Dewasa Ayu Melas Rare: Hari Baik Menyapih Anak dan Memulai Langkah Baru pada Akhir Juli 2026
ilustrasi menggending bayi/ gabdullinayuka/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di Bali, dewasa ayu atau hari baik tidak saja digunakan untuk menentukan kegiatan melainkan tindakan lain seperti menyapih anak.
Sistem penanggalan tradisional atau warisan kearifan lokal selalu menyimpan ruang tersendiri dalam mengatur ritme kehidupan masyarakat. Pada pengujung bulan Juli 2026, tepatnya tanggal 28 Juli 2026, kalender adat mencatat sebuah momentum penting yang dikenal dengan istilah Tunut Masih. Hari tersebut diyakini memiliki energi yang sangat baik untuk memulai berbagai aktivitas krusial, baik dalam lingkup keluarga, peternakan, hingga organisasi sosial.
Salah satu fokus utama dari kedatangan hari Tunut Masih ini adalah pelaksanaan tradisi Melas Rare. Bagi masyarakat yang memegang teguh adat, Melas Rare merupakan momen sakral untuk memisah bayi yang masih menetek atau menyusui dari ibunya, sebuah proses yang akrab kita kenal sebagai menyapih. Menyapih anak sering kali menjadi fase emosional bagi seorang ibu dan bayinya, sehingga pemilihan hari baik ini diharapkan mampu memberikan kelancaran, ketenangan, serta dampak psikologis yang positif bagi tumbuh kembang anak ke depan.
Menata Fondasi Organisasi dan Pendidikan
Pengaruh baik dari hari Tunut Masih ternyata merambah jauh ke luar urusan domestik keluarga. Hari ini juga dipandang sebagai waktu yang ideal bagi masyarakat untuk membentuk suatu perkumpulan atau mendirikan organisasi baru. Energi hari ini dipercaya membawa keselarasan dan memperkuat ikatan persaudaraan antaranggota yang baru bergabung.
Bagi para penggiat literasi, tokoh adat, maupun pelaku industri pendidikan, tanggal 28 Juli 2026 merupakan momen yang sangat tepat untuk memulai membuka sekolah atau perguruan. Mengawali aktivitas belajar-mengajar pada hari yang baik dipercaya dapat mengalirkan berkah pengetahuan serta kelancaran bagi para murid dalam menyerap ilmu.
Melatih Ternak dan Tradisi Nelusuk dalam Dunia Pertanian
Beralih ke sektor agraris dan peternakan, para peternak tradisional memanfaatkan momentum Tunut Masih untuk mulai mengajar atau melatih hewan ternak mereka agar bisa bekerja membantu manusia, seperti membajak sawah. Proses pelatihan yang dimulai pada hari ini diyakini akan membuat hewan menjadi lebih penurut dan tangkas.
Tak kalah penting, hari tersebut juga sangat baik untuk melakukan ritual nelusuk. Nelusuk merupakan tindakan tradisional mencocok hidung hewan ternak besar, khususnya sapi atau kerbau, untuk kemudian dipasangi tali pengikat. Praktik ini penting dalam manajemen peternakan tradisional guna memudahkan peternak dalam mengendalikan dan mengarahkan hewan peliharaan mereka saat beraktivitas di ladang.
Melalui keselarasan antara tradisi Melas Rare untuk sang buah hati hingga aktivitas penataan ternak, tanggal 28 Juli 2026 menjadi potret nyata bagaimana kearifan lokal mengatupkan harmoni antara manusia, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
***
