Tak Cuma Tri Hita Karana, Prof Rai Remawa Dorong Teks Lontar Padma Bhuwana Jadi Acuan Pembangunan Bali

Tak Cuma Tri Hita Karana, Prof Rai Remawa Dorong Teks Lontar Padma Bhuwana Jadi Acuan Pembangunan Bali/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pesatnya perkembangan industri pariwisata di Bali berdampak langsung pada kebutuhan kawasan hunian publik. Guna menjaga kenyamanan hunian tanpa mengesampingkan identitas budaya, Prof. Dr. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn., mendorong para peneliti untuk melengkapi acuan pembangunan tidak hanya terbatas pada konsep Tri Hita Karana, melainkan menggali pemikiran berbasis pemuliaan kesemestaan.
Gagasan tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).
Guna menghadapi tantangan pesatnya pariwisata Bali yang menuntut hadirnya inovasi hunian publik yang tetap nyaman dan bernilai budaya tinggi, Prof. Rai Remawa menekankan pada pemahaman mengenai tata ruang Bali perlu diperluas dengan merujuk pada naskah-naskah filosofis terdahulu.
“Sementara ini Tri Hita Karana memang menjadi acuan. Tapi saya mencoba berpikir dari perspektif lain untuk memberikan masukan kepada peneliti-peneliti di sini, bahwa Bali itu sebenarnya tidak hanya berbasis pada Tri Hita Karana,” ungkap Prof. Rai Remawa.
Ia menjelaskan, landasan fundamental yang menyatukan tata kehidupan dan lingkungan masyarakat Bali pada masa lalu juga bersumber dari teks-teks klasik seperti Lontar Padma Bhuwana. Teks tersebut memuat prinsip kosmologi mendalam terkait pemuliaan kesemestaan yang sangat relevan untuk diterapkan dalam perencanaan lingkungan binaan berkelanjutan saat ini.
Langkah ini dinilai penting untuk menjawab tantangan pembangunan fisik Bali agar tetap selaras dengan prinsip Urip, Irup, Kahuripan (kehidupan yang berkelanjutan). Pemuliaan terhadap semesta menjadi fondasi agar modernisasi hunian tidak merusak tatanan ekologis dan identitas keluhuran Bali.
“Ada filosofi yang lebih dalam, yang menyatukan Bali pada masa sebelumnya, termasuk dalam teks Lontar Padma Bhuwana dan beberapa lainnya yang terkait dengan pemuliaan kesemestaan. Hal ini menjadi masukan penting bagi pengembangan lingkungan binaan ke depan,” tuturnya.
***
