09/09/2026

Kelahiran Wraspati Paing Wuku Tambir dalam Penanggalan Tradisional Bali

arti mimpi melahirkan bayi kembar

ilustrasi bayi kembar/ pixel/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam tradisi Hindu Bali, kelahiran seseorang dicatat melalui sistem penanggalan lokal yang dikenal sebagai kalender Pawukon Bali. Sistem ini tidak merujuk pada kalender Masehi, melainkan pada perhitungan hari yang bersumber dari kombinasi siklus penanggalan tradisional.

Salah satu kombinasi yang dikenal luas adalah Wraspati Paing Wuku Tambir, yang digunakan untuk menandai hari kelahiran seseorang secara adat dan spiritual.

Kalender Pawukon Bali memiliki struktur yang khas dan berbeda dari kalender modern. Sistem ini terdiri atas beberapa siklus utama, yakni Sapta Wara atau siklus tujuh hari, Panca Wara atau siklus lima pasaran, serta 30 wuku yang membentuk satu putaran penuh selama 210 hari.

Setiap individu yang lahir dalam masyarakat Bali memiliki identitas kelahiran berdasarkan pertemuan ketiga unsur tersebut.

Dalam penanggalan ini, Wraspati merujuk pada hari Kamis dalam siklus Sapta Wara. Paing merupakan salah satu pasaran dalam siklus Panca Wara. Sementara itu, Wuku Tambir adalah salah satu dari 30 wuku dalam kalender Pawukon yang memiliki karakter dan nilai simbolik tersendiri dalam tradisi Bali.

Ketiga unsur ini membentuk weton Wraspati Paing Wuku Tambir, yang kemudian menjadi dasar penghitungan hari otonan atau peringatan kelahiran menurut adat Bali.

Bagi masyarakat Hindu Bali, kelahiran pada Wraspati Paing Wuku Tambir memiliki peran penting dalam kehidupan adat dan keagamaan. Weton ini menjadi acuan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan upacara otonan. Otonan diperingati setiap 210 hari sekali, mengikuti siklus kalender Pawukon, dan dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilalui.

Pada hari otonan yang jatuh pada Wraspati Paing Wuku Tambir, keluarga biasanya melaksanakan persembahyangan di sanggah atau pura keluarga. Dalam beberapa kasus, upacara juga dilakukan di pura desa sesuai dengan tradisi setempat.

Rangkaian ritual ini dipimpin oleh pemangku adat dan menjadi bagian dari praktik spiritual yang terus dijaga secara turun-temurun.

Penanggalan Wraspati Paing Wuku Tambir memiliki nilai budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali. Sistem weton tidak hanya digunakan untuk menandai hari kelahiran, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan hari baik untuk upacara adat, kegiatan keagamaan, serta berbagai keputusan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pengetahuan mengenai weton dianggap sebagai bagian dari pemahaman awal terhadap perjalanan hidup seseorang menurut tradisi Bali.

Meski tidak digunakan dalam sistem kalender internasional, kalender Pawukon Bali tetap hidup dan dijalankan hingga kini. Keberadaan penanda kelahiran seperti Wraspati Paing Wuku Tambir menunjukkan kekayaan warisan budaya Bali yang terus dilestarikan, sekaligus mencerminkan hubungan erat antara waktu, tradisi, dan kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE