Yayasan Catur Dharma Sidi Gelar Bebayuhan Tampel Bolong, Diikuti Ratusan Umat, Ketua PHDI Beri Apresiasi

 Yayasan Catur Dharma Sidi Gelar Bebayuhan Tampel Bolong, Diikuti Ratusan Umat, Ketua PHDI Beri Apresiasi

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sebanyak 458 umat Hindu dari berbagai kabupaten kota di Bali mengikuti upacara Bebayuhan Tampel Bolong yang digelar Yayasan Catur Dharma Sidi, di Griya Pasek Kahuripan Padang Jerak, Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, Tabanan pada 26 Oktober 2023.

 

Mereka berasal dari beberapa kabupaten kota di Bali, yakni Kabupaten Tabanan, Buleleng, Jembrana, Gianyar, Karangasem, Badung dan Kota Denpasar.

 

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua PHDI Provinsi Bali, perwakilan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi Provinsi Bali, PSN, serta sejumlah tokoh masyarakat di Tabanan.

Ketua Panitia, Jro Mangku Ketut Baktiyasa, SP, menerangkan kegiatan ini bekerjasama dengan PHDI Kecamatan Baturiti, dan MGPSSR Kecamatan Baturiti dalam rangka meningkatkan Sradha Bhakti umat Hindu.

 

“Sebagai manusia, kehidupan kita tak lepas dari kekurangan dan kesalahan, Baik di kehidupan saat ini, maupun terdahulu. Terutama salah dalam kata-kata. Bahkan, tak menutup kemungkinan mengucap atau mendapat kutukan. Nah, hal ini memerlukan netralisisasi. Salah satunya melalui ruwatan atau Pabayuhan Tampel Bolong,” ungkapnya.

Seperti namanya, Bebayuhan Tampel Bolong memiliki makna menutup semua lubang, dalam hal ini kekurangan atau keburukan di dalam diri, baik dari kehidupan terdahulu, maupun kehidupan sekarang.

 

Gerakan sosial yang dilakukan Yayasan Catur Dharma Sidi turut mendapat apresiasi dari Ketua PHDI Provinsi Bali, Nyoman Kenak.

 

Menurut Kenak, kegiatan ini juga sejalan dengan visi misi PHDI, yakni mewujudkan umat Hindu yang sejahtera. Salah satunya memberi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan beryadnya.

“Dengan Punia Rp.225 ribu ini umat sudah bisa terbantu untuk memenuhi kebutuhan beryadnya. Semoga ini memberi dampak positif kepada umat, semakin cerdas dan memiliki Sradha Bhakti yang kuat,” ungkap Kenak.

BACA JUGA:  Pratisentana Bandesa Manik Mas Badung Dukung Pembangunan Sekretriat Pusat

 

Sementara Ida Mpu Griya Basang Be, lda Pandita Mpu Dharmika Tenaya yang juga salah satu pembina Yayasan Catur Dharma Sidi menerangkan, setiap peserta diwajibkan membawakan Pejati. Mereka yang satu Merajan, hanya membawa satu Pejati.

 

Kuwangen dengan tujuh dupa yang digunakan saat madudus agung, segehan putih kuning, segehan kepelan manca warna, maanggen ring arepan sang pinahayu sebelum muspa, tirtha Ida Bhatara Hyang Guru, dan membawa tempat Tirta.

 

Ketua Yayasan Catur Dharma Sidi, I Ketut Artana, SH., MH yang juga salah satu pinandita mangku merajan dan mangku sangging mengatakan, pelaksanaan Pebayuhan ini dipimpin oleh tujuh pendeta.

 

Sejak berdiri, Yayasan Catur Dharma Sidi telah menggelar 4 kegiatan yakni pelatihan mangku sanging, upacara manusa yadnya, upacara metatah masal, dan baru pertama kali melaksanakan upacara Bebayuhan Tampel Bolong.

 

“Bebayuhan ini merupakan salah satu dari program kerja yayasan catur dharma sidi disamping program2 lainnya,” ungkap Artana.

 

Dirinya berharap, melalui kegiatan ini Yayasan dapat berkontribusi positif kepada umat, dan kegiatan-kegiatan yayasan selalu mendapat dukungan dari umat Hindu dimana pun berada. ***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE

error: Content is protected !!