Pemahayu Jagat di Tanah Lot Sarat Makna Introspeksi Pemimpin Bali
Pemahayu Jagat di Tanah Lot Sarat Makna Introspeksi Pemimpin Bali/ balikonten
SINGASANA, BALIKONTEN.COM – Rangkaian upacara Pemahayu Jagat Segara Kerti di Pura Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Jumat (11/9/2026), menjadi momentum untuk melakukan prosesi mulat sarira (introspeksi diri) bersama bagi seluruh elemen masyarakat dan pemimpin di Bali.
Seniman sekaligus tokoh umat Hindu Bali, I Nyoman Ardika atau yang akrab dikenal Jero Mangku Sengap, menyampaikan bahwa fenomena alam dan siklus bencana yang terjadi belakangan ini merupakan isyarat bagi manusia untuk senantiasa menjaga keseimbangan lingkungan.
“Ini lebih banyak ke proses mulat sarira bersama dari semua unsur, tidak hanya masyarakat tetapi juga para pemimpin. Baik pemimpin spiritual agama, masyarakat, birokrasi, maupun pemimpin seni dan budaya,” kata Jero Mangku Sengap di lokasi upacara, Jumat (11/9/2026).
Jero Mangku Sengap mengibaratkan isyarat alam seperti kondisi tubuh manusia yang memberikan petunjuk saat mengalami gangguan kesehatan. Dalam konteks bencana yang didominasi oleh fenomena geni baya (ancaman api)—seperti gunung meletus hingga kebakaran di pemukiman, tempat usaha, dan kawasan suci—hal tersebut berkaitan erat dengan pengendalian emosi dan ego manusia.
“Secara konsep bhuana alit, api berkaitan dengan emosi yang tidak seimbang. Apakah yajña yang dibangun didasari emosi yang baik atau justru ego sektoral. Ini menjadi pertanda untuk kita semua agar eling (ingat) dan mulat sarira,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan upacara ritual ini bertujuan menjaga siklus keseimbangan lingkungan dan komunitas di Bali. Melalui pelaksanaan ritual berbasis konsep Tri Hita Karana, masyarakat diharapkan dapat membendung emosi egoistis dan senantiasa merawat harmoni alam.
***
