Erupsi Anak Krakatau dan Proyek Pelabuhan Ketapang Berdampak pada Kunjungan Wisatawan Domestik ke Bali
Erupsi Anak Krakatau dan Proyek Pelabuhan Ketapang Berdampak pada Kunjungan Wisatawan Domestik ke Bali/balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kunjungan wisatawan domestik ke Bali mengalami penurunan signifikan akibat gangguan jalur udara dan darat. Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau serta penumpukan kendaraan di Pelabuhan Ketapang menjadi pemicu utama tersendatnya arus masuk wisatawan ke Pulau Dewata.
Gubernur Bali Wayan Koster mengonfirmasi bahwa dalam kondisi normal, penumpang domestik yang tiba melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai berkisar antara 12.000 hingga 16.000 orang per hari. Namun, angka tersebut merosot tajam akibat terganggunya rute penerbangan utama dari Jakarta.
“Pariwisata kalau internasional tidak ada masalah, ada sedikit peningkatan dari year on year-nya. Kalau yang domestik tentu saja ini terganggu,” ujar Koster usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bali, Senin (7/9).
Ia menambahkan bahwa penutupan Bandara Soekarno-Hatta membuat sejumlah penumpang yang hendak kembali ke Jakarta maupun menuju Bali tidak dapat melakukan penerbangan.
“Kita berharap mudah-mudahan erupsi Gunung Anak Krakatau bisa segera berakhir, sehingga penerbangan dari Soekarno-Hatta ke Bali dan juga ke daerah lain agar bisa normal kembali. Mari kita berdoa semua,” lanjutnya.
Tak hanya jalur udara, arus moda transportasi darat via penyeberangan Ketapang–Gilimanuk juga mengalami kendala serius. Pekerjaan fisik berupa perluasan dermaga di Pelabuhan Ketapang yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan mudik Lebaran 2027, sempat memicu kemacetan panjang hingga puluhan kilometer.
“Memang karena ada pekerjaan di Ketapang, kelihatannya karena ada perluasan area di sana. Karena ada pekerjaan fisik, sempat menimbulkan kemacetan sampai puluhan kilometer,” kata Koster.
Meskipun antrean kini mulai terurai menjadi sekitar 4 hingga 5 kilometer, Koster mengaku terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan agar pengerjaan proyek dapat dipercepat. Namun, ia mengakui kondisi geografis di lokasi menjadi tantangan tersendiri.
“Medan di situ kan kita semua tahu, Ketapang itu kan tidak terlalu luas wilayahnya, sehingga memang tidak banyak manuver yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk,” pungkasnya.
***
