02/11/2026

Dari Stetoskop ke Pena, dr I Wayan Mustika Menelusuri Makna Hidup Lewat 11 Buku Spiritual

dr. I Wayan Mustika, saat diwawancarai Bali Konten, Rabu (7/10/2026). (Sumber: Gung Kris

dr. I Wayan Mustika, saat diwawancarai Bali Konten, Rabu (7/10/2026). (Sumber: Gung Kris/ balikonten)

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tidak semua pencarian tentang Tuhan dan makna kehidupan harus dimulai dari perjalanan ke tempat suci atau menyepi di tengah keheningan gunung.

Bagi dr I Wayan Mustika, dokter asal Bali yang produktif menulis buku spiritual, perjalanan mengenal kehidupan justru tumbuh dari bangku kuliah kedokteran, pertanyaan-pertanyaan batin, hingga kebiasaan sederhana dalam keseharian.

Di tengah kesibukannya menjalani profesi sebagai tenaga medis, Wayan Mustika telah menerbitkan 11 buku yang mengangkat tema spiritualitas, Ketuhanan, kesadaran diri, dan makna keberadaan manusia.

Baginya, ilmu kedokteran bukan sekadar jalan untuk memahami tubuh manusia, melainkan juga pintu untuk menyelami pertanyaan yang lebih dalam tentang siapa manusia dan untuk apa ia menjalani kehidupan.

“Sekolah kedokteran bukan hanya membuat saya memahami tubuh manusia, tetapi juga membuka jalan untuk mengenal diri sejati,” ujar Wayan Mustika, dikutip dari kanal YouTube Ngaji Roso, dikutip Jumat, (9/10/2026).

Menariknya, menjadi dokter bukanlah cita-cita awalnya. Ia semula ingin menjadi seorang insinyur. Namun, sebuah pengalaman sederhana justru mengubah arah hidupnya.

Saat mengantarkan saudaranya berobat, ia dihadapkan pada persoalan biaya. Meski dokter yang menangani masih memiliki hubungan keluarga, biaya pengobatan tetap harus dibayarkan.

“Saat itu kami harus membayar Rp50 ribu untuk biaya berobat, padahal dokternya masih saudara. Di situ saya berpikir, kenapa tidak saya sendiri saja yang jadi dokter agar bisa membantu orang lain tanpa memikirkan biaya,” kenangnya.

Dari pengalaman tersebut, tumbuh tekad untuk menekuni dunia kedokteran. Ia ingin memiliki kemampuan untuk membantu sesama, sekaligus memberikan manfaat melalui profesi yang dijalaninya.

Namun, perjalanan di fakultas kedokteran ternyata membawanya pada ruang perenungan yang lebih luas. Di balik pelajaran tentang anatomi, organ tubuh, dan kehidupan manusia secara biologis, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab melalui ilmu medis semata.

Apa tujuan manusia hidup? Siapa sebenarnya Tuhan yang disembah manusia? Dan bagaimana seseorang dapat mengenali dirinya di tengah berbagai tuntutan kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menjadi benih perjalanan spiritualnya.

Automatic Writing, Titik Balik pada 2001

Tahun 2001 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Wayan Mustika. Saat tengah bergulat dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan dan spiritualitas, ia mengalami sebuah peristiwa yang disebutnya sebagai automatic writing.

Ia mengaku awalnya hanya ingin menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang kelak akan disampaikan kepada seorang guru. Namun, proses menulis itu berkembang di luar rencana awalnya.

“Saya tulis semua pertanyaan, supaya bisa saya tanyakan ke guru. Tapi tiba-tiba saja, aliran jawaban mengalir deras tanpa saya tahu dari mana datangnya,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi awal lahirnya buku pertamanya, Dialog Spiritual 1. Sejak saat itu, menulis tidak lagi sekadar aktivitas menuangkan gagasan, tetapi menjadi medium untuk merekam perenungan dan membagikan pemahamannya kepada orang lain.

Sejumlah buku kemudian lahir dari perjalanan tersebut, di antaranya Pesan Dari Langit, Tuhan Segala Agama, Saat Semesta Bicara, hingga Grahasta Asrama, yang mengangkat tema spiritualitas dalam kehidupan pasangan muda yang baru menikah.

Melalui karya-karya itu, Wayan berusaha mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Persoalan Ketuhanan, menurut arah pemikirannya, tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang disembah, tetapi juga menyangkut bagaimana manusia memahami dirinya dan menjalani kehidupan dengan kesadaran.

Menemukan Meditasi di Tengah Aktivitas Sehari-hari

Menjalani dua peran sekaligus sebagai dokter dan penulis tentu membutuhkan waktu serta ruang tersendiri. Namun, bagi Wayan, keduanya tidak harus berjalan berlawanan.

Dunia medis memberinya pengalaman berhadapan dengan kehidupan manusia, sedangkan menulis menjadi ruang untuk mengolah pertanyaan dan perenungan yang muncul dari pengalaman tersebut.

Inspirasi pun tidak selalu datang ketika ia duduk khusus untuk menulis. Terkadang, gagasan muncul saat menyapu halaman, berjalan di tepi pantai, atau mengamati alam di sekitarnya.

“Banyak hal yang tiba-tiba saja mengalir, dan saya harus langsung mencatatnya agar tidak hilang. Menulis bagi saya bukan sekadar kegiatan, tapi proses menyatu dengan semesta. Tidak beda halnya dengan meditasi,” ujarnya.

Pandangan tersebut membuatnya memaknai meditasi secara lebih luas. Baginya, memasuki keheningan batin tidak selalu harus dilakukan dengan duduk diam dalam waktu tertentu.

Aktivitas sederhana pun dapat menjadi ruang untuk melatih kesadaran, selama seseorang benar-benar hadir dalam apa yang sedang dikerjakannya.

“Meditasi saya bukan selalu duduk diam. Kadang cukup dengan hadir sepenuhnya dalam aktivitas sederhana. Dari sana, inspirasi mengalir,” jelasnya.

Dalam pandangan ini, keseharian bukan sekadar rangkaian rutinitas yang harus diselesaikan, melainkan kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Bahkan, pekerjaan yang tampak sederhana dapat menjadi pintu masuk menuju perenungan yang lebih dalam.

Menjembatani Warisan Leluhur dan Cara Berpikir Modern

Bagi Wayan Mustika, menulis buku spiritual bukan semata-mata tentang memperbanyak karya atau menyampaikan gagasan pribadi. Ada keinginan untuk mewariskan pengetahuan dan membuka ruang bagi orang lain untuk ikut mempertanyakan, memahami, serta menemukan makna kehidupannya masing-masing.

Ia berharap manusia tidak hanya terjebak pada pencapaian yang bersifat material, tetapi juga memberi perhatian pada dimensi batin dan nilai-nilai yang diyakini membawa manfaat bagi kehidupan.

“Hidup itu perjalanan spiritual. Saya ingin orang-orang tidak hanya mengejar apa yang bersifat materi, tapi juga memahami apa yang membawa manfaat bagi ruh,” tegasnya.

Ia juga berupaya menjembatani warisan pemikiran leluhur dengan cara berpikir masyarakat modern. Baginya, pengetahuan dari masa lampau tetap memiliki ruang untuk dibicarakan pada masa kini, selama disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami dan direnungkan oleh generasi sekarang.

Dalam proses kreatifnya, Wayan mengaku merasakan kedekatan dengan alam semesta dan warisan leluhur yang menjadi sumber perenungannya.

“Alam semesta dan para leluhur saya sangat membantu. Mereka seolah membisikkan banyak jawaban kepada saya. Saya hanya perantara,” ucapnya merendah.

Terlepas dari bagaimana setiap orang memaknai pengalaman spiritual tersebut, perjalanan Wayan menunjukkan bagaimana pertanyaan personal dapat berkembang menjadi karya yang dibagikan kepada publik.

Sebelas buku yang telah diterbitkannya menjadi jejak pencarian yang masih terus berlangsung. Sebab, dalam urusan memahami kehidupan, jawaban yang ditemukan seseorang belum tentu menjadi akhir dari perjalanan.

Bagi Wayan Mustika, stetoskop membantunya menjalani profesi sebagai dokter, sementara pena memberinya ruang untuk menelusuri pertanyaan yang tak selalu dapat dijawab melalui pemeriksaan medis.

Keduanya bertemu dalam satu semangat: memahami kehidupan dan mencari cara agar pengetahuan yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi sesama.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026