Profil Lolot Band yang Sudah Rilis 11 Album Selama 24 Tahun Berkarya
Lolot Band/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sejak peluncuran album debut bertajuk Gumine Mangkin pada tahun 2002, eksistensi Lolot langsung mencuri perhatian publik. Kehadiran mereka membawa warna baru yang segera mendapat sambutan antusias dari para pencinta musik di Bali. Dominasi mereka di industri musik lokal menjadi sinyal kuat bangkitnya genre rock berbahasa Bali ke permukaan.
Langkah besar mereka tercatat dalam sejarah pada tahun 2005. Kala itu, formasi Lolot diperkuat oleh Made Bawa pada vokal, Deny sebagai penabuh drum, Lanang di posisi bas, dan Doni yang mengisi departemen gitar. Grup ini berhasil mendobrak batasan regional dengan menembus level nasional. Prestasi gemilang diraih melalui penghargaan SCTV Music Awards dalam kategori jalur indie. Hingga saat ini, mereka tetap menjadi satu-satunya band berbahasa daerah Bali yang mampu membawa pulang trofi dari ajang bergengsi tersebut.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Setelah sukses merilis lima album, Lolot sempat memutuskan untuk hiatus selama kurang lebih satu tahun. Masa vakum ini diiringi oleh berbagai spekulasi dan kabar burung yang tidak menentu. Pihak produser saat itu menyatakan bahwa Made Bawa mengalami kelelahan, meski banyak asumsi lain yang berkembang liar di tengah masyarakat.
Selama masa jeda tersebut, para personel tetap menyalurkan kreativitas melalui proyek pribadi. Doni, Lanang, dan Deny menggandeng Bobby, mantan vokalis Double T, untuk membentuk grup Rockavatar. Di sisi lain, Lanang memilih jalur solo dengan mendirikan Mr. Botax, sementara Deny kemudian bergabung dengan grup Dialog Dini Hari. Tak ketinggalan, Doni juga sempat menginisiasi pembentukan band bernama Marco.
Kabar mengenai kembalinya unit rock ini mulai terdengar pada tahun 2009. Spekulasi para penggemar terjawab tuntas melalui peluncuran album bertajuk Pejalan Hidup. Momen ini menjadi tonggak kembalinya Lolot ke kancah musik sekaligus memperkenalkan Hendra sebagai anggota baru. Sejak saat itu, Hendra resmi menjadi personel tetap yang memperkuat formasi band.
Lolot kembali mencatatkan prestasi monumental pada tahun 2014. Mereka membuktikan daya tariknya dengan menggelar peluncuran album di Hard Rock Cafe Bali. Pencapaian ini sangat istimewa karena mereka menjadi band berbahasa Bali pertama yang mengadakan acara di lokasi tersebut, lengkap dengan seremoni pemajangan gitar khas sebagai bentuk apresiasi terhadap karya mereka.
11 album Lolot
Gumine Mangkin (2003) dengan toral 9 lagu,
Bali Rock Alternatif (2004) dengan total 10 lagu,
Meong Garong (2005) dengan 10 lagu,
The Best of Lolo (2006) memuat 11 lagu,
Saling Caplok (2007) dengan total 10 lagu,
Pejalan Hidup (2009) memuat 13 lagu,
Nyujuh Langit (2014) memuat 15 lagu,
Manusa Raksasa (2017) memuat 13 lagu,
Semeton Bali (2019) memuat 9 lagu,
Bali Metangi (2022) memuat 8 lagu,
Tajir Melintir (2026) memuat 6 lagu.

