Meninjau Tren “Kalengisasi” Gebogan, Antara Estetika Seni dan Etika Persembahan
Meninjau Tren Kalengisasi Gebogan, Antara Estetika Seni dan Etika Persembahan/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sebagian besar mungkin sudah mengenal yang namanya Gebogan atau Pajegan. Adalah sesajen atau banten khas hindu di Bali yang dirangkai menyerupai sebuah gunung.
Gebogan ini merupakan lambang atas rasa syukur dari umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Isi dari gebogan pun beragam mulai dari buah dan juga jajan Bali.
Namun ada fenomena menarik belakangan ini, tampilan gebogan dalam ritual keagamaan Hindu di Bali kian variatif. Fenomena penggunaan minuman kaleng, makanan kemasan, hingga minuman beralkohol yang ditata sedemikian rupa—atau yang sering disebut dengan istilah “kalengisasi”—mulai menjadi tren.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: layakkah gaya persembahan seperti ini dipertahankan?
Menanggapi fenomena tersebut, Sulinggih Ida Rsi Bhagawan Smerthi Kusuma Wijaya Sebali memberikan pandangan mendalam dari sudut pandang sastra dan etika agama.
Menurut beliau, meskipun gebogan merupakan wujud rasa syukur atas berkah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, terdapat pakem-pakem suci yang tidak boleh dikesampingkan hanya demi mengejar estetika atau tampilan visual semata.
Ida Rsi menekankan bahwa esensi dari sebuah banten atau persembahan adalah mengembalikan hasil alam kepada penciptanya. Berdasarkan tuntunan dalam Lontar Yadnya Prakerti dan Lontar Kusuma Dewa, komponen utama persembahan seharusnya terdiri dari unsur yang suci, bersih, dan alami, yang meliputi: Patram (daun-daunan), Phalam (buah-buahan),bPuspam (bunga), Toyam (air), dan Gandham (dupa/wewangian).
“Estetika seni jangan sampai menabrak etika. Penggunaan minuman kaleng atau produk turunan yang menghasilkan sampah plastik, bahkan minuman keras, sebaiknya dikurangi,” ungkap Ida Rsi.
Lebih lanjut, Ida Rsi menjelaskan bahwa persembahan harus berlandaskan konsep Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keharmonisan/keindahan). Menurutnya, persembahan yang berlebihan pada unsur kemasan pabrik justru menjauhkan nilai kesucian dari tempat suci itu sendiri.
Meskipun Tuhan tidak pernah meminta atau menolak apa pun yang dipersembahkan dengan rasa syukur, kualitas persembahan tetap menjadi poin penting. Ida Rsi mengingatkan agar umat mengejar kualitas Satwika (persembahan yang tulus dan sesuai sastra), bukan justru terjebak dalam sifat Rajasik (pamer/kemewahan) atau Tamasik (kurang pemahaman).
Sebagai solusi, Ida Rsi mengajak umat untuk kembali melestarikan pajegan bunga atau buah yang murni menggunakan hasil alam. Hal ini tidak hanya menjaga kesucian ritual, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi lokal melalui prinsip “dari kita, oleh kita, untuk kita.”
“Mari kita kurangi hal-hal yang bersifat merusak lingkungan seperti sampah plastik. Mari kita kedepankan keikhlasan yang tulus, bukan rasa pamer. Dengan kembali ke alam, persembahan kita akan memberikan kedamaian bagi semua,” tutupnya.
***
