09/09/2026

Pinjol Menjerat, Finansial Sekarat

Pinjol Menjerat, Finansial Sekarat

Pinjol Menjerat, Finansial Sekarat/ balikonten

Anak Agung Aditya Adnyana, SMA Negeri 2 Denpasar

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Judol dan Pinjol sedang menghancurkan umat Hindu dari dalam. Data kepolisian dan OJK terus mencatat korban baru setiap bulan, dan tidak sedikit dari mereka lahir dari keluarga yang taat sembahyang, tapi buta finansial. Ironi ini harus diakui terbuka. Umat Hindu rajin ke pura, tapi jarang diajarkan cara mengelola keuangannya. Akibatnya, ketika godaan judi online menawarkan jalan pintas kaya, banyak yang tergelincir, lalu menutup kerugian dengan pinjaman online bunga-berbunga.

Itihasa Mahabharata sebenarnya sudah mewanti-wanti bahaya ini. Yudhishthira, raja yang dikenal bijak dan berpegang teguh pada dharma, kalah taruhan dadu melawan Sengkuni. Ia bertaruh kerajaan, saudara, bahkan Drupadi istrinya, dalam satu permainan yang tampak sepele. Kekalahan itu memicu pengasingan tiga belas tahun dan akhirnya perang besar Kurukshetra.

Pesannya jelas, kekayaan yang dikejar lewat jalan pintas selalu berakhir dengan naas, dan ego yang merasa bisa mengendalikan permainan justru yang paling mudah dihancurkan. Dadu Sengkuni keninian bernama judi online, dan jerat utangnya bernama pinjaman online.

Widura, paman Pandawa dan Kurawa, mengajarkan hal berbeda lewat Widura Niti. Hidup hemat, menabung, dan menghindari ketergantungan pada belas kasihan orang lain. Ajaran ini paralel dengan prinsip Robert Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad,  membedakan aset dari liabilitas. Ayah miskin bekerja untuk uang dan terjebak siklus konsumsi, sementara ayah kaya membangun aset agar uang bekerja untuknya. Judi online adalah liabilitas murni yang menyamar sebagai aset instan, dan pinjaman online konsumtif adalah jalan pasti menuju kebangkrutan.

Sayangnya, pendidikan Hindu hari ini timpang. Pasraman dan sekolah mengajarkan mantra dan upacara dengan tekun, tapi nyaris tidak pernah membahas literasi finansial. Generasi muda Hindu perlu diajarkan bahwa artha, kekayaan, adalah bagian sah dari catur purushartha, dan mengelolanya dengan bijak, sama pentingnya dengan menjalankan dharma.

Solusinya konkret. Pertama, masukkan literasi finansial dasar ke kurikulum pasraman, termasuk bahaya judi online dan jerat bunga pinjol. Kedua, jadikan kisah dadu Yudhishthira sebagai studi kasus diskusi, bukan sekadar dongeng moral.

Ketiga, ajarkan generasi muda membedakan aset dan liabilitas sejak dini, sebagaimana diajarkan Kiyosaki.Hindu Financial bukan konsep impor. Ia sudah ada dalam itihasa sendiri, menunggu dibaca ulang dan dipraktikkan. Mulailah dari satu keputusan kecil hari ini, tolak dadu modern Sengkuni, apabila tidak mau finansial diri mati.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE