Setia di Jalur Pop, Tika Pagraky Utamakan Lirik yang ‘Relate’ dengan Pendengar
Tika Pagraky/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di tengah gempuran tren musik koplo yang tengah menjamur, Penyanyi pop Bali, Tika Pagraky, tetap berdiri tegak di jalur pop.
Sebagai bukti keseriusannya menjaga eksistensi tanpa harus mengekor pada tren, Tika resmi meluncurkan tiga lagu terbaru yang mempertegas jati dirinya sebagai musisi pop.
Ketiga karya tersebut hadir dengan warna cerita yang berbeda-beda, namun tetap konsisten dalam balutan aransemen pop yang selama ini membesarkan namanya.
Bagi Tika, menjaga eksistensi bukan berarti mengikuti tren secara buta, melainkan memperkuat fondasi karya melalui tema lagu yang kuat. Ia percaya bahwa lirik yang “relate” dengan pengalaman pendengar adalah kunci utama sebuah lagu digemari.
“Bagi saya tetap mengutamakan ke lirik dulu. Karena itu yang
bikin orang tertarik untuk mendengar. Orang-orang tentu ada yang merasa lirik tersebut ‘ngena’ dengan keadaannya. Itu yang bikin orang suka,” ungkap Tika.
Eksplorasi Tika kali ini tertuang dalam tiga single yang memiliki karakteristik unik. “Jaga Hati” mengisahkan tentang keteguhan komitmen pasangan dalam menjaga kepercayaan meski terpisah jarak atau Long Distance Relationship (LDR).
“Ngobral Janji” membawa pesan menohok bahwa cinta membutuhkan pembuktian nyata, bukan sekadar janji manis atau terjebak dalam Hubungan Tanpa Status (HTS).
Sedang “Bli Made” mengangkat tema yang sangat dekat dengan anak muda, yakni sesi “curhat” yang berakhir menjadi jalinan asmara antara teman. Istimewanya, lagu ini dibawakan secara duet bersama Wira Krisna.
Meski mengakui turut menikmati musik koplo sebagai pendengar, Tika menegaskan belum ada rencana untuk merambah ke genre tersebut. Baginya, dikenal sebagai penyanyi pop adalah kebanggaan yang ingin terus ia pertahankan secara profesional.
“Untuk koplo, membuat lagu atau menyanyikan belum ada. Kalau sekedar menikmati atau mendengarkan lagu koplo, pernah, ” ujarnya.
Dengan peluncuran tiga single ini, Tika membuktikan bahwa konsistensi dan kemampuan menangkap realitas sosial ke dalam lirik lagu tetap menjadi senjata ampuh untuk bertahan di industri musik Bali.
***


