10/09/2026

Mengapa Pendidikan Perlu Berpikir Radikal?

Mengapa Pendidikan Perlu Berpikir Radikal

oleh: Anak Agung Aditya Adnyana dari SMA Negeri 2 Denpasar

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Selama ini, kita sering mengagungkan kata holistik dalam dunia pendidikan. Konsep yang melihat anak secara utuh menyeluruh dari aspek kognitif, emosi, hingga sosial memang terdengar indah di atas kertas.

Namun, sebagai pendidik, kita harus berani bersikap kritis. Kelemahan terbesar dari pendekatan holistik adalah kecenderungannya yang hanya menyentuh permukaan.

Ia sibuk merangkai banyak hal di luar, tetapi sering kali gagal mengubah apa yang ada di dalam. Pendidikan holistik seperti menata taman yang luas, tampak indah dari jauh, namun akar-akar masalahnya tetap tidak tersentuh.

Holistik membutuhkan komparasi perspektif radikal. Radikal bukan berarti kekerasan, melainkan kembali ke akar (radix). Berbeda dengan holistik yang melebar, pendekatan radikal bergerak menghujam ke dalam. Radikal tidak sekadar bertanya apa yang harus dipelajari?, melainkan mengapa kita belajar? dan siapa diri kita yang sedang belajar ini?

Pendekatan radikal membongkar sekat-sekat formalitas dan tuntutan semu dalam sistem sekolah. Ketika pendidikan berani berpikir radikal, ia tidak lagi sibuk mengejar nilai atau pengakuan luar.

Efek terdalamnya adalah lahirnya kesadaran penuh (mindfulness). Pendidik dan siswa diajak untuk benar-benar hadir, sadar akan potensinya, dan memahami esensi kemanusiaan.

Kesadaran penuh ini tidak bisa dicapai jika kita hanya berputar-putar di permukaan luar seperti yang dilakukan pendekatan holistik. Memperluas pandangan itu baik, tetapi mendalami jiwa jauh lebih utama.

Pendidikan yang menyeluruh memang menyelamatkan penampilan luar, tetapi pendidikan yang radikal menyelamatkan masa depan manusia dari kedalaman berpikir.

Dualisme Holistik-Radikal, Mana yang Benar-Benar Mengubah Pendidikan?

Dalam dunia pendidikan, dua kata ini sering terdengar seperti solusi ajaib: holistik dan radikal. Keduanya terdengar meyakinkan. Tapi apakah keduanya benar-benar membawa perubahan yang sama dalamnya?

Holistik terlihat indah di atas kertas. Holistik bicara tentang keseimbangan akademis, emosional, sosial, spiritual. Guru diajak melihat murid bukan sekadar angka rapor. Kurikulum dirancang agar manusiawi. Semua terdengar benar.

Kendalanya pendekatan holistik terlalu sering berhenti di permukaan. terbatas merapikan tampilan pendidikan tanpa menyentuh fondasinya. Ibarat mengecat ulang rumah yang pondasinya retak hasilnya cantik, tapi masalahnya tetap ada. Guru masih terjebak mengejar target. Murid masih belajar untuk ujian, bukan untuk hidup. Sistem tetap berjalan seperti mesin. Yang berubah hanya kemasannya.

Pendekatan radikal bermain di level yang berbeda. Paradigma ini tidak sekadar mempercantik cara mengajar, lebih kepada mempertanyakan mengapa kita mengajar dengan cara itu sejak awal. Radikal menggali sampai ke akar, siapa yang berkuasa dalam ruang kelas? Pengetahuan siapa yang dianggap sah? Apakah pendidikan ini membebaskan, atau justru mengekang?

Ketika seorang pendidik berpikir radikal, mereka tidak hanya mengubah metode, namun mengubah dirinya sendiri. Perubahan tersebut terdampak pada murid. Murid bukan lagi objek yang diisi pengetahuan, melainkan subjek yang diajak berpikir, merasakan, dan sadar akan dirinya sendiri.

Perspektif ini disebut mindfulness sejati. Dalam pendidikan bukan sekadar latihan napas di kelas, tapi kesadaran penuh bahwa belajar adalah tindakan membebaskan diri.

Pendekatan holistik mengajak kita melihat lebih luas. Pendekatan radikal mengajak kita menggali lebih dalam. Keduanya tidak harus bertentangan, tapi kita perlu jujur: selama pendidikan hanya diperhalus tanpa dipertanyakan, ia akan terus melahirkan generasi yang terdidik secara formal, namun tidak sungguh-sungguh merdeka dalam berpikir. Perubahan sejati dimulai bukan dari kurikulum baru melainkan dari keberanian untuk membongkar yang lama.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE