09/09/2026

Dari Pesisir Manggarai Barat, Krisan Tumbuh dan Harapan Ekonomi Baru Muncul

Dari Pesisir Manggarai Barat, Krisan Tumbuh dan Harapan Ekonomi Baru Muncul

Dari Pesisir Manggarai Barat, Krisan Tumbuh dan Harapan Ekonomi Baru Muncul/ KKN Unwar. (Sumber: Gung Kris/balikonten)

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Selama ini bunga krisan seolah memiliki “rumah” sendiri: dataran tinggi dengan udara sejuk. Namun, mahasiswa Universitas Warmadewa (Unwar) justru membawa tanaman tersebut ke tempat yang jauh berbeda—kawasan pesisir Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Desa Golo Tanggar dan Desa Warloka Pesisir, tanaman yang identik dengan hawa dingin itu kini tengah menjalani fase pertumbuhan. Kehadirannya bukan sekadar untuk mempercantik lahan, tetapi menjadi bagian dari eksperimen yang berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Program tersebut digarap mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Nasional Unwar 2026 melalui pembuatan demonstrasi plot (demplot).

Tantangannya jelas. Manggarai Barat memiliki karakter wilayah yang cenderung panas dan kering, sementara krisan selama ini lebih dikenal sebagai komoditas dataran tinggi.

Namun, hasil riset dan uji coba Ir. IGB Arjana, MP, dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Unwar, menjadi pijakan mahasiswa untuk menguji kemungkinan tersebut di lapangan.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ir. I Gede Sudiarta, M.Si, mengatakan program tersebut sengaja diarahkan bukan hanya untuk menanam, tetapi menguji apakah krisan benar-benar dapat dikembangkan dalam kondisi lingkungan yang berbeda.

“Tujuannya bukan hanya sekadar menanam, melainkan membuktikan keberhasilannya secara langsung di lapangan,” ujar Sudiarta, Selasa (8/9/2026).

Menariknya, mahasiswa tidak menggunakan pola budidaya konvensional. Mereka mencoba membangun sebuah ekosistem produksi sederhana dengan menghubungkan budidaya bunga dan ikan.

Kolam lele yang berada di sekitar lahan dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pengairan tanaman. Air buangan kolam dialirkan melalui sistem irigasi tetes menuju tanaman krisan.

Bagi mahasiswa, pendekatan ini menjawab dua persoalan sekaligus: kebutuhan air tanaman dan pemanfaatan kembali air dari aktivitas perikanan.

“Air limbah budidaya tersebut kaya akan nutrisi organik yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan krisan. Melalui metode ini, efisiensi penggunaan air dan pupuk dapat dicapai secara bersamaan,” jelas Sudiarta.

Model tersebut menjadi semakin relevan karena persoalan air merupakan salah satu tantangan masyarakat di wilayah Manggarai Barat saat musim kemarau.

Alih-alih membiarkan air kolam terbuang, mahasiswa mencoba mengembalikannya ke dalam siklus produksi.

Hasil awalnya pun cukup menggembirakan.

Koordinator Desa KKN Warloka Pesisir, Faransisco Mario Namu, mengaku sempat tidak menyangka tanaman krisan dapat menunjukkan pertumbuhan yang begitu baik di kawasan pesisir.

Pengalaman Faransisco saat menjalani magang di kebun krisan Bedugul membuatnya memiliki pembanding langsung.

“Kami cukup terkejut melihat pertumbuhannya yang sangat baik. Jika dibandingkan, tanaman krisan di pesisir ini justru terlihat lebih sehat tanpa ada indikasi serangan jamur maupun bercak daun,” ungkapnya.

Sementara Koordinator Desa KKN Golo Tanggar, Eduardus Adol, melihat sistem irigasi tetes memberikan keuntungan lain bagi masyarakat. Perawatan tanaman menjadi lebih praktis karena distribusi air dapat dilakukan secara lebih terukur.

Namun, tantangan sebenarnya belum selesai.

Tanaman saat ini masih berada pada fase vegetatif. Tim KKN masih harus menunggu hingga krisan memasuki masa pembungaan untuk mengetahui apakah bunga yang dihasilkan benar-benar memenuhi standar dari sisi kualitas, warna, dan kekuatan tangkai.

Jika tahapan tersebut berhasil dilewati, cerita krisan di Manggarai Barat bisa berubah dari sekadar eksperimen mahasiswa menjadi peluang usaha masyarakat.

Pasarnya pun cukup terbuka. Krisan banyak digunakan untuk dekorasi, pernikahan, perayaan, kegiatan keagamaan hingga keperluan kedukaan.

Selama ini kebutuhan bunga potong di daerah tersebut masih berpotensi dipenuhi dari pasokan luar. Karena itu, kemampuan memproduksi krisan secara lokal dapat memangkas ketergantungan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani.

Sudiarta menilai keberhasilan demplot harus diikuti langkah yang lebih panjang. Kelompok tani di kedua desa perlu mendapatkan pendampingan teknis dan dukungan akses pasar agar budidaya tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN.

“Kegiatan ini merupakan tahap awal melalui demonstrasi plot. Untuk mengembangkannya menjadi skala usaha yang produktif, diperlukan pembinaan teknis secara berkelanjutan serta dukungan akses pasar,” tegasnya.

Dari pesisir Manggarai Barat, sebuah eksperimen sederhana kini sedang diuji. Bukan hanya apakah krisan mampu bertahan di tengah panas, tetapi juga apakah bunga tersebut mampu tumbuh menjadi komoditas ekonomi baru bagi masyarakat NTT.

Jika berhasil, bukan tidak mungkin suatu hari nanti bunga krisan yang dibutuhkan masyarakat Manggarai Barat tidak lagi harus didatangkan dari luar daerah. Cukup dipanen dari kebun-kebun milik warga sendiri—dengan air kolam lele yang ikut menghidupi prosesnya.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE