10/09/2026

Kenapa Hari Raya Galungan Selalu Jatuh pada Hari Rabu?

doa apa yang digunakan saat galungan dan kuningan

Penjor Galungan oleh Jorge Láscar/ Flicker/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di berbagai daerah kembali menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita melalui perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pada tahun ini, Galungan dirayakan pada Rabu, 17 Juni 2026. Berselang sepuluh hari kemudian, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Ada satu hal menarik yang sering memicu rasa penasaran masyarakat luas. Mengapa perayaan Galungan selalu bertepatan dengan hari Rabu, sedangkan Kuningan pasti jatuh pada hari Sabtu? Fenomena ini tentu memiliki dasar perhitungan yang kuat dan sangat sakral dalam tradisi Hindu di Bali.

Hitungan Siklus Kalender Bali

Sistem penanggalan yang menjadi acuan untuk menentukan kedua hari raya ini bukanlah kalender Masehi yang biasa kita gunakan sehari-hari. Umat Hindu menggunakan kalender Bali yang berbasis pada siklus wuku.

Satu siklus penuh kalender ini berjalan selama 210 hari atau setara dengan enam bulan dalam hitungan tradisional Bali.

Secara spesifik, Hari Raya Galungan selalu jatuh pada hari Rabu Kliwon dalam wuku Dungulan, atau yang sering disebut sebagai Budha Kliwon Dungulan. Sementara itu, Hari Raya Kuningan dipastikan jatuh pada hari Sabtu Kliwon dalam wuku Kuningan atau Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.

Karena pola perputaran wuku ini bersifat tetap dan konstan setiap 210 hari sekali, hari jatuhnya kedua perayaan tersebut tidak pernah bergeser dari hari Rabu dan Sabtu.

Jejak Sejarah Berdasarkan Lontar Kuno

Tradisi mulia ini memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Berdasarkan catatan kuno dalam lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali digelar pada saat Purnama Kapat, tepat di hari Budha Kliwon Dungulan pada tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804.

Lontar tersebut menuliskan sebuah kalimat sakral:

“Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.”

Artinya, perayaan Galungan pertama dilaksanakan pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Pada momen spiritual tersebut, suasana dan keadaan Pulau Bali digambarkan begitu indah dan damai, bagaikan keagungan Indra Loka atau stana Dewa Indra.

Secara esensi dan nilai filosofis, Galungan merupakan momentum sakral untuk merayakan kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kebatilan). Perayaan ini menjadi pengingat yang kuat bagi umat Hindu untuk terus meningkatkan kesadaran spiritual mereka. Manusia diajak untuk selalu berjuang melawan energi negatif (adharma) dan konsisten menegakkan kebenaran (dharma). Dalam diri manusia, perwujudan nyata dari dharma itu tercermin dari pikiran yang bersih, jernih, dan terang.

Makna Mendalam di Balik Tegaknya Penjor Galungan

Ketika suasana Galungan mulai mendekat, pemandangan di sepanjang jalanan dan depan rumah-rumah warga di Bali akan berubah menjadi sangat indah. Deretan penjor yang megah berdiri rapi menghiasi tepi jalan. Keberadaan penjor ini bukan sekadar hiasan estetis, melainkan memiliki simbolisme spiritual yang sangat mendalam.

Sebelum penjor-penjor ini berdiri tegak, umat Hindu sebenarnya telah melewati rangkaian upacara yang cukup panjang. Prosesi dimulai dari Tumpek Wariga, lalu berlanjut ke Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Memasuki minggu krusial, umat menjalankan Hari Penyekeban (Redite Pahing Dunggulan), Hari Penyajaan Galungan (Soma Pon Dunggulan), hingga puncaknya pada Hari Penampahan Galungan (Anggara Wage Dunggulan).

Simbol Gunung Agung dan Kemakmuran Alam

Pembuatan penjor menggunakan sebatang bambu panjang yang ujungnya melengkung ke bawah. Bambu ini kemudian dihias secara indah dengan janur atau ambu (daun kelapa muda), daun-daunan, buah-buahan, bunga, serta porosan. Pakar budaya Dra. Ni Made Sri Arwati (1992) menjelaskan bahwa penjor adalah simbol dari pertiwi atau bumi beserta seluruh hasil alamnya. Hasil-hasil alam inilah yang selama ini memberikan sumber kehidupan dan menjamin keselamatan bagi umat manusia.

Sebagai sarana upacara yang utuh, penjor wajib dilengkapi dengan sanggah yang berfungsi sebagai tempat menaruh sesajen atau banten. Di sana juga terdapat sampyan, lamak, hiasan gantung, serta kelengkapan tetandingan yang berisi pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah-buahan), dan jajanan tradisional.

Umat Hindu di Bali memandang penjor sebagai representasi dari gunung yang suci. Penjor yang tertancap kuat ke dalam bumi menjadi simbol nyata dari keterikatan manusia pada kehidupan dan keselamatan. Dokumen kuno lontar Jayakasunu menegaskan bahwa bentuk fisik penjor melambangkan kemegahan Gunung Agung.

Di sisi lain, ada juga nilai filosofis yang mengaitkan penjor dengan wujud Naga Basuki, sang lambang kemakmuran. Berdasarkan teks dalam lontar Basuki Tatwa, gunung atau giri merupakan personifikasi dari raja naga, yaitu Naga Basuki. Hiasan rumbai gembrong yang terbuat dari janur pada penjor menggambarkan rambut indah sang naga.

Sepanjang batang bambu dari bagian dasar hingga ujung atas dipenuhi dengan berbagai gantungan hasil bumi, mulai dari untaian padi, ketela, jagung, hingga kain. Ragam bahan alam yang melimpah ini merupakan simbol dari bulu Naga Ananta Bhoga, sesosok naga dalam mitologi Hindu yang diyakini sebagai penguasa dan penyedia sumber sandang serta pangan bagi manusia.

Kapan Penjor Dipasang dan Dicabut?

Waktu pemasangan penjor dilakukan secara serentak pada hari Penampahan Galungan, tepat satu hari sebelum hari raya utama. Prosesi mendirikan penjor pada hari tersebut membawa pesan spiritual bahwa kebenaran atau dharma telah berhasil ditegakkan dengan jaya.

Keberadaan penjor ini akan menghiasi rumah warga selama beberapa minggu. Prosesi pencabutan atau pembongkaran penjor baru dilakukan pada hari Buda Kliwon Pahang, yang juga populer dengan sebutan Buda Kliwon Pegatwakan atau Pegat Warah.

Hari tersebut menandai akhir dari seluruh rangkaian upacara suci Hari Raya Galungan. Setelah dicabut dari tempatnya berdiri, warga biasanya akan membersihkan komponen penjor tersebut lalu membakarnya sebagai simbol pengembalian unsur alam ke asalnya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

*

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE