Berani Ragu, Sulit Ditipu

Berani Ragu, Sulit Ditipu/ balikonten
Anak Agung Aditya Adnyana – Fak. PAH. UNHI-Denpasar
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Derasnya arus informasi digital, membuat masyarakat Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berbagai bentuk penipuan daring, hoaks, manipulasi informasi, hingga investasi bodong berkembang dengan memanfaatkan kecepatan distribusi informasi dan rendahnya budaya verifikasi.
Beberapa survei literasi digital dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih rentan terhadap misinformasi karena cenderung mempercayai informasi yang diterima tanpa proses pengecekan yang memadai.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan semata-mata kurangnya informasi, melainkan kurangnya sikap kritis dalam menerima informasi. Menurut perspektif psikologi, manusia memiliki kecenderungan menggunakan cognitive shortcut atau jalan pintas berpikir untuk menghemat energi mental.
Akibatnya, informasi yang sesuai dengan keyakinan, emosi, atau identitas kelompok sering diterima begitu saja tanpa diuji kebenarannya. Kondisi ini diperparah oleh budaya media sosial yang mendorong respons cepat dibandingkan refleksi mendalam.
Tidak jarang seseorang membagikan informasi, memberikan komentar sarkastik, bahkan menghakimi pihak lain hanya berdasarkan potongan informasi yang belum tentu benar. Konsep samsaya dalam filsafat Hindu menemukan relevansinya. Samsaya sering diterjemahkan sebagai keraguan, tetapi keraguan yang dimaksud bukanlah sikap pesimis atau ketidakpercayaan yang berlebihan.
Samsaya merupakan kondisi intelektual yang mendorong seseorang untuk berhenti sejenak, mempertanyakan, dan menguji suatu informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran. Keraguan menjadi mekanisme psikologis yang sehat untuk mencegah manusia terjebak dalam kesimpulan prematur. Paradigma psikologi agama, keraguan merupakan bagian penting dari proses pencarian makna.
Individu yang mampu mempertahankan sikap bertanya cenderung memiliki kemampuan berpikir reflektif yang lebih baik dibandingkan mereka yang menerima segala sesuatu secara dogmatis. Dalam filsafat Hindu, samsaya bukan tujuan akhir, melainkan tahap awal menuju pramā atau pengetahuan yang benar. Keraguan melahirkan keingintahuan (jijñāsā), kemudian mendorong penggunaan pramāṇa, yaitu sarana memperoleh kebenaran melalui pengamatan langsung (pratyakṣa), penalaran logis (anumāna), dan kesaksian otoritatif (śabda).
Budaya media sosial dewasa ini justru menunjukkan gejala sebaliknya. Sarkasme, komentar impulsif, dan penghakiman instan sering kali muncul sebelum proses verifikasi dilakukan. Akibatnya, ruang digital menjadi arena reproduksi prasangka dan disinformasi. Dalam situasi seperti ini, samsaya perlu dipahami sebagai etika intelektual sekaligus keterampilan hidup. Keraguan yang sehat mengajarkan manusia untuk tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menolak; tidak mudah terprovokasi, tetapi juga tidak pasif terhadap informasi.
Pada akhirnya, masyarakat yang mampu memelihara samsaya secara proporsional akan lebih tahan terhadap penipuan, propaganda, dan manipulasi informasi. Keraguan bukanlah tanda kelemahan berpikir, melainkan bukti bahwa akal masih bekerja. Di era ketika informasi dapat diproduksi oleh siapa saja dan disebarkan dalam hitungan detik, kemampuan untuk meragukan secara bijaksana mungkin merupakan bentuk kecerdasan yang paling dibutuhkan.
Sebab, sering kali kebenaran tidak ditemukan oleh mereka yang paling cepat percaya, melainkan oleh mereka yang berani bertanya sebelum memutuskan untuk percaya.
***
