05/11/2026

Mengenal Penyakit Epilepsi, Gejala dan Cara Pengobatannya

Mengenal Penyakit Epilepsi, Gejala dan Cara Pengobatannya

Mengenal Penyakit Epilepsi, Gejala dan Cara Pengobatannya/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM –

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Epilepsi atau disebut ayan merupakan salah satu penyakit saraf kronik yang ditandai dengan kejang berulang. Pada kasus epilepsi, kejang terjadi ketika impuls listrik tersebut dihasilkan secara berlebihan, sehingga menyebabkan perilaku atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Apa itu Epilepsi?

Bagi Sebagian Masyarakat awam, epilepsi disebut sebagai penyakit kutukan bahkan dikaitkan dengan kondisi mistis. Faktanya, Epilepsi adalah salah satu penyakit pada sistem saraf yang bersifat kronis (jangka panjang), ditandai dengan kejang berulang akibat adanya gangguan pada sel otak.

Dilansir dari Halodoc.com, Epilepsi bisa menyerang seseorang ketika terjadinya kerusakan atau perubahan di dalam otak. Di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Apabila terjadi kerusakan saraf, inilah yang mengakibatkan seseorang kejang berulang.

Faktanya, tidak semua orang yang kejang mengidap epilepsi. Diagnose epilepsi ditegakkan apabila seseorang mengalami 2 kali atau lebih kejang tanpa adanya pemicu yang pasti.

Gejala Epilepsi

Kejang berulang merupakan gejala utama epilepsi. Karakteristik kejang akan bervariasi dan bergantung pada bagian otak yang terganggu pertama kali serta seberapa jauh gangguan tersebut terjadi.

Menurut Dr. dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A, Sp.Neuro (K), spesialis anak konsultan neurologi, dalam pemaparan materi saat memberikan Seminar Kesehatan bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” di Kuta, Badung, Sabtu (11/4) disebutkan bahwa terdapat wajah epilepsi yang beragam.

Tidak semua kejang berupa kelojotan atau mulut berbusa. Ada beberapa spektrum yang harus diperhatikan, diantaranya yang pertama, Kejang Absans (Bengong): anak tampak seperti melamun, tatapan kosong, berfokus pada satu titik, dan kehilangan kesadaran sesaat. Kedua, Kejang Parsial/Fokal: gangguan listrik hanya di bagian otak. Gejalanya berupa kedutan pada satu sisi wajah, tangan atau sensasi aneh, terkadang anak masih setengah sadar.

Ketiga, Kejang Umum (menyeluruh): kejang ini melibatkan seluruh otak. Tubuh seketika kaku, kelojotan berulang, jatuh tanpa kendali hingga mengompol.

Epilepsi disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Sebagian besar penyebab terjadinya epilepsi masih dalam penelitian, tetapi diduga terkait dengan sejumlah faktor berikut, seperti akibat adanya infeksi radang otak atau selaput otak, adanya kerusakan jaringan otak (missal: trauma lahir, cedera kepala berat, store atau tumor), riwayat epilepsi dalam keluarga (kelainan bawaan atau mutasi gen tertentu), infeksi saat kehamilan sehingga janin mengalami kerusakan otak. Namun demikian, 50% kasus epilepsy diseluruh dunia belum dapat diketahui penyebab aslinya.

Pengobatan

Pengobatan epilepsi bertujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul. Metode pengobatannya dapat dilakukan dalam berbagai cara, mulai dari pemberian obat-obatan, terapi, diet, hingga operasi.

Namun ada penderita epilepsi yang masuk dalam kategori resisten obat (Epilepsi Kebal Obat) kondisi di mana penderita epilepsi ini tidak cukup hanya diberikan obat saja. Ada strategi lanjutan yang dirancang khusus untuk memodifikasi, menenangkan, atau mengisolasi badai Listrik di otak sang penderita.

  1. Terapi diet

Terapi Diet yang dimaksud Adalah Diet ketogenik, pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat yang bertujuan untuk mengubah lemak menjadi sumber energi utama tubuh.

Selain itu, diet indeks glikemik rendah juga dianjurkan untuk orang yang mengalami epilepsi karena terbukti mampu mengurangi kekambuhan kejang pada sebagian penderita epilepsi.

  1. Neuromodulasi

Terapi medis inovatif yang memodifikasi aktivitas sistem saraf pusat, perifer, atau otonom menggunakan metode elektrik, magnetik, atau kimia. Teknik ini bertujuan merangsang, menghambat, atau mengatur sinyal saraf untuk mengatasi nyeri kronis, gangguan pergerakan, dan penyakit neurologis.

  1. Bedah Epilepsi

Ketika penderita epilepsi kebal obat, maka dokter akan mempertimbangkan prosedur operasi apabila pengobatan anti kejang tidak dapat mengendalikan kejang, atau bahkan kejang bertambah parah. Tujuan operasi adalah untuk mengangkat bagian kecil otak yang menjadi sumber kejang, dengan syarat area tersebut tidak memengaruhi fungsi vital, seperti berbicara atau bergerak.

  1. Terapi Musik

Terapi musik, khususnya mendengarkan musik klasik seperti Mozart Sonata for Two Pianos in D Major (K.448), terbukti efektif sebagai terapi pendamping non-farmakologis untuk mengurangi frekuensi kejang dan pelepasan epileptiform pada pasien epilepsi.

Demikian informasi tentang penyakit Epilepsi.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026