Berbeda Itu Berpikir
ilustrasi/ balikonten
oleh: Anak Agung Aditya Adnyana
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Manusia lahir membawa satu tanda tanpa plagiasi, yakni sidik jari. Delapan miliar manusia, delapan miliar pola yang tak pernah sama, bahkan pada kembar identik sekalipun. Alam seolah sudah memutuskan sejak awal, bahwa keseragaman bukan takdir manusia. Ironisnya, hampir seluruh sisa hidup manusia dihabiskan untuk melawan keputusan itu.
Ki Hajar Dewantara menyebut tiga ruang tumbuh manusia; keluarga, sekolah, dan masyarakat, Tri Pusat Pendidikan. Setiap orang melewati tiga ruang itu dengan komposisi yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh dari meja makan yang ramai diskusi, ada yang dari rumah yang sunyi. Ada yang belajar dari pasar, ada yang dari perpustakaan. Ruang tumbuh kita tidak pernah identik. Tetapi anehnya, ketiga ruang tersebut dituntut, satu hal yang sama, jadilah seperti yang kami inginkan.
Pabrik Keseragaman
Di sekolah, keberhasilan diukur dari seberapa mirip jawaban murid dengan kunci jawaban guru. Paulo Freire menyebutnya pendidikan gaya bank, murid diperlakukan sebagai wadah kosong yang perlu diisi. Guru menyetor, murid menabung, dan yang diuji adalah ketepatan pengembalian, bukan keberanian bertanya. Kurikulum boleh berganti nama berkali-kali, tetapi selama ranking, nilai tunggal, dan seragamisasi, menjadi rujukan, yang berubah bukan isi, namun hanya kemasan.
Di masyarakat, mereka yang berani berpendapat berbeda dilabeli, tidak sopan, tidak tahu diri, memecah belah. Kritik dijawab bukan dengan argumen, melainkan dengan pasal. Di dunia kerja, budaya asal bapak senang masih menjadi jalan ninja menuju promosi, sementara mereka yang punya visi melalui argumentasi, dianggap pengkhianat dengan loyalitas yang basi.
Hasilnya, kehidupan nyaris tidak menyediakan ruang untuk berpikir. Orang tumbuh sesuai keinginan orang lain, lalu di usia masuk angka setengah baya, mulai bertanya kenapa hidupnya terasa hampa, karena hanya menjadi hamba.
Ketika Berhenti Berpikir Menjadi Kebiasaan
Immanuel Kant memberi pencerahan: sapere aude: beranilah berpikir dengan kepalamu sendiri. Ia menyebut kondisi sebaliknya sebagai ketidakdewasaan yang kita pilih sendiri. Pertanyaannya, mengapa kita memilihnya? Erich Fromm menjawab: karena kebebasan itu memberatkan, lebih ringan menyerahkan keputusan kepada kerumunan, daripada memikulnya sendiri.
Hannah Arendt memberi peringatan lebih keras. Setelah mengamati persidangan Adolf Eichmann, ia menyimpulkan bahwa kejahatan berskala besar tidak selalu lahir dari kebencian yang menyala-nyala, melainkan dari orang-orang biasa yang berhenti berpikir dan cukup puas menjalankan perintah. Ketidakmauan berpikir, bagi Arendt, bukan hal sepele, itu pintu masuk bencana.
Isu hari ini membuat peringatan itu terasa semakin dekat. Algoritma media sosial menyodorkan hanya apa yang disukai, menciptakan ruang, semua orang terdengar sepakat. Tren viral membentuk selera, gaya bicara, bahkan pilihan karier jutaan anak muda yang serba singkat. Ai tidak dipakai untuk memperluas cara berpikir, namun untuk menyeragamkan cara menulis dan menjawab. Kita hidup di zaman dengan akses informasi terbesar sepanjang sejarah, tetapi faktanya, keberanian berpendapat kita terjarah.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Perlu ditegaskan, berbeda bukan pemberontakan. Berbeda adalah narasi tentang kepercayaan pada nalar sendiri dan kemandirian. John Stuart Mill jauh-jauh hari mengingatkan bahwa penindasan tidak hanya datang dari penguasa, tetapi juga dari tekanan mayoritas yang memaksa semua orang hidup dengan pola yang sama.
Namun kebebasan juga tidak berarti semaunya. Ia bersyarat pada tanggung jawab. Orang yang memilih berjalan sendiri wajib menanggung konsekuensinya, mampu menjelaskan alasannya, dan siap dikoreksi. Tanpa itu, perbedaan hanya menjadi sensasi.
Persoalan, hari ini terlalu banyak orang takut berjalan sendiri karena dituduh pengkhianat. Maka mereka memilih ikut-ikutan, SDM, menjadi akronim selamatkan diri masing-masing. Praktik ini adalah cara paling sopan, untuk berjalan beriringan menuju keterjerumusan pada jurang.
Karena itu perbedaan harus dipelihara sebagai sesuatu yang otentik. Ia bukan gangguan terhadap keteraturan, melainkan bukti bahwa masih ada orang yang bersedia memikirkan kebaikan yang akan datang. Sidik jari sudah menegaskan, bahwa manusia diciptakan tidak untuk menjadi salinan. Maka beranilah berbeda, karena saat berbeda anda sedang berfikir.
***
