Bukan Sekadar Mantenin Mobil-Motor, Inilah Makna Sejati Tumpek Landep sebagai Penajaman Pikiran
Bukan Sekadar Mantenin Mobil-Motor, Inilah Makna Sejati Tumpek Landep sebagai Penajaman Pikiran/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Suci Tumpek Landep sering kali diidentikkan oleh masyarakat luas sebagai hari untuk mengupacarai kendaraan bermotor atau benda logam lainnya. Namun, benarkah esensinya hanya sebatas itu?
Penyuluh Agama Kemenag Kabupaten Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag. M.Pd.H., menegaskan bahwa Tumpek Landep memiliki makna yang jauh lebih mendalam, yakni sebagai momentum penguatan diri melalui penajaman pikiran (Landeping Idep).
Merujuk pada kitab Sarasamuscaya sloka 79, Kadek Satria menjelaskan bahwa pikiran (Manas) adalah unsur penentu. Segala ucapan dan perbuatan manusia bermuara dari apa yang ada di dalam pikiran.
“Kesalahan perbuatan, perkataan, dan pikiran adalah satu kesatuan. Namun, pikiranlah yang paling utama kita buat baik, agar perkataan dan perbuatan ikut menjadi baik,” ungkapnya. Inilah yang menjadi dasar mengapa Tumpek Landep menjadi hari yang sangat penting untuk memohon kesucian pikiran.
Satria menambahkan, sebelum Tumpek Landep, umat melaksanakan Hari Suci Saraswati yang diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan suci. Pengetahuan ini dimohonkan kekuatan terhadap ‘sarana’nya berupa pikiran kehadapan guru (Pagerwesi, hari guru menurut hindu).
Setelah memperoleh anugerah guru,maka umat memperoleh ketajaman dalam hal berfikir, maka disini guru kemudian disebut dengan Gunathita yang artinya orang yang telah mampu mengatasi Tri Guna dalam dirinya. Selanjutnya adalah Rupawarjitha yang artinya orang yang telah memahami ketuhanan yang tak berwujud atau sudah mampu memperoleh penerangan fikiran.
“Setelah memperoleh anugerah dari gurulah kita akan memperoleh ketajaman pikiran yang kemudian kita peringat pada saat Tumpek Landep,” ujarnya.
Siapa yang Dipuja saat Tumpek Landep?
Berdasarkan kutipan Lontar Sundarigama, pada hari Saniscara Kliwon Wuku Landep, umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan yang menganugerahkan kasih dan kekuatan, prabhawan Ida sebagai Sang Hyang Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai raja alam semesta yang memberikan kekuatan atau “pasupati” pada benda-benda tajam, termasuk menajamkan pikiran manusia.
Meluruskan Fenomena “Mantenin” Kendaraan
Satu fenomena yang sering salah kaprah adalah fokus umat yang berlebihan dalam melakukan pemujaan di depan mobil atau motor. Kadek Satria mengingatkan bahwa menurut teks suci, pemujaan seharusnya dilakukan merajan (tempat suci keluarga).
“Selama ini, pemujaan di hadapan mobil atau motor adalah kurang tepat. Seharusnya pemujaan dilakukan di Sanggah. Kendaraan hanyalah hasil dari ketajaman pikiran manusia (teknologi). Jika pikiran tidak tajam dan bijaksana, teknologi tersebut justru bisa menimbulkan masalah,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa jika tujuannya adalah memohon kesejahteraan atas benda-benda mewah penyerta hidup, maka waktu yang lebih tepat sebenarnya adalah pada Hari Suci Tumpek Kuningan.
Di akhir penjelasannya, Kadek Satria mengajak umat untuk merefleksikan Tumpek Landep sebagai sarana menjadi manusia yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual.
“Banyak orang pintar yang tahu kebenaran, tetapi perilakunya menyimpang. Dengan Tumpek Landep, kita memohon agar pikiran kita tajam untuk mengurai permasalahan hidup dengan budaya laku yang baik,” tutupnya.
Melalui momentum Tumpek Landep ini, diharapkan umat Hindu dapat meraih Landeping Idep—pikiran yang tajam untuk memerangi kebodohan (Avidya) dan mencapai kesidian dalam hidup.
***
