13/09/2026

Bali Mesin Devisa Rp176 Triliun, Koster: Jangan Sampai Pulau Ini Hancur karena Pariwisata

Koster saat menghadiri Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026). (Sumber: Gung Kris)

Koster saat menghadiri Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026). (Sumber: Gung Kris/ balikonten)

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bali menjadi salah satu mesin utama pariwisata Indonesia. Dengan hanya sebuah pulau kecil, Bali mampu menarik sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara sepanjang 2025 dan menghasilkan devisa yang diperkirakan mencapai Rp176 triliun.

Namun, Gubernur Bali Wayan Koster mengingatkan ada harga yang jauh lebih mahal jika pertumbuhan pariwisata tidak dikendalikan: kerusakan lingkungan dan hilangnya daya dukung Bali.

Pesan itu disampaikan Koster saat menghadiri Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026).

Di hadapan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohamad Jumhur Hidayat dan Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq, Koster menegaskan pembangunan Bali tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, seluruh sektor harus tumbuh bersama tanpa mengorbankan alam maupun kehidupan masyarakat.

“Harus sama-sama survive. Hidup yang menghidupi, urip yang menguripi,” kata Koster.

Pernyataan itu menjadi penting di tengah posisi Bali yang semakin strategis dalam peta pariwisata nasional.

Data yang dipaparkan Koster menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada 2025 mencapai 7,05 juta orang atau sekitar 45,8 persen dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar US$1.522,44 dan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, devisa yang dihasilkan Bali diperkirakan mencapai Rp176 triliun.

Angka tersebut disebut setara dengan sekitar 55 persen devisa pariwisata nasional.

“Jadi Bali ini luar biasa, pulaunya kecil, orangnya sedikit tapi memberi manfaat banyak orang di Indonesia,” ujar Koster.

Ketika Kesuksesan Menjadi Ancaman

Di balik angka fantastis tersebut, Bali menghadapi persoalan yang tidak kalah besar.

Kemacetan, sampah, tekanan terhadap ruang, kebutuhan energi dan berbagai persoalan lingkungan menjadi konsekuensi dari pertumbuhan aktivitas pariwisata yang terus meningkat.

Karena itu, Koster menilai Bali tidak boleh terjebak dalam logika pembangunan yang hanya mengukur keberhasilan dari semakin banyaknya wisatawan dan semakin tingginya transaksi ekonomi.

Bali harus memastikan alam tetap sehat, budaya tetap hidup dan masyarakat lokal tetap memperoleh manfaat.

“Hidup harus harmonis dengan alam. Itulah ajaran leluhur kami di Bali,” tegasnya.

Prinsip tersebut, kata Koster, diterjemahkan dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dan Pola Pembangunan Semesta Berencana sebagai fondasi pembangunan Bali ke depan.

Bali Tak Boleh Tumbuh dengan Mematikan yang Lain

Koster secara tegas mengkritik pola pembangunan yang membuat satu sektor tumbuh dengan mengorbankan sektor lainnya.

Ia menekankan bahwa industri pariwisata tidak boleh berkembang dengan mengorbankan lingkungan, sementara pertumbuhan ekonomi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan ruang hidupnya.

“Tidak boleh tumbuh sendiri dengan mematikan yang lain,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan Bali diarahkan untuk memperkuat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Salah satu agenda yang tengah didorong adalah percepatan penggunaan energi bersih. Koster menyebut Bali mendapatkan kuota 1.000 MW dalam program PLTS 100 GW dan Pemprov Bali kini mendorong penerapan energi bersih dari hulu hingga hilir.

Bagi Koster, kebijakan energi bersih bukan sekadar persoalan mengurangi emisi. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan investasi untuk menjaga wajah Bali sebagai destinasi wisata dunia.

“Alam ini bersih dan hidup ini sehat sehingga Bali ke depan semakin terjaga lingkungannya dan menjadikan Bali sebagai pariwisata berkelas dunia,” katanya.

Jangan Sampai Bali Kehilangan Modal Utamanya

Ekonomi Bali memang tumbuh 5,82 persen pada 2025. Tingkat kemiskinan berada di angka 3,42 persen dan pengangguran 1,45 persen. Pendapatan per kapita juga mencapai sekitar Rp72 juta per tahun.

Tetapi bagi Koster, angka-angka tersebut bukan alasan untuk mempercepat eksploitasi Bali.

Sebaliknya, capaian ekonomi itu menjadi alasan semakin kuat untuk menjaga Bali.

“Bali ini memang harus dijaga baik-baik, kalau tidak maka akan kehilangan nilai ekonomi yang sangat besar,” ujarnya.

Di titik inilah tantangan Bali menjadi semakin jelas.

Pariwisata adalah kekuatan ekonomi Bali, tetapi alam adalah modal yang membuat pariwisata itu tetap hidup.

Jika lingkungan rusak, budaya kehilangan identitas dan masyarakat tidak lagi menjadi bagian utama dari pembangunan, maka Bali bukan hanya kehilangan keindahannya. Bali juga berpotensi kehilangan mesin ekonomi yang selama ini memberikan manfaat hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Koster menegaskan, masa depan Bali harus dibangun dengan basis kearifan lokal, menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kualitas lingkungan.

Sebab, bagi Bali, mempertahankan pariwisata bukan sekadar mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan Bali tetap layak dihuni ketika gemerlap pariwisata terus membesar.

***

Pewarta: Agung Rai Tri Krisna Putra

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE