09/09/2026

Peluang Emas Bali Menuju Hub Keuangan Dunia, Dorong Investasi Sektor Riil dan Infrastruktur

Peluang Emas Bali Menuju Hub Keuangan Dunia, Dorong Investasi Sektor Riil dan Infrastruktur

Peluang Emas Bali Menuju Hub Keuangan Dunia, Dorong Investasi Sektor Riil dan Infrastruktur/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Provinsi Bali dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat ekosistem International Financial Center (IFC) di Indonesia mendampingi Jakarta.

Langkah strategis ini diharapkan dapat terealisasi seiring dengan hadirnya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK/PFI) untuk memperkuat pembiayaan investasi hingga ke sektor riil.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa implementasi ekosistem keuangan internasional tersebut membutuhkan kesiapan regulasi serta ketentuan hukum transaksi bisnis yang selaras dengan standar global.

“Nanti setelah Undang-Undang PFI ini lahir, kita berharap bisa segara mungkin tahu seperti apa implementasinya. Walaupun tidak harus satu-satunya, ini adalah sebuah ekosistem yang kita sebut dengan International Financial Centre-nya. Di situ ada ketentuan Undang-undangnya sendiri, ada ketentuan hukumnya bagaimana transaksi dan hubungan bisnis diatur sesuai yang berlaku di IFC seluruh dunia,” ujar Achris.

Pemilihan Bali sebagai kandidat kuat pusat IFC tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur serta daya tarik budaya yang telah melekat kuat dengan sektor pariwisata. Integrasi antara dunia usaha dan pariwisata (bleisure) dinilai menjadi nilai tambah yang sangat memikat bagi para investor global.

“Kenapa di Bali ini? Karena bukan hanya infrastruktur yang siap, tetapi karena budaya di kita yang memang sudah leisure, istilahnya leisure pariwisata. Kalau ditambahin bisnis, jadi kan jadi bleisure? Lebih enak kan? Business and leisure. Rasanya ini tempat yang mudah untuk kita implementasikan dan itulah kelebihan Bali yang kita tawarkan,” tambahnya.

Lebih dari sekadar transaksi portofolio di pasar keuangan, keberadaan ekosistem PFI/IFC ini ditargetkan terwujud dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi langsung di sektor riil. Kehadiran FDI dinilai krusial untuk mendorong pemerataan pembangunan, khususnya mengarahkan investasi ke kawasan Bali Utara demi mengurai kepadatan di Bali Selatan.

Achris menyoroti bahwa investasi yang masuk tidak hanya terbatas pada industri pariwisata, melainkan juga pengembangan infrastruktur berskala besar yang mendesak. Salah satu fokus utamanya adalah penyediaan moda transportasi massal modern guna mengatasi kemacetan lalu lintas, khususnya pada akses menuju bandara.

“Bali pasti butuh banget. Investor dari PFI nanti akan kita ajak ke daerah utara, tidak harus pariwisata tetapi area lain termasuk infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan besar. Misalnya mass rapid transportation yang modern seperti kereta api. Secara hitung-hitungan bisnis, titik bandara itu sangat memungkinkan untuk investasi perkeretaapian agar kapasitas pariwisata kita tidak terganggu oleh kemacetan,” pungkasnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE