13/09/2026

Pulihkan Harmoni Alam dan Bangsa, Upacara Pemahayu Jagat Segara Kertih Digelar di Pura Tanah Lot

Pulihkan Harmoni Alam dan Bangsa, Upacara Pemahayu Jagat Segara Kertih Digelar di Pura Tanah Lot

Upacara Pemahayu Jagat Segara Kertih di Pura Tanah Lot, Jumat, 11 September 2026. (Sumber: Gung Kris/Bali Konten)

TABANAN, BALIKONTEN.COM — Menyikapi berbagai dinamika situasi alam, guncangan ekonomi, hingga gejolak politik dalam dan luar negeri belakangan ini, Yayasan Taksu Agung Nusantara bersiap menggelar ritual keagamaan bertajuk Upacara Pemahayu Jagat Segara Kertih.

Ritual ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 11 September 2026 (Tilem Ketiga) pukul 09.00 WITA, bertempat di Pura Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.

Manggala Karya Ni Nyoman Agustini, S.H., menjelaskan, pelaksanaan upacara ini berlandaskan pawisik (petunjuk spiritual) yang diterima oleh Jro Dasaran/Sadeg/Tapakan dari Peliatan, Ubud.

“Ritual ini diniatkan sebagai upaya penetralan atau pembersihan spiritual, persembahan, serta korban suci demi mengembalikan keseimbangan dan pemulihan kondisi alam semesta,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Taksu Agung Nusantara I Gusti Gde Panca Putra, S.Ag., didampingi Ketua Sanggar Natya Swari Denpasar Ni Putu Ayu Ayani, S.T., turut menambahkan, bahwa sebelumnya, rangkaian ritual Pemahayu Jagat Segara Kertih Mapedudusan Alit, Tawur Walik Sumpah, hingga Mapekelem (kebau, kambing, dan sarana lainnya) telah digelar secara mandiri dan dengan biaya pribadi di beberapa lokasi sakral di pesisir Bali, antara lain:

  1. Pura Griya Gili Selang, Sraya Kangin, Karangasem
  2. Pura Segara Benoa, Badung
  3. Taman Beji Pura Segara Rupek, Gerokgak, Buleleng

“Upacara yang berlangsung di Pura Tanah Lot ini menjadi kelanjutan dari rangkaian permohonan keselamatan tersebut,” imbuh Guru Mangku Panca.

Momen Doa Bersama untuk Bali dan Nusantara

Lebih lanjut Panca Putra menjelaskan, ritual di Pura Tanah Lot ini merupakan lokasi kelima dari rangkaian upacara penyucian pesisir di Bali. Pemilihan Pura Tanah Lot sebagai lokasi kelima didasarkan pada petunjuk spiritual yang menandai kawasan tersebut sebagai simbolik bagian pergerakan atau “lengan”.

Dalam prosesinya, ritual Pengertiti Jagat dan Bhagya Pula Kerti diisi dengan banten persembahan di pelinggih Surya serta ritual pekelem ke laut. Sarana pekelem yang dipergunakan meliputi itik hitam, ayam hitam, kambing hitam, dan kerbau.

Panca Putra menambahkan, pelaksanaan karya ini diharapkan dapat mewujudkan keselamatan dan kedamaian alam semesta (rahayu).

“Harapan utama agar keadaan alam semesta semua rahayu. Setelah alam kondusif dan selamat, masyarakat baru bisa beraktivitas menjalankan swadharma atau kewajiban masing-masing dengan baik,” ujar Panca Putra.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE