Fenomena Sekolah Nihil Murid Meluas, Pemprov Bali Evaluasi Tata Kelola hingga Antisipasi Penurunan Populasi
Fenomena Sekolah Nihil Murid Meluas, Pemprov Bali Evaluasi Tata Kelola hingga Antisipasi Penurunan Populasi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Fenomena kekurangan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027 menghantam sejumlah satuan pendidikan di Provinsi Bali. Tidak hanya melanda wilayah pelosok dan kepulauan, krisis peminat ini bahkan membuat sejumlah sekolah negeri mencatatkan sejarah kelam dengan sama sekali tidak mendapatkan murid baru alias nihil siswa.
Berdasarkan data rekapitulasi dan evaluasi dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) setempat pada Juli 2026, kondisi paling kritis terjadi di Kabupaten Karangasem. SDN 6 Bhuana Giri kembali mencatatkan nol siswa baru.
Ironisnya, kondisi tanpa murid baru ini juga terjadi pada tahun sebelumnya. Nasib serupa dialami SDN 3 Wismakerta (Karangasem) yang untuk pertama kalinya mencatatkan nihil siswa baru tahun ini, di mana proses belajar kini hanya berjalan untuk menghabiskan sisa 33 murid aktif dari kelas II hingga kelas VI.
Krisis ini juga meluas ke jenjang pendidikan menengah dan wilayah kepulauan. Sekolah Satu Atap (Satap) Klumpu di Nusa Penida dilaporkan tidak mendapatkan murid baru akibat ketimpangan distribusi siswa. Sementara di Jembrana, SDN 5 Pohsanten berada dalam kondisi kritis karena hanya mendapatkan 2 siswa baru—bagian dari catatan merah di mana ada 21 SD di Jembrana yang mendapat kurang dari 10 siswa baru. Tidak hanya SD, jenjang SMA negeri seperti SMAN 1 Marga di Tabanan juga sepi peminat dan gagal memenuhi kuota tampung jalur domisili.
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Kadisdikpora) Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, S.T., M.Si., menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah memetakan persoalan ini dari hulu ke hilir. Menurutnya, krisis ini berkaitan erat dengan variabel demografi dan daya saing sekolah negeri.
“Sebenarnya kalau kami di Provinsi Bali sudah meng-capture masalah-masalah seperti itu. Makanya kebijakan Provinsi Bali kan sampai memberikan santunan anak ketiga dan keempat. Ini selaras juga dengan total fertility rate (angka kesuburan). Karena takutnya kita menghadapi kekurangan populasi penduduk. Sudah terlihat pada saat penerimaan siswa baru berbasis jenjang SD,” ujar Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, Selasa (14/7).
Langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Disdikpora Bali adalah mempolakan serta mendata kembali seluruh satuan pendidikan layanan dasar (SD) yang kekurangan siswa atau kurang optimum dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Data tersebut kemudian akan diintegrasikan secara By Name By Address (BNBA) dengan data kependudukan untuk melihat riwayat migrasi warga.
Wesnawa Punia menambahkan, pemerintah juga menyoroti adanya pergeseran minat masyarakat ke sekolah swasta, terutama di kawasan perkotaan seperti Denpasar. Ada tiga variabel indikator utama yang sedang dievaluasi oleh pemerintah terkait sepinya peminat sekolah dasar negeri, yaitu tingkat minat masyarakat sekitar, faktor migrasi atau urbanisasi penduduk ke kota besar, serta niat murni untuk masuk ke satuan pendidikan tersebut.
“Apakah memang seperti itu kondisinya? Apakah SD negerinya kurang diminati dan anak-anak didik itu lebih condong ke pendidikan swasta? Nah kemudian dilakukan evaluasi, apakah layanan pendidikan SD negeri ini dari aspek layanannya kurang diminati, atau tata kelolanya kurang?,” paparnya.
Mengingat kewenangan pendidikan dasar berada di tingkat kabupaten/kota, Disdikpora Provinsi Bali berkomitmen untuk segera memanggil dan membuka ruang diskusi dengan seluruh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Bali. Langkah sinkronisasi ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab kolektif sesuai regulasi yang berlaku di daerah.
“Kami akan memanggil dan berdiskusi dengan teman-teman Dinas Pendidikan Kabupaten Kota Se-Bali. Karena bagaimanapun juga tanggung jawab kami selaku pemerintah Provinsi Bali, karena ada aturan Gubernur Wakil Menteri Pusat Daerah di daerah, sudah barang tentu wajib melakukan integrasi permasalahan-permasalahan yang dialami oleh teman-teman Kabupaten Kota Se-Bali,” pungkas Wesnawa Punia.
***
