10/09/2026

Jenis-Jenis Rujak Khas Bali: Ragam Rasa dari Pulau Dewata

rujak batu batu menjadi kuliner khas asal tanjung benoa bali

Kuliner Rujak Batu Batu/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tidak hanya rujak kuah pindang, ternyata ada beberapa jenis rujak Bali yang wajib kalian ketahui. Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional Bali atau warung pinggir pantai, aroma pedas manis rujak selalu menggoda.

Rujak Bali bukan sekadar camilan, melainkan potret kekayaan alam pulau ini yang menyatukan buah segar, rempah tajam, dan hasil laut dalam harmoni rasa.

Dari irisan pepaya muda yang renyah hingga rumput laut yang meledak di mulut, jenis rujak di Bali menawarkan variasi yang mencerminkan keberagaman daerahnya. Mari kita telusuri beberapa jenis rujak Bali yang paling ikonik, lengkap dengan bahan dan cara penyajiannya.

Rujak Kuah Pindang: Kuah Gurih yang Menyegarkan

Rujak kuah pindang menjadi favorit di berbagai sudut Bali, terutama di Sanur dan sekitarnya. Hidangan ini dimulai dengan irisan buah segar seperti mangga muda, pepaya, nanas, dan kedondong yang diserut halus hingga teksturnya ringan. Kuahnya terbuat dari kaldu ikan pindang yang direbus dengan garam, terasi, cabai merah, dan sedikit gula jawa untuk keseimbangan rasa gurih pedas.

Penyajiannya sederhana: buah serut dituang kuah panas atau dingin, sering disertai serutan lengkuas segar untuk aroma citrus yang menyegarkan. Di warung seperti Bucu Sanur, rujak ini disajikan dalam porsi besar, cocok untuk dibagi saat matahari terbenam di pantai. Variasi lokal di Singaraja kadang menambahkan cuka untuk sentuhan asam yang lebih tajam, menyesuaikan dengan selera masyarakat utara Bali.

Rujak Colek: Celupan Manis Kacang yang Klasik

Bayangkan suapan buah yang renyah, dicelup ke saus kacang kental berwarna cokelat keemasan. Rujak colek mewakili nuansa Jawa yang berpadu dengan ciri khas Bali, populer di Renon, Kuta, dan Sanur. Bahan utamanya meliputi jambu air, bangkuang, kedondong, dan mangga muda yang dipotong dadu atau diserut bergelombang seperti keripik.

Sausnya dibuat dari kacang tanah sangrai yang diulek halus, dicampur gula Bali yang meleleh manis, asam jawa untuk keasaman, serta cabai dan terasi untuk kepedasan yang membara. Di tempat seperti Gula Bali The Joglo, saus ini disajikan terpisah agar pengunjung bisa colek sesuka hati, menjaga kesegaran buah tetap utuh. Di Singaraja, versi lokal menggunakan gula aren dan cuka yang lebih dominan, menghasilkan rasa yang sedikit lebih ringan dan asam.

Rujak Bulung: Segarnya Rumput Laut dari Pantai Bali

Langsung dari perairan jernih Bali, rujak bulung membawa esensi laut ke meja makan. Jenis ini menggunakan bulung, atau rumput laut segar, sebagai bintang utamanya, dengan variasi seperti bulung boni yang berbentuk gelembung bulat, bulung rambut ijo yang mirip helai hijau panjang, dan bulung rambut putih yang lembut. Bulung ini dicampur dengan irisan buah seperti pepaya muda, lalu disiram kuah pindang berbasis ikan rebon, terasi, cabai, dan perasan jeruk nipis untuk rasa segar yang meledak saat digigit.

Persiapan dimulai dengan membersihkan bulung dari pasir laut, kemudian merebus kuah hingga mendidih ringan. Di Denpasar dan Gianyar, hidangan ini sering disajikan di warung pantai seperti Jero Chandra, di mana tekstur ‘pop’ bulung boni berpadu dengan sambal Bali yang pedas. Kandungan serat tinggi dari bulung membuatnya menjadi pilihan ringan untuk hari-hari panas di Bali.

Rujak Batu-Batu: Kenyalnya Siput Laut dari Tanjung Benoa

Di pesisir Tanjung Benoa, rujak batu-batu muncul sebagai hidangan laut yang sederhana namun penuh cerita. Bahan pokoknya adalah siput laut kecil berlapis keras—disebut batu-batu—yang direbus hingga dagingnya kenyal dan empuk. Kuahnya terdiri dari cuka, cabai rawit iris, garam, dan bawang putih yang memberikan ledakan asam pedas, kadang ditaburi kacang goreng atau kerang kering untuk krunch tambahan.

Prosesnya cepat: siput direbus sebentar, lalu didinginkan dan disiram kuah segar. Hidangan ini lahir dari tradisi nelayan lokal yang berpadu dengan pengaruh pedagang Tionghoa sejak abad ke-16, menjadi camilan murah Rp4.000 per porsi di warung-warung kecil. Meski kini siput sering diimpor dari luar Bali, rasa autentiknya tetap mempertahankan semangat pesisir yang egaliter.

Rujak Jeruk Bali dan Variasi Lainnya: Sentuhan Lokal yang Unik

Tak ketinggalan rujak jeruk Bali dari Buleleng, di mana jeruk bali Kintamani yang segar dicelup ke sambal terasi panggang, cabai, juruh (gula tebal dari aren), dan cuka lontar yang difermentasi. Rasa asam manisnya mekar saat terasi dibakar di atas arang, menciptakan aroma yang menyelimuti udara pagi di Desa Les.

Variasi lain seperti rujak cuka di Singaraja menonjolkan campuran kacang dengan rasa manis asam pedas, sementara rujak tibah menggunakan buah mengkudu setengah matang untuk nuansa herbal yang langka. Di sisi lain, rujak bancih menyajikan buah segar dalam saus manis pedas mirip salad, mudah ditemui di warung tradisional.

Rujak Bali ini semua mudah ditemukan di pasar pagi atau festival kuliner, mengundang siapa saja untuk merasakan denyut pulau melalui setiap suapan. Dari Sanur hingga Tanjung Benoa, setiap jenis rujak di Bali menyimpan cerita alam dan tangan-tangan terampil yang meraciknya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE