Ditbinmas Kemendukbangga/BKKBN Gelar Sosialisasi dan Evaluasi GENTING, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Cegah Stunting
Ditbinmas Kemendukbangga/BKKBN Gelar Sosialisasi dan Evaluasi GENTING, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Cegah Stunting/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui Direktorat Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan menggelar Sosialisasi, Pemantauan, dan Evaluasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Semester I Tahun 2026 di Prime Plaza Hotel, Sanur, Denpasar, pada Jumat (28/8/2026). Langkah ini menjadi bagian dari Quick Win program prioritas nasional untuk mengakselerasi penurunan prevalensi stunting demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Implementasi GENTING di Bali mencatatkan progres signifikan. Hingga 20 Agustus 2026, gerakan ini telah menjangkau 7.381 dari 8.116 Keluarga Risiko Stunting (KRS) atau mencapai 90,9 persen. Secara keseluruhan, program ini melibatkan 445 mitra pentahelix dengan total penyaluran bantuan mencapai Rp526.494.015.
Capaian intervensi antarwilayah menunjukkan dinamika yang bervariasi: Badung mencatatkan capaian tertinggi hingga 333,7 persen, disusul Bangli (228,5%), Jembrana (228,4%), Buleleng (183,2%), dan Karangasem (106,6%). Sementara itu, wilayah lainnya meliputi Gianyar (65,0%), Tabanan (30,5%), Klungkung (23,2%), dan Kota Denpasar (6,7%).
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS., mengatakan GENTING merupakan gerakan gotong royong yang mempertemukan pemerintah dengan dunia usaha, BUMN/BUMD, organisasi kemasyarakatan, komunitas, akademisi, media, dan perorangan untuk memberikan intervensi sesuai dengan kebutuhan keluarga sasaran. “Pencegahan stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga merupakan investasi pembangunan manusia dan keluarga untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Sukardiasih meluruskan pemahaman publik bahwa stunting bukanlah sekadar penyakit, melainkan kondisi gangguan tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan nutrisi kronis sejak masa kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya tidak hanya fisik yang pendek, tetapi juga penurunan kualitas kecerdasan dan daya tahan tubuh yang bersifat ireversibel atau tidak bisa disembuhkan jika sudah terjadi.
Ia membeberkan bahwa faktor medis (spesifik) hanya menyumbang 30 persen penyebab stunting, sementara 70 persen sisanya didominasi oleh faktor sensitif seperti kemiskinan, kurangnya jamban sehat, hingga pola asuh yang salah di dalam keluarga.
“Apakah stunting hanya selalu pada orang miskin? Tidak. Tapi stunting ada juga pada orang kaya. Hal tersebut karena pola asuh yang salah,” ungkapnya.
Meski angka stunting di Bali tercatat sebesar 8,7 persen dan menjadi yang terendah secara nasional (rata-rata nasional 19,2 persen), Sukardiasih mengingatkan seluruh pihak agar tidak terlena. Pasalnya, angka tersebut mengalami kenaikan 1,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di posisi 7,2 persen.
“Bali angka stuntingnya 8,7%, memang paling rendah di seluruh Indonesia. Tetapi kalau kita melihat trennya tahun sebelumnya itu adalah 7,2% artinya ada kenaikan 1,5%. Oleh karena itu kami dari BKKBN terus berupaya agar di tahun ini jangan sampai naik,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya intervensi bersama pada 7.381 Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Bali, di mana saat ini baru 4,6 persen yang tersentuh bantuan nutrisi dan 1 rumah layak huni. Data penanganan ini dihimpun secara mendetail (by name by address) melalui Pendataan Keluarga tahunan, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) di lapangan.
Agenda strategis ini turut ditandai dengan penyerahan bantuan secara simbolis sebesar Rp27 juta dari Bank Mandiri Regional XI Balinusra—hasil donasi swadaya para pegawainya—untuk mendukung keluarga sasaran GENTING di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Bantuan dari sektor swasta tersebut dipastikan disalurkan langsung kepada sasaran tanpa mengendap di lembaga penerima.
Perwakilan Bank Mandiri Regional XI Balinusra, Dewa Alit Dwi Putra, menegaskan komitmen berkelanjutan korporasi dalam mendukung program percepatan ini.
“Kami sering komunikasi dengan BKKBN Bali, dan kami punya komitmen yang sama dalam meminimalisir stunting,” kata Alit. Ia menilai kontribusi yang dilakukan secara kolektif dan konsisten akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dalam menyiapkan generasi muda yang sehat.
Selain GENTING, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN kini mengusung berbagai program prioritas berbasis siklus hidup yang tidak lagi terbatas pada urusan alat kontrasepsi. Diantaranya TAMASYA (Taman Asuh Ceria), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), dan SIDAYA (Lansia Berdaya).
Ke depan, GENTING di Bali perlu diarahkan tidak sekadar sebagai gerakan pemberian bantuan, tetapi sebagai wadah kolaborasi untuk menjawab persoalan keluarga secara menyeluruh dan berbasis data. Penguatan kemitraan, pemerataan intervensi antarwilayah, serta penyesuaian bentuk bantuan dengan kebutuhan keluarga sasaran menjadi kunci agar capaian GENTING semakin merata dan berdampak nyata terhadap percepatan pencegahan stunting di Bali.
