10/09/2026

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 8 Bandara Ditutup Sementara

mitigasi abu vulkanik

ilustrasi Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik/ Wikipedia/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali berdampak pada aktivitas transportasi udara. Sebaran abu vulkanik yang meluas ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra membuat operasional delapan bandara ditutup sementara demi menjaga keselamatan penerbangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer. Abu bergerak dominan ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Kondisi tersebut terpantau hingga Senin (7/9/2026) pagi. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, meminta masyarakat tidak panik karena seluruh instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan erupsi dan pergerakan abu vulkanik selama 24 jam.

“Masyarakat tidak perlu panik. Langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” kata Faisal, Senin (7/9).

Abu Vulkanik Meluas ke Jawa dan Sumatra

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan pihaknya telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026.

Dalam SIGMET terbaru yang berlaku pada 7 September pukul 06.30–09.30 WIB, abu vulkanik teramati hingga ketinggian 15.000 kaki dengan arah pergerakan ke barat.

“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri.

Pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki, sebaran abu terpantau meluas ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu, termasuk perairan di sekitarnya hingga Samudra Hindia.

Sementara pada lapisan yang lebih tinggi, hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, abu vulkanik terpantau telah mencapai wilayah Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten, kemudian bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Paper Test Positif, 8 Bandara Ditutup

Sebaran abu vulkanik di udara menjadi perhatian serius bagi keselamatan penerbangan. Hasil paper test yang dilakukan pada pukul 07.00 WIB menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara.

Kondisi tersebut kemudian diperkuat dengan pemantauan citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan.

Sebagai langkah mitigasi, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) hingga pukul 08.30 WIB. Berdasarkan pemberitahuan tersebut, operasional delapan bandara dihentikan sementara hingga pukul 18.00 WIB.

Delapan bandara yang terdampak yakni:

  • Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang;
  • Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta;
  • Bandara Radin Inten II, Lampung;
  • Bandara Husein Sastranegara, Bandung;
  • Bandara Budiarto, Curug;
  • Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan;
  • Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Pesisir Barat, Lampung;
  • Bandara Atungbusu, Sumatra Selatan.

Menurut BMKG, hasil paper test menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi pemantauan menggunakan citra satelit dan data meteorologi penerbangan. Kombinasi data tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai wilayah yang terdampak abu vulkanik.

Selat Sunda Masih Aman, Potensi Tsunami Rendah

Di tengah aktivitas erupsi, BMKG memastikan kondisi Selat Sunda masih dalam kategori aman.

Pemantauan dilakukan menggunakan HF Radar Array yang berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung dengan mengaktifkan mode pemantauan tsunami.

Data per 7 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah, yakni di bawah 50 persen.

Arus permukaan laut terpantau dominan bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4–0,9 knot. Sementara tinggi gelombang berada pada kisaran 0,3–1,2 meter.

Untuk periode 8–13 September 2026, BMKG memprakirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar 0,5 hingga 2 meter. Kondisi cuaca di kawasan Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda diprediksi didominasi cerah hingga cerah berawan.

BMKG juga mengoperasikan 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda. Hingga pemantauan dilakukan, tidak terdeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami.

Aktivitas Petir Vulkanik Meningkat

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan peningkatan aktivitas petir vulkanik turut terpantau pada periode pukul 00.00–04.00 WIB.

Selain itu, sensor magnet bumi juga mencatat adanya gangguan geomagnetik. Namun, intensitas gangguan geofisika tersebut masih lebih rendah dibandingkan saat erupsi pertama pada 4 September lalu.

“Namun, intensitas gangguan geofisika ini tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan erupsi pertama pada 4 September lalu,” jelas Ardhasena.

BMKG: Waspada, Bukan Panik

BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus menjaga kesehatan.

Warga diminta membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Kelompok rentan juga diminta mendapat perhatian lebih dari lingkungan sekitarnya.

Faisal menegaskan, masyarakat sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang beredar dan hanya mengikuti perkembangan dari kanal resmi pemerintah.

“Kami memastikan BMKG terus memperbarui data cuaca, penerbangan, dan geofisika secara berkala, sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang dengan mengacu pada informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah,” pungkasnya.

Dengan pemantauan yang terus dilakukan, masyarakat diimbau tetap tenang, waspada, dan tidak panik. Penutupan sementara sejumlah bandara merupakan langkah antisipatif untuk memastikan keselamatan penerbangan di tengah dinamika sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE