09/09/2026

Jejak Tongkat di Ketinggian 2.854 MDPL, Harapan untuk Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Agung

Jejak Tongkat di Ketinggian 2.854 MDPL, Harapan untuk Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Agung

Jejak Tongkat di Ketinggian 2.854 MDPL, Harapan untuk Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Agung/ balikonten

KARANGASEM — Di tengah hutan Gunung Agung yang dingin, berkabut, dan terjal, sebuah tongkat yang ditemukan di ketinggian 2.854 meter di atas permukaan laut (mdpl) kini menjadi salah satu petunjuk paling berharga bagi tim SAR.

Tongkat itu bukan sekadar benda yang tertinggal di jalur pendakian. Di baliknya ada harapan: jejak keberadaan dua pendaki yang hingga kini belum diketahui nasibnya.

Mereka adalah Piqri Zaenal Abidin (20) dan Lorenzo Regiraldo Tawang (23). Keduanya dilaporkan tersesat ketika turun dari Gunung Agung, setelah melakukan pendakian melalui jalur Pos Pura Pasar Agung, Kecamatan Selat, Karangasem, sejak Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 02.00 Wita.

Perjalanan yang semula menjadi pengalaman mendaki gunung berubah menjadi situasi yang mengundang kecemasan.

Sekitar pukul 17.30 Wita, keduanya diperkirakan kehilangan arah di kawasan hutan. Sejak saat itu, keberadaan mereka belum diketahui. Upaya menghubungi keduanya pun belum mendapatkan jawaban.

Waktu terus berjalan.

Bagi orang yang berada di luar gunung, angka 2.800 mdpl mungkin hanya terdengar seperti ketinggian. Namun bagi tim pencari, angka tersebut menggambarkan medan yang harus mereka hadapi: jalur terjal, kawasan hutan, udara dingin, serta cuaca yang sewaktu-waktu berubah.

Di tempat seperti itu, satu jejak kaki, sebuah benda yang tertinggal, atau suara sekecil apa pun bisa menjadi petunjuk penting.

Karena itu, ketika tongkat salah satu pendaki ditemukan di sekitar ketinggian 2.854 mdpl, temuan tersebut menjadi secercah harapan sekaligus petunjuk arah bagi tim SAR.

Laporan mengenai dua pendaki tersebut diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada Rabu (9/9/2026) pukul 08.25 Wita. Tidak lama kemudian, enam personel Rescue Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem bergerak menuju lokasi.

Sekitar pukul 10.00 Wita, tim tiba di area parkir Pasar Agung. Koordinasi dilakukan bersama unsur SAR gabungan sebelum pencarian diperluas.

Tim kemudian membagi kekuatan menjadi beberapa Search and Rescue Unit (SRU). Strategi itu dilakukan agar kawasan pencarian dapat disisir dari arah berbeda.

SRU 1 yang terdiri dari 10 personel bergerak menyusuri jalur pendakian menuju bagian atas Gunung Agung. Selang beberapa menit kemudian, SRU 2 dengan kekuatan 10 personel bergerak dari kawasan Embung Telung Buana menuju arah atas.

Mereka datang dengan satu tujuan yang sama: menemukan Piqri dan Lorenzo.

Di balik operasi tersebut, ada pula orang-orang yang menunggu kabar. Rekan kedua pendaki turut terlibat dalam proses pencarian. Setiap perkembangan di lapangan menjadi informasi yang dinanti, sementara belum adanya komunikasi dengan kedua pendaki membuat pencarian terasa semakin mendebarkan.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat, gunung yang sebelumnya mungkin hanya menjadi tempat petualangan kini berubah menjadi ruang penuh tanda tanya.

Apakah keduanya masih berada di sekitar lokasi terakhir diketahui? Apakah mereka menemukan tempat berlindung? Apakah mereka masih mampu bertahan menghadapi dinginnya malam dan kondisi hutan?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban.

Tim SAR pun harus bekerja dalam situasi yang tidak mudah. Cuaca di lokasi pencarian dilaporkan berawan dengan hujan ringan. Medan Gunung Agung yang terjal dan dipenuhi kawasan hutan membuat pencarian membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Keselamatan para pencari juga tidak boleh diabaikan. Sebab dalam operasi SAR, upaya menyelamatkan korban harus berjalan beriringan dengan memastikan setiap personel dapat kembali dengan selamat.

Operasi ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem, BPBD Karangasem, Babinsa Desa Sebudi, Bhabinkamtibmas Desa Sebudi, Polsek Selat, Damkar Karangasem, Puskesmas Selat dengan satu unit ambulans, pemandu KUPS lokal Pasar Agung, serta rekan korban.

Mereka menyatukan tenaga dan informasi untuk satu pencarian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar I Nyoman Sidakarya memastikan pencarian akan terus dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang terlibat.

Di Gunung Agung, pencarian bukan hanya soal menyisir koordinat demi koordinat. Ini adalah upaya mengejar waktu, membaca setiap tanda alam, dan mempertahankan harapan.

Sebuah tongkat di ketinggian 2.854 mdpl telah menjadi salah satu tanda bahwa jejak kedua pendaki pernah berada di sana.

Kini tim SAR terus bergerak mengikuti setiap kemungkinan.

Sementara di bawah sana, ada orang-orang yang menunggu satu kabar sederhana—kabar bahwa Piqri dan Lorenzo ditemukan dalam keadaan selamat.

Sebab bagi mereka yang menunggu, pencarian belum berakhir selama harapan masih ada.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE