Orangnya Selalu Mujur dan Rendah Hati, Ini Ramalan Lahir Buda Pon Wuku Bala
ilustrasi menggendong bayi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kelahiran Buda Pon Wuku Bala memiliki gambaran watak tersendiri dalam tradisi pawukon Bali. Perhitungan ini menggabungkan unsur Sapta Wara, Panca Wara, dan wuku yang menjadi bagian dari sistem penanggalan tradisional Bali. Dalam praktik budaya Bali, penentuan hari kelahiran juga berkaitan dengan pelaksanaan otonan yang berulang menurut siklus pawukon.
Buda Pon merupakan pertemuan antara Buda atau Rabu dalam Sapta Wara dengan Pon dalam Panca Wara. Ketika kombinasi tersebut berada pada Wuku Bala, muncul rangkaian hari yang dalam sumber-sumber tradisional digunakan untuk membaca karakter seseorang berdasarkan kelahirannya.
Karakter kelahiran Buda Pon Wuku Bala
Sumber kalender Bali mencatat sejumlah sifat yang dikaitkan dengan kelahiran Buda Pon Bala. Orang yang lahir pada kombinasi ini digambarkan memiliki kecakapan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan, rajin, tekun, serta mampu memegang prinsip. Sikap sopan santun juga menjadi bagian dari gambaran karakternya.
Dalam sejumlah catatan pawukon, unsur Buda dikaitkan dengan pikiran yang bersih, perilaku susila, dan kebiasaan menabung. Sementara Pon menggambarkan pribadi yang senang bersenda gurau dan mudah mencari teman. Perpaduan kedua wewaran tersebut kemudian dibaca bersama pengaruh Wuku Bala.
Wuku Bala sendiri dalam sumber kalender Bali dikaitkan dengan Dewa Durga. Catatan tersebut menggambarkan sosok yang cerdas, memiliki pengaruh melalui perintahnya, mempunyai kedudukan yang cukup baik, serta memiliki pergaulan yang baik. Sisi lain yang juga dicatat adalah kecenderungan angkuh apabila sejak masa kanak-kanak kurang mendapatkan pengawasan dan kecenderungan membuat keributan.
Rezeki dan pekerjaan
Dalam perhitungan tradisional, kelahiran Buda Pon Bala dikaitkan dengan sifat tekun dalam bekerja. Sumber kalender Bali menyebut orang dengan kombinasi ini mampu mengerjakan berbagai jenis pekerjaan dan memiliki ketekunan dalam menyelesaikan tugas.
Gambaran mengenai rezekinya juga disebut baik. Sejumlah sumber pawukon menggambarkan kemampuan untuk mencapai kehidupan yang berkecukupan dalam waktu relatif singkat. Catatan tersebut merupakan bagian dari tafsir tradisional terhadap karakter kelahiran berdasarkan pawukon.
Pada sisi lain, terdapat pula catatan mengenai kecenderungan malas yang dapat muncul pada waktu tertentu. Sumber yang sama menyebut adanya kecenderungan memperlihatkan kekayaan atau kepandaian serta menyukai pujian.
Sifat dalam pergaulan
Kelahiran Buda Pon Wuku Bala dalam sejumlah sumber digambarkan memiliki kemampuan bergaul dan mudah mendapatkan teman. Sopan santun serta perilaku yang dianggap pantas menjadi bagian dari gambaran karakter tersebut. Ada pula catatan yang menyebut pribadi kelahiran ini cenderung mempertimbangkan keadaan orang lain.
Unsur Pon juga memiliki kaitan dengan sifat senang mencari teman dan bersenda gurau. Sementara pengaruh Buda memberikan gambaran mengenai perilaku yang sopan dan pikiran yang bersih dalam perhitungan wewaran.
Karakter lain yang tercatat adalah kepekaan perasaan. Sumber mengenai Buda Pon Bala menyebut orang dengan kelahiran tersebut mudah tersinggung. Kecenderungan menyukai pujian dan memperlihatkan kemampuan atau kepemilikan juga muncul dalam beberapa catatan pawukon.
Kecenderungan terhadap ketenangan
Perhitungan kelahiran Buda Pon Bala juga memberikan gambaran mengenai kecenderungan untuk tidak terlalu sering bepergian jauh. Dalam sumber yang memuat watak kelahiran ini, terdapat keterangan mengenai kesenangan untuk berada dalam kesendirian serta keinginan melakukan penyepian atau bertapa.
Gambaran tersebut menjadi bagian dari tafsir tradisional terhadap kombinasi hari dan wuku. Dalam konteks pawukon, karakter kelahiran memang dibaca melalui sejumlah unsur kalender yang saling berkaitan.
Kedudukan Wuku Bala dalam pawukon Bali
Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa penggunaan pawukon telah dikenal sejak masa lampau dan memiliki bukti dalam berbagai prasasti serta peninggalan budaya. Prasasti Lintakan tahun 841 Saka atau 919 Masehi, misalnya, menunjukkan penggunaan pawukon sebagai dasar penentuan waktu upacara.
Pawukon juga berkaitan dengan berbagai praktik budaya, termasuk pembacaan watak kelahiran dan pelaksanaan ritual tertentu. Dalam kajian sejarah kebudayaan tersebut, konsep watak yang melekat pada seseorang sejak lahir disebut sebagai salah satu penerapan perhitungan pawukon.
Di Bali, penggunaan istilah Buda Pon Wuku Bala juga dapat ditemukan dalam dokumen resmi Desa Adat. Majelis Desa Adat Provinsi Bali memuat dokumen yang mencatat pelaksanaan paruman pada rahina Buda Pon Wuku Bala, sehingga menunjukkan bahwa kombinasi tersebut merupakan bagian dari sistem penanggalan yang digunakan dalam kehidupan adat Bali.
Otonan bagi kelahiran Buda Pon Bala
Dalam tradisi Bali, hari kelahiran berdasarkan wuku, Sapta Wara, dan Panca Wara menjadi dasar penentuan otonan. DetikBali menjelaskan bahwa otonan merupakan upacara kelahiran masyarakat Bali yang dilaksanakan berdasarkan siklus tersebut.
Dengan demikian, seseorang yang lahir pada Buda Pon Wuku Bala akan memiliki hari otonan yang kembali pada kombinasi tersebut sesuai perputaran kalender Bali. Otonan menjadi salah satu bentuk penerapan sistem penanggalan tradisional dalam kehidupan masyarakat Bali.
***