Jaga Identitas Daerah, Koster Tekankan Pentingnya Arsitektur Berbasis Budaya untuk Masa Depan Peradaban Bali

Jaga Identitas Daerah, Koster Tekankan Pentingnya Arsitektur Berbasis Budaya untuk Masa Depan Peradaban Bali/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Gubernur Bali, Wayan Koster, menekankan pentingnya menjaga identitas arsitektur tradisional dan kecerdasan budaya di tengah melesatnya perkembangan teknologi serta arsitektur modern. Hal tersebut disampaikan Koster saat menjadi pembicara sekaligus membuka Seminar Nasional Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).
Di hadapan para ilmuwan dan peneliti, Koster mengingatkan bahwa pesatnya arus modernisasi mulai menggerus gaya arsitektur khas Bali. Kemudahan dan efisiensi serba praktis dinilai dapat mencabut Bali dari akar sejarahnya jika tidak dibentengi secara tegas.
Koster menyoroti kecenderungan masyarakat yang mulai meninggalkan arsitektur khas Bali demi mengejar kepraktisan dan efisiensi. Untuk mengantisipasi hilangnya identitas daerah, Pemerintah Provinsi Bali mewajibkan seluruh lembaga dan instansi pemerintah untuk konsisten menerapkan karakter arsitektur tradisional Bali pada setiap pembangunan gedung.
“Jangan sampai arsitektur Bali hilang karena tergerus pola pikir praktis dan efisien. Kita harus mempertahankan hal-hal fundamental dan otentik agar Bali tidak kehilangan akarnya,” kata Koster.
Untuk itu, Koster mengajak para pakar, akademisi, dan peneliti lingkungan binaan untuk menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi sebagai kerangka etik dan ekologis dalam merancang pembangunan Bali jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa Bali telah memiliki Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125) yang diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023. Haluan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama untuk menjaga kesucian, keharmonisan alam, serta peradaban Bali lintas generasi.
“Haluan pembangunan Bali 100 tahun bukan semata-mata dokumen perencanaan pembangunan, tetapi arah untuk menjaga masa depan peradaban Bali. Pembangunan lingkungan binaan di Bali tidak boleh sekadar mengejar perubahan fisik, tetapi harus membangun ruang kehidupan yang berkualitas, manusiawi, berbudaya, aman, tangguh, dan rendah karbon,” kata Koster.
Menurut Koster, konsep pembangunan Bali berakar pada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana, bersumber dari enam unsur kearifan lokal Sad Kerthi yang meliputi Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Modal pengetahuan lokal seperti Arsitektur Tradisional Bali, Sistem Subak, hingga Usada Bali mengandung prinsip tata ruang, air, dan lingkungan yang harus digali, didokumentasikan, dan ditransformasikan menjadi solusi masa depan melalui modernisasi berbasis kebudayaan.
“Pertanyaan penting bagi kita bukan hanya seberapa banyak gedung yang akan berdiri atau seberapa besar ekonomi Bali, tetapi seperti apa kualitas kehidupan masyarakat Bali pada tahun 2125. Apakah alamnya masih sehat, airnya masih tersedia, dan budayanya masih hidup? Keputusan yang kita ambil hari ini mengenai tata ruang dan infrastruktur akan menentukan kualitas kehidupan generasi yang belum lahir,” pungkasnya.
Mulai tergerusnya arsitektur tradisional Bali akibat gaya hidup praktis dan modernisme, Gubernur menekankan pentingnya menjaga identitas otentik Bali. Ia mendorong para peneliti IPLBI untuk tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga solusi nyata dan kebijakan kontekstual.
***
