09/09/2026

Peringatan Tumpek Klurut: Ketua PHDI Bali Ingatkan Makna Kasih Sayang Universal dan Penyatuan Diri dengan Sang Pencipta

tumpek krulut memiliki makna sebagai hari kasih sayang inilah asalannya

ilustrasi gambar umat Hindu sedang menunggu antrian untuk sembahyang di Pura Tanah Lot, Tabanan/ ignartonosbg/ Pixabay/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali kembali merayakan Hari Raya Tumpek Klurut, sebuah momentum sakral yang dikenal sebagai hari pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara. Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, S.H., mengajak seluruh umat untuk memaknai hari ini sebagai hari kasih sayang universal yang mencakup aspek spiritual, sosial, dan lingkungan.

Nyoman Kenak menekankan bahwa dalam tradisi Hindu, kasih sayang memiliki dimensi yang luas, tidak terbatas hanya pada hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan vertikal dengan pencipta dan hubungan horizontal dengan alam semesta.

Pemujaan Dewa Iswara: Sumber Kasih Sayang
Merujuk pada sastra suci Lontar Sundarigama, Nyoman Kenak menjelaskan bahwa Tumpek Klurut adalah hari suci untuk melakukan pemujaan ke hadapan Dewa Iswara. Beliau merupakan penguasa aspek suara dan keindahan yang mampu melembutkan hati manusia melalui harmoni.

“Kasih sayang itu akarnya ada pada penyatuan diri dengan Sang Pencipta. Berdasarkan petunjuk Sundarigama, kita menghaturkan upakara kepada Dewa Iswara untuk memohon tuntunan agar hati kita senantiasa dipenuhi keteduhan. Inilah bentuk kasih sayang kita kepada Tuhan, dengan cara menjaga hubungan spiritual yang intim,” ujar Nyoman Kenak di Denpasar (2/1).

Kasih Sayang Terhadap Lingkungan dan Sesama
Lebih lanjut, Ketua PHDI Bali ini menggarisbawahi bahwa implementasi nyata dari perayaan Tumpek Klurut adalah mewujudkan kasih sayang di dunia nyata.

“Kasih sayang itu bukan hanya sesama manusia. Nilai luhur kita mengajarkan bahwa kasih sayang harus meliputi lingkungan sekitar. Merawat alam, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak merusak ekosistem adalah bentuk nyata dari perayaan ini,” tegasnya.

Ia menambahkan sebuah narasi kuat mengenai keseimbangan hidup:

“Kasih sayang adalah kekuatan universal. Ia bermula dari bakti kita kepada Sang Pencipta lewat upakara kepada Dewa Iswara, lalu terpancar melalui kepedulian kepada sesama manusia, dan bermuara pada kesadaran untuk mencintai lingkungan tempat kita berpijak.”

Membangun Harmoni Lewat Seni dan Suara
Secara tradisi, Tumpek Klurut juga berkaitan dengan penyucian alat-alat kesenian (gamelan). Nyoman Kenak mengingatkan bahwa suara gamelan yang harmonis adalah simbol dari kerukunan.

“Gamelan terdiri dari berbagai nada yang berbeda, namun jika dipukul dengan rasa kasih dan harmoni, ia menghasilkan melodi yang indah. Begitulah seharusnya kehidupan umat manusia; meski berbeda-beda, jika diikat dengan rasa kasih sayang, akan tercipta kedamaian jagat,” imbuhnya.

Imbauan kepada Umat

Menutup pernyataannya, Nyoman Kenak mengimbau umat Hindu untuk merayakan Tumpek Klurut dengan penuh kesederhanaan namun sarat akan makna. Ia berharap momentum ini dapat mempererat tali persaudaraan (Menyama Baya) dan memperkuat komitmen masyarakat Bali dalam menjaga kelestarian alam lingkungan.

“Mari kita jadikan hari ini sebagai titik balik untuk lebih peduli. Sayangi keluarga, sayangi tetangga, dan jangan lupa sayangi alam Bali yang telah memberi kita kehidupan,” pungkas Nyoman Kenak.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE