03/11/2026

Penguatan Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya Jadi Sorotan dalam Refleksi Dua Tahun Asta Cita

Penguatan Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya Jadi Sorotan dalam Refleksi Dua Tahun Asta Cita

Penguatan Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya Jadi Sorotan dalam Refleksi Dua Tahun Asta Cita/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Penguatan sektor pariwisata berkelanjutan dan berbasis budaya mengemuka sebagai fokus penting dalam refleksi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan identitas budaya nasional.

Isu strategis tersebut dibahas dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi 2 Tahun Asta Cita: Menggali Visi Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya” yang dihelat di Kayman Resto, Denpasar, Bali, Minggu (25/10/2026). Forum ini menghadirkan Direktur Lembaga Kajian dan Studi Kebijakan Publik (Lanskap) Bali I Wayan Agus Pebriana dan aktivis pemuda Hindu Bali I Kadek Nova Semadi, serta dipandu oleh Gusti Ngurah Arya Pratama Putra selaku moderator.

Diskusi ini menyoroti urgensi transisi pembangunan pariwisata agar tidak sekadar mengejar angka kunjungan, melainkan berfokus pada kualitas, keadilan distribusi ekonomi, dan pelestarian daya dukung lingkungan jangka panjang.

Paradigma pariwisata nasional dinilai perlu bergeser dari orientasi mass tourism menuju quality tourism. Tolok ukur keberhasilan destinasi kini tidak lagi ditentukan semata oleh volume wisatawan, melainkan durasi tinggal (length of stay), kedalaman pengalaman budaya, tingkat pengeluaran terhadap produk lokal, serta kontribusi riil bagi kesejahteraan warga setempat.

Direktur Lanskap Bali, I Wayan Agus Pebriana, menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan harus menjadi panglima dalam penataan destinasi ke depan.

“Pertumbuhan pariwisata nasional tidak bisa lagi diukur dari berapa banyak orang datang, tapi dari seberapa lama mereka tinggal, seberapa dalam mereka menghargai budaya, dan seberapa besar manfaatnya kembali ke masyarakat lokal. Bali lestari adalah kunci, tapi Indonesia tidak boleh hanya Bali saja,” ujar Agus.

Pendekatan tersebut menuntut standar layanan yang tinggi, jaminan keamanan, kemudahan aksesibilitas, serta penghormatan mendalam terhadap tatanan sosial budaya masyarakat setempat agar tidak menimbulkan ekses negatif terhadap lingkungan.

Tantangan pemerataan manfaat ekonomi antarwilayah turut menjadi perhatian serius. Di Bali, aktivitas ekonomi pariwisata selama ini masih terpusat di kawasan selatan, sementara daerah potensial seperti Buleleng, Karangasem, dan Bangli memerlukan strategi pengembangan yang lebih inklusif.

I Kadek Nova Semadi menilai bahwa setiap kawasan perlu mengoptimalkan karakteristik uniknya masing-masing, seperti wisata spiritual, agrowisata perkebunan, hingga ekowisata berbasis edukasi.

“Pengembangan desa wisata dan keunggulan lokal harus didukung dengan infrastruktur yang memadai, peningkatan kapasitas SDM, serta keterlibatan aktif masyarakat agar manfaat ekonomi pariwisata dirasakan secara merata,” ungkap Nova.

Pengembangan ini juga harus diiringi dengan perlindungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi lokal, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, tetapi pelaku utama dalam rantai pasok pariwisata.

Di tengah ekspansi pariwisata, para narasumber mengingatkan pentingnya mitigasi persoalan alih fungsi lahan, pelanggaran tata ruang, krisis pengelolaan sampah, dan tekanan ekologis di kawasan pesisir. Investasi di sektor pariwisata wajib berjalan selaras dengan penegakan regulasi yang ketat dan konsisten.

Selain aspek ekologi, pelestarian identitas budaya dan nilai-nilai kearifan lokal mutlak dijaga, khususnya di Bali. Penerapan filosofi Tri Hita Karana yang menyelaraskan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, dijadikan landasan moral agar ruang-ruang sakral dan tradisi leluhur tidak tergerus oleh komersialisasi berlebihan.

Refleksi dua tahun Asta Cita ini menyimpulkan bahwa masa depan pariwisata Indonesia sangat bergantung pada solidnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, desa adat, pelaku industri, akademisi, hingga segenap elemen masyarakat demi mewujudkan ekosistem pariwisata yang tangguh dan berkelanjutan.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

Tags: