09/09/2026

Tilem Kasa, Awal Bulan Mati Gunakan Banten Ini

banten tilem kawulu apa

Ilustrasi gambar palinggih/ Tilem Kawulu dalam Hindu Bali/ Adi Pratama/ Pixel

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sistem penanggalan kalender Bali menempatkan tilem kasa sebagai penanda penting dimulainya siklus bulan mati pertama. Momentum spiritual ini menjadi waktu krusial bagi umat Hindu untuk melaksanakan pemujaan mendalam pada malam hari yang ditujukan langsung ke hadapan Dewa Siwa. Kegelapan total saat bulan mati bukan menjadi simbol ketakutan, melainkan ruang sakral untuk melakukan kontemplasi, persembahyangan, serta pembersihan batin atau yoga.

Pemujaan di tengah keheningan malam ini dipercaya memberikan pahala rohani berupa peleburan noda dan marabahaya yang melekat di dalam diri manusia. Melalui prosesi ritual tersebut, segala kekotoran jiwa diruwat sehingga manusia kembali menemukan keseimbangan kesadarannya.

Landasan Sastra Suci Sundarigama

Petunjuk pelaksanaan upacara pada malam bulan mati tertuang secara eksplisit di dalam teks lontar Sundarigama. Dokumen tekstual tradisional ini menggariskan kewajiban bagi setiap umat untuk membersihkan jiwa dan raganya ketika malam kegelapan melingkupi alam semesta. Naskah kuno tersebut menguraikan sebuah bait suci:

“Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, turakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantaraning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.”

Berdasarkan petunjuk susastra di atas, umat Hindu diwajibkan menghalau dan melenyapkan segala bentuk kesedihan, penyakit, serta hambatan hidup yang bersemayam dalam tubuh. Prosesi ini diwujudkan dengan menghaturkan sarana wangi-wangian di sanggar atau parahyangan, serta di atas tempat tidur sebagai bentuk persembahan tulus kepada keagungan bidadari dan bidadara.

Upacara akan menjadi jauh lebih sempurna apabila umat mempersembahkan satu tangkih banten sesayut widyadari. Melalui persembahan ini, umat memohon anugerah keterampilan, kebijaksanaan, dan kelancaran dalam melaksanakan segala bidang aktivitas keduniawian. Seluruh rangkaian pemujaan ini berpuncak pada pelaksanaan yoga meneng atau meditasi keheningan di tengah malam, dengan tujuan utama meruwat segala noda, dosa, dan kekotoran sifat kemanusiaan.

Siwa dalam Kegelapan yang Paling Gelap

Perspektif teologis mengenai pemuliaan kegelapan ini dikuatkan oleh akademisi Sastra Bali dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa. Beliau menegaskan bahwa ritual pemujaan yang dilakukan pada saat malam bulan mati seperti tilem kasa secara filosofis ditujukan langsung kepada Dewa Siwa selaku penguasa pralina atau peleburan alam semesta.

Merujuk pada teks suci Jnyana Sidantha, terdapat penjelasan berjenjang mengenai eksistensi ketuhanan. Di dalam matahari terdapat kesucian, di dalam kesucian bersemayam Dewa Siwa, dan di dalam diri Dewa Siwa terdapat kegelapan yang paling gelap. Esensi teologis inilah yang melandasi mengapa malam yang pekat tanpa cahaya bulan justru mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang sangat tinggi dalam tradisi keagamaan di Bali.

Bukti empiris dan arkeologis mengenai konsep ini dapat dijumpai di daerah Bangli, tepatnya di Pura Penileman. Di tempat suci tersebut, masyarakat rutin melaksanakan pemujaan khusus setiap kali malam bulan mati tiba. Warga masyarakat mendatangi pura untuk memohon pengidep pati atau sarining taksu yang merupakan anugerah kesucian spiritual dari Dewa Siwa. Keberadaan arca Dewa Gana selaku putra Dewa Siwa di situs tersebut menjadi bukti arkeologis otentik yang memperkuat praktik pemujaan Siwa dalam dimensi kegelapan.

Falsafah Menghormati Gelap dan Terang

Kebudayaan Bali memandang alam semesta dalam konsep dualitas yang seimbang atau rwa bhineda. Pemuliaan tidak hanya diberikan pada saat bulan memancarkan cahaya terangnya atau Purnama, melainkan kegelapan pekat saat malam bulan mati juga mendapatkan penghormatan yang setara. Keseimbangan kosmis ini menuntut manusia untuk mampu menyelami kedua sisi kehidupan tersebut.

Falsafah ini diulas secara mendalam oleh IBM Dharma Palguna dalam bukunya yang berjudul Sekarura halaman 9. Melalui karya tersebut, dikemukakan pandangan bahwa para Guru Kehidupan serta Guru Kematian mengajarkan manusia untuk senantiasa menghormati kegelapan secara penuh, tidak berbeda dengan penghormatan yang diberikan kepada terang. Penghormatan pada keheningan bulan mati sama bernilainya dengan penghormatan pada kemegahan bulan purnama.

Lebih lanjut pada halaman 10 buku yang sama, terdapat ulasan mengenai pembelaan estetis Mpu Tan Akung terhadap eksistensi kegelapan. Ditegaskan bahwa kegelapan sejati tidak selayaknya dihindari, ditakuti, atau diusir dengan menghadirkan cahaya terang buatan. Langkah spiritual yang benar adalah dengan berani memasuki kegelapan tersebut, menyusupinya, meleburkan diri di dalamnya, atau justru memasukkan keheningan malam itu ke dalam ruang batin diri sendiri demi mencapai kedamaian sejati.

Siklus Kalender Tradisional Bali

Pelaksanaan ritual bulan mati atau tilem terjadi secara berkesinambungan sepanjang tahun mengikuti perputaran bulan atau sasih. Setiap periodisasi memiliki karakteristik spiritualnya masing-masing, yang dimulai dari tilem kasa sebagai awal dari siklus penanggalan tradisi. Berikut adalah urutan lengkap nama-nama malam bulan mati berdasarkan sistem sasih di Bali:

  • Tilem Sasih Kasa atau Sasih Sarwanja
  • Tilem Sasih Karo atau Sasih Badrawada
  • Tilem Sasih Katiga atau Sasih Asuji
  • Tilem Sasih Kapat atau Sasih Kartika
  • Tilem Sasih Kalima atau Sasih Margasira
  • Tilem Sasih Kenem atau Sasih Posya
  • Tilem Sasih Kapitu atau Sasih Magh
  • Tilem Sasih Kedasa atau Sasih Waisaka
  • Tilem Sasih Desta atau Sasih Jyesta
  • Tilem Sasih Sadha atau Sasih Asadha

Melalui pemahaman yang menyeluruh terhadap siklus ritmik alam ini, umat Hindu Bali memelihara tradisi penyucian diri secara berkala demi menjaga keharmonisan mikro kosmos manusia dengan makro kosmos alam semesta.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE