09/09/2026

Haturkan Segehan Ini Saat Kajeng Kliwon Uwudan

Ini Banten yang Digunakan Saat Kajeng Kliwon Enyitan

ilustrasi gambar segehan oleh Kadek Yuni/ YouTube/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam siklus kalender Hindu, terdapat satu hari yang dipandang sangat keramat dan memiliki pengaruh besar bagi keseimbangan alam semesta, yakni hari suci Kajeng Kliwon.

Momentum ini hadir setiap 15 hari sekali, menandai pertemuan antara dua unsur waktu yang penting dalam sistem penanggalan Bali, yaitu Tri Wara (Kajeng) dan Panca Wara (Kliwon).

Pertemuan dua kekuatan ini menciptakan vibrasi spiritual yang sangat kuat di pulau dewata.

Eksistensi Dua Kekuatan di Hari Kajeng Kliwon

Kajeng merupakan hari prabhawa atau manifestasi dari Sang Hyang Dhurga Dewi. Dalam teologi Hindu, Kajeng sering dipandang sebagai perwujudan Ahamkara—sebuah kekuatan ego yang mewakili manifestasi Bhuta Kala dan Dhurga di muka bumi. Di sisi lain, Kliwon menjadi hari prabhawa bagi Sang Hyang Siwa. Beliau adalah simbol kekuatan Dharma dan manifestasi utama dari kekuatan Dewa yang membawa keteduhan.

Pada hari sakral ini, umat Hindu meyakini bahwa Sang Hyang Siwa melaksanakan yoga samadi demi keselamatan dan keberlangsungan dunia. Meski demikian, Kajeng Kliwon juga sering kali dipenuhi suasana mistis yang sangat disegani. Banyak umat merasakan atmosfer yang sangat sakral sekaligus menyimpan kekhawatiran karena kekuatan negatif cenderung berada pada puncaknya.

Kondisi spiritual ini menuntut setiap individu untuk melakukan penyucian diri (panglukatan). Umat diharapkan bersikap lebih waspada karena besarnya energi negatif dapat memengaruhi dinamika kehidupan manusia di bumi. Keyakinan masyarakat juga menyebutkan bahwa pada hari ini, Sang Tiga Bhucari memohon restu kepada Sang Dhurga Dewi untuk menebar bahaya, mengundang kekuatan magis negatif seperti desti, teluh, dan trang jana.

Ritual Persembahan dan Upaya Menjaga Harmoni

Untuk membentengi diri dan menjaga keseimbangan, umat Hindu memiliki kewajiban menghaturkan persembahan di berbagai tempat suci, mulai dari merajan hingga pura. Persembahan kepada Sang Hyang Siwa berupa Yadnya atau Banten yang meliputi canang sari, canang raka, serta puspa harum.

Selain itu, di depan pintu pekarangan rumah, umat menghaturkan sajian khusus kepada Sang Hyang Dhurga Dewi berupa canang wangi, burat wangi, dan canang yasa. Ritual ini disertai dengan segehan dalam berbagai jenis, seperti segehan kepelan, segehan putih kuning, hingga segehan panca warna.

Tujuan utama dari rangkaian ritual ini adalah mewujudkan keseimbangan alam Niskala. Melalui persembahan, umat berusaha mentransformasi energi alam bhuta (negatif/liar) menjadi alam Dewa (positif/suci). Berdasarkan Lontar Yadnya Prakrti, seluruh jenis upakara atau banten adalah simbol dari diri manusia sendiri, lambang kemahakuasaan Sanghyang Widhi, serta representasi dari Bhuana Agung (alam semesta).

Filosofi Segehan: Dari Nasi hingga Makna Penetralisir

Kata segehan berakar dari kata sega yang berarti nasi. Itulah sebabnya, unsur utama dalam segehan didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuk, termasuk nasi yang dikepal (kepelan). Sajian ini disajikan di atas alas taledan yang terbuat dari daun pisang atau janur. Di dalamnya terdapat lauk pauk sederhana seperti bawang merah, jahe, dan garam.

Keunikan ritual ini terletak pada penggunaan api takep yang berasal dari dua buah sabut kelapa yang disusun menyilang membentuk simbol swastika (+), sebagai pengganti dupa. Ritual ini juga dilengkapi dengan beras serta tetabuhan berupa air, tuak, arak, atau berem.

Secara harfiah, segehan berarti “suguh” atau menyuguhkan. Persembahan ini ditujukan kepada para Bhuta Kala dan Ancangan (pengiring) para Bhatara-Bhatari. Secara filosofis, kekuatan negatif tersebut merupakan akumulasi dari “limbah” atau kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Segehan berfungsi sebagai sarana menetralisir pengaruh buruk tersebut dan menjadi simbol harmonisasi hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya (Palemahan).

Jenis-Jenis Segehan dan Kekuatan Mantranya

Dalam praktiknya, terdapat beberapa jenis segehan yang umum digunakan:

  1. Segehan Kepel Putih: Merupakan bentuk paling sederhana yang biasanya dihaturkan setiap hari sebagai wujud syukur rutin.
  2. Segehan Putih Kuning: Serupa dengan segehan putih, namun salah satu bagian nasinya diganti warna kuning. Biasanya diletakkan di bawah pelinggih dengan mantra: “Om Sarwa Bhuta Preta Byo Namah”, yang berarti memohon izin kepada Tuhan untuk menyuguhkan sajian kepada Bhuta Preta.
  3. Segehan Manca Warna: Terdiri dari lima warna nasi yang ditempatkan sesuai arah mata angin: putih di timur, merah di selatan, kuning di barat, hitam di utara, dan warna campuran (brumbun) di tengah. Persembahan ini biasanya ditempatkan di halaman rumah (natar) atau pintu masuk pekarangan (lebuh). Mantranya berbunyi: “Om Sarwa Dhurga Preta Byo Namah”.

Setiap segehan wajib diiringi dengan ritual tetabuhan (menuangkan cairan) mengelilingi sajian tersebut sambil mengucapkan doa: “Om ebek Segar, ebek Danu, ebek Bayu, Premananing Hulun”. Doa ini merupakan permohonan agar manusia diberkahi kesegaran jiwa dan batin selayaknya melimpahnya air laut dan danau.

Simbolisme Unsur Kimiawi dan Kedokteran dalam Segehan

Setiap komponen dalam segehan memiliki filosofi mendalam yang bahkan bersinggungan dengan logika ilmiah:

  • Alas Daun (Taledan): Berbentuk segi empat sebagai lambang empat arah mata angin.
  • Dua Kepal Nasi Putih: Melambangkan konsep Rwa Bhineda, yakni dua kekuatan yang saling bertolak belakang namun menjaga keseimbangan dunia.
  • Jahe: Memiliki sifat panas yang melambangkan semangat. Manusia membutuhkan semangat namun harus tetap menjaga emosi agar tidak meledak.
  • Bawang Merah: Memiliki sifat dingin. Ini adalah pesan agar manusia selalu menggunakan kepala dingin dalam bertindak, namun tetap peduli terhadap masalah sosial.
  • Garam: Memiliki pH netral. Garam dipercaya sebagai sarana paling ampuh untuk menetralisir energi negatif (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
  • Arak, Berem, dan Tuak: Mengandung alkohol yang secara ilmiah efektif membunuh kuman atau bakteri. Dalam dunia kedokteran, alkohol digunakan untuk sterilisasi alat medis.

Dengan demikian, tindakan metabuh saat menghaturkan segehan memiliki tujuan agar segala bentuk “bakteri”, virus, atau gangguan yang merugikan di sekitar lingkungan tersebut menjadi hilang atau mati. Ritual ini diakhiri dengan harapan Manggalamastu—semoga semua dalam keadaan selamat dan harmonis.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE