10/09/2026

Puri Mengwi Kembali Menggelar Upacara Sakral Abhiseka Cokorda Setelah 79 Tahun

Profil Anak Agung Gde Agung penglingsir puri mengwi

Anak Agung Gde Agung/ instagram/ balikonten

BADUNG, BALIKONTEN.COM – Setelah vakum selama hampir delapan dekade, Puri Ageng Mengwi di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, kembali menggelar upacara sakral Meabhiseka atau Abhiseka Ratu Ida Cokorda pada Senin, 7 Juli 2025.

Prosesi bersejarah ini menjadi momen langka, mengingat terakhir kali upacara serupa digelar pada tahun 1946 untuk penobatan Ida Cokorda Punggawa dan Ida Cokorda Istri Karang. Kali ini, kehormatan tersebut diberikan kepada Anak Agung Gde Agung, menandai babak baru dalam sejarah kebesaran Puri Mengwi.

Puncak Prosesi di Pura Taman Ayun

Upacara penobatan ini dipusatkan di Pura Taman Ayun, sebuah situs warisan budaya yang menjadi simbol spiritual dan kekuasaan Puri Mengwi. Pura ini, dengan arsitektur megah dan nilai historisnya, menjadi saksi bisu prosesi yang penuh makna. Acara dimulai sejak pagi hari, dipimpin oleh para sulinggih dari aliran Siwa dan Buddha, menciptakan suasana khidmat yang kental dengan nuansa tradisi Bali.

Rangkaian abhiseka terdiri dari sejumlah tahapan yang diiringi alunan gambelan khas Bali, menambah kesakralan dan keagungan momen ini. Prosesi diawali dengan kehadiran Bagawanta dan Ida Dalem Klungkung, disertai simbol kebesaran seperti Dampar Kencana, yang melambangkan otoritas kerajaan. Puncak acara berlangsung di Mandala Utama, tempat ritual mejaya-jaya digelar sebagai inti dari penobatan.

Prosesi Penobatan Anak Agung Gde Agung

Dalam prosesi puncak, Anak Agung Gde Agung, didampingi sang permaisuri, keluar dari gerbang utama Puri Mengwi. Momen ini disaksikan oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung Adi Arnawa, perwakilan Pasemetonan Karangasem, Asta Puri, serta tokoh masyarakat Mangupura dan pemangku pusaka kerajaan. Kehadiran mereka menegaskan betapa pentingnya upacara ini bagi masyarakat Bali.

Bagawanta memimpin langsung pemberian gelar baru kepada Ida Cokorda dan permaisurinya. Prosesi ini ditandai dengan pemasangan pin sebagai simbol keabsahan, diikuti penyerahan tongkat kerajaan oleh Ida Dalem dan pemasangan destar (ikat kepala) yang menandakan pengangkatan resmi. Setelah itu, ritual Metapak Kebo Anggrek Bulan dilaksanakan sebagai wujud syukur atas kelancaran upacara.

Kehadiran Tamu Kehormatan

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah undangan kehormatan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono dan Pakualam, yang turut memeriahkan prosesi. Kehadiran tokoh-tokoh ini menambah bobot historis dan budaya dari upacara yang hanya digelar sekali dalam beberapa generasi ini.

Sejarah Raja-Raja Puri Mengwi

Puri Mengwi memiliki sejarah panjang dengan 12 raja yang telah memimpin sejak abad ke-17. Berikut adalah daftar raja-raja yang pernah memerintah:

  1. Ida Cokorda Sakti Blambangan (1690–1722)

  2. Ida Cokorda Agung Made Alangkajeng (1722–1740)

  3. Ida Cokorda Agung Nyoman Munggu (1740–1743)

  4. Ida Cokorda Agung Putu Mayun (1743–1745)

  5. Ida Cokorda Agung Made Agung Munggu (1745–1760)

  6. Ida Cokorda Putu Agung (1775–1780)

  7. Ida Cokorda Agung Made Agung (1780–1811)

  8. Ida Cokorda Ngurah Made Agung (1811–1836)

  9. Ida Cokorda Agung Ketut Besakih (1857–1859)

  10. Ida Cokorda Ngurah Made Agung dan Cokorda Istri Agung Mayun Interegnum (1859–1891)

  11. Ida Cokorda Tirta (1911–1939)

  12. Ida Cokorda Punggawa dan Ida Cokorda Istri Karang (1946–2001)

Kembalinya upacara Abhiseka Cokorda setelah 79 tahun ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga pengingat akan kekayaan budaya dan sejarah Bali yang terus dijaga. Momen ini menjadi simbol keberlanjutan warisan leluhur yang tetap relevan di tengah modernisasi, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Mengwi dan Bali secara keseluruhan.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE