banjar Alengkajeng, Desa Adat Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pura ini merupakan bagian dari kawasan Pura Dang Kahyangan Taman Sari Mengwi dan mempunyai fungsi penting dalam tradisi penyucian secara spiritual.
Dalam pelaksanaan piodalan, Pura Wulakan digunakan sebagai tempat pesucian yang berkaitan dengan pemujaan Ida Bhatara oleh keturunan Ida Bhatara Dang Hyang Nirartha dan Ida Bhatara Dang Hyang Dwijendra, sebagaimana dikenal dalam tradisi setempat.
Seiring perkembangan praktik keagamaan masyarakat, pura ini juga dikenal sebagai tempat melukat. Umat Hindu datang untuk menjalani prosesi penyucian diri, memohon kesehatan, serta menyampaikan permohonan spiritual lainnya.
Salah satu ciri khas Pura Wulakan adalah sumber air sucinya. Tirta yang digunakan dalam prosesi pengelukatan berasal dari wulakan atau mata air yang berada di bawah pohon beringin berusia ratusan tahun.
Keberadaan mata air tersebut menambah nilai sakral kawasan pura. Bagi umat yang meyakininya, air suci menjadi bagian penting dalam ritual penyucian diri dan persembahyangan.
Pura Wulakan juga dikenal sebagai tempat memohon keturunan. Sejumlah pasangan suami istri datang untuk melukat dan bersembahyang dengan harapan memperoleh anugerah anak. Masyarakat setempat menuturkan adanya pasangan yang setelah berkunjung kemudian memperoleh keturunan, meskipun pengalaman tersebut tidak dapat dijadikan jaminan hasil yang sama bagi setiap orang.
Prosesi melukat di Pura Wulakan dapat dilakukan dengan membawa banten pejati alit sebagai sarana upacara. Pengelukatan berlangsung di jaba sisi atau bagian terluar kawasan pura.
Setelah menyelesaikan prosesi tersebut, umat dapat melanjutkan persembahyangan di Pura Taman Sari yang terletak di bagian atas Pura Wulakan.
Rangkaian ritual ini memperlihatkan keterkaitan antara tradisi penyucian diri, penghormatan terhadap tempat suci, dan harapan umat dalam menjalani kehidupan.
5. Pura Geger Dalem Pemutih di Kuta Selatan
Pura Geger Dalem Pemutih terletak di Desa Peminge, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Pura ini termasuk salah satu Pura Dang Kahyangan yang berada di atas tebing karang dengan pemandangan laut dan Pantai Geger.
Lokasinya yang menghadap kawasan pesisir menghadirkan suasana alam yang khas. Dari area pura, pengunjung dapat menyaksikan bentang laut serta keindahan Pantai Geger yang berada di bawahnya.
Keberadaan Pura Geger Dalem Pemutih juga berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra. Dalam kisah yang dikenal masyarakat, tokoh spiritual tersebut pernah beristirahat di kawasan ini ketika menjalani perjalanan sucinya.
Di sekitar pura terdapat beji yang berlokasi di kawasan Pantai Geger. Tempat tersebut berada di antara batu-batu karang dan digunakan sebagai lokasi melukat atau menjalani ritual penyucian diri.
Salah satu unsur penting yang terdapat di kawasan pura adalah pelinggih Lingga-Yoni. Dalam pemaknaan Hindu, Lingga dan Yoni merupakan simbol yang berkaitan dengan Purusa dan Pradana, dua prinsip yang memiliki makna dalam pemahaman kosmologi Hindu.
Simbol tersebut juga dikaitkan oleh masyarakat dengan permohonan keturunan. Karena itu, Pura Geger Dalem Pemutih menjadi salah satu tempat yang didatangi umat untuk nunas sentana melalui persembahyangan dan tradisi keagamaan.
Perpaduan sejarah spiritual, simbol keagamaan, dan keberadaan beji menjadikan pura ini memiliki kedudukan tersendiri dalam kehidupan religius masyarakat Badung.
6. Pura Kepuh Kembar di Desa Kapal
Pura Kepuh Kembar berada di Banjar Belulang, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Nama pura ini merujuk pada keberadaan dua pohon kepuh yang tumbuh berpasangan di kawasan tempat suci tersebut.
Kedua pohon itu menjadi ciri khas lingkungan pura dan turut membentuk identitasnya di tengah masyarakat. Kawasan ini juga dikenal memiliki nuansa sakral yang kuat dalam kepercayaan setempat.
Pura Kepuh Kembar mempunyai kaitan dengan perjalanan dua tokoh ksatria, yakni Ida Dalem Putih Jimbaran dan Ida Dalem Solo. Hubungan tersebut membuat pura ini dikenal pula dengan nama Pura Dalem Solo.
Kisah yang diwariskan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam memahami keberadaan pura. Seperti tempat suci lainnya di Bali, sejarah dan tradisi lisan turut membentuk makna spiritual yang melekat pada kawasan tersebut.
Selain mempunyai hubungan dengan cerita leluhur, Pura Kepuh Kembar dikenal sebagai tempat memohon keturunan. Masyarakat setempat menyebut pura ini sebagai tempat yang bares, istilah Bali yang menggambarkan kemurahan dalam memberikan anugerah menurut kepercayaan masyarakat.
Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak datang untuk bersembahyang dan memohon anugerah keturunan. Menurut penuturan warga, terdapat pasangan yang meyakini permohonan mereka memperoleh jawaban setelah bersembahyang di tempat ini.
Kepercayaan tersebut menjadikan Pura Kepuh Kembar sebagai salah satu tujuan spiritual bagi umat Hindu yang sedang mengharapkan kehadiran buah hati. Nilai yang terkandung di dalamnya juga memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur tetap hidup melalui praktik keagamaan masyarakat.
7. Pura di Kawasan Badung sebagai Bagian dari Tradisi Nunas Sentana
Keberadaan pura-pura yang dipercaya sebagai tempat memohon keturunan menunjukkan beragamnya tradisi spiritual masyarakat Bali. Setiap tempat suci mempunyai latar belakang yang berbeda, mulai dari kisah tokoh suci, sejarah kerajaan, keberadaan mata air, hingga simbol-simbol yang memiliki makna keagamaan.
Istilah nunas sentana merujuk pada permohonan untuk memperoleh keturunan. Dalam praktiknya, umat Hindu dapat menjalani persembahyangan sesuai dengan tradisi yang berlaku di masing-masing pura.
Bagi pasangan yang menjalani tradisi ini, kunjungan ke pura menjadi bagian dari upaya batin untuk menyampaikan harapan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaannya dapat melibatkan persembahyangan, sarana upacara, maupun prosesi melukat apabila memang menjadi bagian dari tata cara yang berlaku di tempat tersebut.
Tata cara persembahyangan tidak selalu sama di setiap pura. Umat yang ingin berkunjung sebaiknya mengikuti arahan pengempon atau pengelola pura, menghormati aturan kawasan suci, serta menyiapkan sarana upacara sesuai dengan ketentuan setempat.
Penghormatan terhadap adat dan tata tertib pura menjadi bagian penting dalam menjaga kesucian tempat ibadah. Sikap tersebut juga membantu pengunjung memahami bahwa setiap pura mempunyai aturan, sejarah, dan tradisi yang perlu dihargai.
8. Memahami Kepercayaan tentang Pura untuk Memohon Keturunan
Kepercayaan terhadap pura sebagai tempat memohon keturunan merupakan bagian dari kehidupan spiritual sebagian masyarakat Hindu Bali. Kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat memberi latar budaya bagi pasangan yang datang untuk bersembahyang dan menyampaikan permohonan.
Pengalaman yang diceritakan oleh warga atau umat menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cerita tersebut mempunyai nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat yang mempercayainya.
Meski demikian, keyakinan spiritual perlu dipahami sesuai dengan kedudukannya. Tidak ada dasar untuk memastikan bahwa persembahyangan atau melukat di pura tertentu akan menyebabkan seseorang memperoleh keturunan. Pengalaman setiap pasangan dapat berbeda, dan cerita keberhasilan yang beredar di masyarakat tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara medis.
Pasangan yang sedang menjalani program kehamilan dapat tetap menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing sambil berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami kesulitan memperoleh keturunan. Kedua pendekatan tersebut memiliki ruang dan tujuan yang berbeda dalam mendampingi perjalanan pasangan.
Menjaga Tradisi dan Menghormati Kesakralan Pura
Pura di Badung yang dikenal sebagai tempat memohon keturunan menyimpan kisah, simbol, dan tradisi yang menjadi bagian dari warisan budaya Bali. Pura Pemade Batan Kepuh, Pura Kereban Langit, Pura Dalem Dasar, Pura Wulakan, Pura Geger Dalem Pemutih, dan Pura Kepuh Kembar merupakan beberapa tempat suci yang memiliki kaitan dengan kepercayaan tersebut.
Setiap pura mempunyai karakteristik dan latar sejarah yang berbeda. Ada yang dikenal melalui cerita kerajaan, kisah tokoh spiritual, sumber air suci, maupun simbol keagamaan yang dimaknai sebagai sarana memohon anugerah.
Bagi umat yang ingin mengunjunginya, pemahaman terhadap tradisi setempat menjadi bekal penting sebelum menjalani persembahyangan. Mengikuti tata cara yang berlaku, menjaga kesopanan, dan menghormati kesucian kawasan pura merupakan bentuk penghargaan terhadap warisan spiritual masyarakat Bali.
Tradisi nunas sentana pun tetap menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat yang memandang doa sebagai sarana menyampaikan harapan, termasuk harapan untuk memperoleh keturunan dan membangun keluarga.
***
