10/09/2026

Tumpek Landep, Momentum Mempertajam Kesadaran Idep

doa untuk melaksanakan tumpek ladep

ilustrasi banten untuk melaksanakan Tumpek Landep/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali merayakan Hari Suci Tumpek Landep yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep. Untuk tahun ini, Tumpek Landep dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026. 

Meski sering diidentikkan dengan “otonan” kendaraan bermotor atau perangkat teknologi, filosofi mendalam dari Tumpek Landep sebenarnya adalah penyucian pikiran atau Landeping Idep. Hari suci ini merupakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati, sang pemberi ketajaman pikiran dan penguasa segala peralatan manusia.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Dr. Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si., menekankan bahwa masyarakat perlu menggeser paradigma mengenai Tumpek Landep. Menurutnya, hari ini bukan semata-mata otonan bagi motor atau mobil.

“Tumpek Landep adalah momentum meningkatkan kesadaran idep. Ini adalah Otonan Idep atau pikiran, agar menjadi Manacika—pikiran yang bersih dan suci,” ujar Widana. 

Ia menambahkan, ketajaman pikiran disimbolisasikan dengan penyucian benda-benda tajam berujung lancip (landep) yang berbahan dasar logam. Senjata tradisional seperti keris, tombak, pedang, hingga alat pertukangan, hanyalah simbol fisik dari fungsi pikiran yang harus tajam untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

Lebih jauh, Widana menjelaskan etimologi kata “Tumpek” yang berasal dari kata Nampek, yang berarti dekat. Momentum ini seharusnya digunakan umat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Tumpek harus dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri dengan sradha bhakti kepada Sang Hyang Siwa Pasupati. Beliau adalah sumber taksu sekaligus simbol pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.

Di era modern, teknologi seperti komputer, ponsel, hingga kendaraan memang menjadi alat yang membantu kehidupan manusia. Namun, tanpa pikiran (idep) yang tajam dan berkarakter, teknologi tersebut tidak akan memberikan manfaat yang maksimal bagi kemanusiaan.

Melalui refleksi Tumpek Landep, umat diharapkan tidak hanya terpaku pada kemegahan prosesi ritual (upacara), tetapi lebih menyentuh esensi spiritualnya.

“Harapannya, umat mampu berpikir cerdas, kritis, dan berkarakter dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkas Widana.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE