Harga Tiket Pesawat Naik, Kunjungan Wisatawan Domestik ke Bali Terancam Turun?
ilustrasi harga tiket pesawat/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Lonjakan harga tiket pesawat rute domestik mulai memberi tekanan terhadap sektor pariwisata Bali. Kenaikan tarif penerbangan yang dipicu melonjaknya harga avtur dikhawatirkan berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Dewata dalam beberapa bulan ke depan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, Agung Rai Suryawijaya, mengatakan mahalnya tiket pesawat membuat wisatawan domestik harus menghitung ulang biaya perjalanan mereka ke Bali. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan okupansi hotel hingga perputaran ekonomi pariwisata yang selama ini banyak ditopang wisatawan Nusantara.
“Dengan melambungnya harga tiket, tentu wisatawan domestik akan berhitung kembali untuk bepergian, terutama ke Bali. Hal ini jelas akan berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan domestik,” ujar Agung Rai, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tiket tidak lepas dari dampak ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga avtur sebagai komponen utama biaya operasional maskapai penerbangan.
Berdasarkan pantauan di sejumlah platform Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka dan tiket.com, tarif penerbangan pulang-pergi Jakarta–Bali pada Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan.
Maskapai AirAsia Indonesia mematok harga tiket mulai Rp 1,8 juta hingga Rp 1,9 juta. Citilink berada di kisaran Rp 1,7 juta sampai Rp 1,9 juta, sementara Lion Air dijual sekitar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,6 juta. Adapun Batik Air berada di atas Rp 1,8 juta.
Untuk maskapai full service seperti Garuda Indonesia, harga tiket rute Jakarta–Bali mencapai Rp 2,2 juta hingga lebih dari Rp 3 juta tergantung jadwal penerbangan.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi keputusan wisatawan domestik untuk memilih destinasi lain dengan biaya perjalanan yang lebih murah. Padahal, pasar wisatawan Nusantara menjadi salah satu penopang utama sektor pariwisata Bali, terutama saat kunjungan wisatawan mancanegara mengalami fluktuasi.
PHRI Badung pun mulai menyiapkan sejumlah langkah mitigasi bersama pemerintah, pelaku pariwisata, dan maskapai penerbangan guna menjaga stabilitas kunjungan wisatawan ke Bali.
Upaya yang dilakukan antara lain memperkuat promosi wisata, menyiapkan program harga khusus untuk wisatawan domestik, hingga mendorong alternatif transportasi darat bagi wisatawan yang ingin berlibur dengan biaya lebih terjangkau.
“Kami terus berupaya menjaga gairah pariwisata Bali agar tetap kompetitif meski biaya perjalanan udara meningkat,” kata Agung Rai.
Pelaku industri pariwisata optimistis Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan domestik. Namun, mereka berharap ada langkah strategis dari pemerintah dan maskapai untuk menekan biaya transportasi udara agar daya beli wisatawan tidak semakin tergerus.
***
