10/09/2026

Inovasi Putra Tabanan: Mesin ‘Somya’ Ikut Unjuk Gigi Olah Sampah Organik di Areal PKB

Inovasi Putra Tabanan Mesin 'Somya' Ikut Unjuk Gigi Olah Sampah Organik di Areal PKB

Kepala Marketing Somya, I Putu Arya Wiguna/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini mendapatkan dukungan nyata dalam hal pengelolaan lingkungan. Sebuah mesin pengolah sampah organik menjadi pupuk bernama “Somya” mulai dipasang di areal PKB, sebagai upaya menekan volume sampah yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung.

Kepala Marketing Somya, I Putu Arya Wiguna, mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi ini merupakan bentuk kontribusi langsung terhadap kebersihan dan keberlanjutan event budaya terbesar di Bali tersebut.

“Kami support kegiatan ini dengan cara mengolah sampah organik yang ada di sini. Walaupun kapasitasnya terbatas, sekitar 100 kilogram per hari karena mesin yang kami siapkan saat ini hanya satu unit yang ready,” ujar Arya saat ditemui di lokasi pemasangan mesin.

Di tengah gempuran teknologi pengolahan sampah impor, Somya hadir sebagai pembuktian inovasi lokal. Mesin ini merupakan murni karya putra daerah asal Kabupaten Tabanan yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan sampah di tingkat komunitas. Saat ini, pihak manajemen tengah melengkapi legalitas dan standardisasi produk agar bisa bersaing secara nasional.

“Sekarang kami sedang mengurus TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan juga proses paten. Harapannya nanti menjadi produk karya anak bangsa yang diproduksi di Indonesia,” jelas Arya bangga.

Salah satu tipe andalan yang diperkenalkan memiliki kapasitas pengolahan hingga 50 kilogram sampah organik per hari dengan dibanderol harga sekitar Rp150 juta. Spesifikasi ini dinilai sangat ideal untuk diterapkan pada skala komunal kecil, seperti lingkungan Banjar atau kelompok pemukiman yang terdiri dari sekitar 50 Kepala Keluarga (KK).

Arya menjelaskan, angka 50 kilogram tersebut diambil berdasarkan asumsi rata-rata produksi sampah organik harian rumah tangga.

“Asumsi kita setiap KK dalam satu hari menghasilkan sampah organik basah sebanyak satu kilo, baik itu sisa makanan, sisa sayuran, daging, tulang, dan yang lainnya. Jadi 50 KK akan ada sampah 50 kilo dimasukkan ke dalam mesin ini,” paparnya.

Keunggulan utama dari mesin Somya terletak pada kecepatan proses dan tingkat reduksi sampah yang sangat tinggi. Hanya dalam hitungan jam, sampah basah bisa disulap menjadi pupuk organik siap pakai dengan volume yang menyusut drastis.

“Kalau 50 kilogram sampah organik dimasukkan ke mesin ini, dalam waktu sekitar delapan jam hingga maksimal 16 jam sudah menjadi kompos. Penyusutannya bisa mencapai 90 sampai 95 persen. Jadi dari 50 kilogram sampah, hasil akhirnya sekitar 5 kilogram kompos atau bahkan di bawah itu,” urai Arya mengenai efisiensi mesinnya.

Dari segi operasional, mesin berkapasitas 50 kilogram ini juga dirancang ramah untuk listrik rumah tangga karena menggunakan daya listrik satu fase. Pada tarikan awal saat dinyalakan, mesin membutuhkan daya sekitar 3.000 watt. Namun, saat berada dalam kondisi operasional normal, konsumsi listriknya stabil di sekitar 16 ampere.

“Kalau dihitung biaya listriknya, kurang lebih sekitar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per hari,” pungkasnya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE