Dinas Kesehatan Tegaskan Nihil Kasus Zika di Bali, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada
Dinas Kesehatan Tegaskan Nihil Kasus Zika di Bali, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Bali memastikan hingga saat ini belum menemukan satu pun kasus terkonfirmasi virus Zika di wilayahnya. Penegasan ini dikeluarkan untuk menanggapi peringatan Travel Health Notice Level 2 yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat terkait potensi peningkatan kasus Zika di Pulau Dewata.
Meski demikian, pihak berwenang mengapresiasi peringatan sistem dini global tersebut dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi serta penguatan respons kesehatan di daerah.
“Berdasarkan data surveilans rutin dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta rumah sakit se-Bali, sampai saat ini belum ditemukan adanya kasus terkonfirmasi Zika di Provinsi Bali,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes. dalam keterangan resminya, Senin (24/8).
Penyakit virus Zika sendiri ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti—vektor yang sama yang menyebarkan Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, Zika umumnya memicu gejala yang lebih ringan, seperti ruam, demam, mata merah, nyeri otot dan sendi, badan lemas, hingga sakit kepala. Gejala ini biasanya muncul dalam kurun 3–14 hari masa inkubasi dan berlangsung selama 4–7 hari.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Bali mengimbau seluruh masyarakat serta wisatawan domestik maupun mancanegara untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
“Fokus utama pencegahan adalah melaksanakan gerakan 3M Plus—menguras, menutup, mendaur ulang, serta menggunakan losion antinyamuk, kelambu, atau obat nyamuk lainnya. Apabila ada yang mengalami gejala-gejala tersebut, kami minta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” imbau dr. Anom.
Secara proaktif, Kementerian Kesehatan RI bersama Dinkes Provinsi Bali kini tengah memperkuat sistem deteksi dini dan meningkatkan kewaspadaan di seluruh faskes. Langkah ini mencakup penguatan kapasitas pemeriksaan PCR dan serologi melalui jejaring laboratorium surveilans (Surveilabs), pengetatan pengawasan di pintu masuk negara (Health Quarantine bandara dan pelabuhan), hingga pemantauan intensif gejala demam, ruam, dan nyeri sendi di puskesmas maupun rumah sakit.
***

