Pemerintah Ijinkan Buat Ogoh-ogoh, PHDI Ingatkan Yowana Tak Labrak Aturan

 Pemerintah Ijinkan Buat Ogoh-ogoh, PHDI Ingatkan Yowana Tak Labrak Aturan

Ketua PHDI Kota Denpasar, Nyoman Kenak.

Denpasar, Balikonten.com – PHDI Kota Denpasar menyambut baik keputusan Pemerintah Provinsi Bali dan Kota Denpasar mengijinkan pawai ogoh-ogoh pada Nyepi tahun 2022 ini. Hal ini mewadahi kreativitas Yowana di Bali yang sebelumnya sempat dibatasi akibat pandemi Covid-19.

 

Sejalan dengan itu, Ketua PHDI Kota Denpasar Nyoman Kenak berharap generasi muda tetap memaknai keputusan ini dengan menaati protokol kesehatan. Sebab ketaatan masyarakat memengaruhi kebijakan pemerintah dalam mengatur kegiatan masyarakat di tengah pandemi.

 

“Dalam perspektif agama, kegiatan harus didasari harmonisasi yang mengandung nilai Satyam, Shivam, Sundaram. Satyam dalam hal ini adalah kebenaran, yakni mengikuti aturan yang berlaku,” ujarnya saat diwawancarai secara daring pada Jumat 6 Januari 2022.

 

Dia menekankan agar pelaksanaan pawai diawali dari proses pembuatan hingga pawai berlangsung dapat dikendalikan oleh Yowana. Kata dia, jangan sampai euforia generasi muda dalam menyambut keputusan ini justru berujung kepada perubahan keputusan.

 

Sebab bila terjadi lonjakan kasus penularan Covid-19, tentunya pemerintah akan melakukan evaluasi salah satunya menunda pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Maka dari itu seluruh pihak ia harap mendukung kelancaran kegiatan ini dengan menjaga diri dari paparan Covid-19.

 

Selain menaati protokol kesehatan, salah satu yang diperhatikan dalam pembuatan ogoh-ogoh adalah menghindari penggunaan plastik dan sterofoam. Pembatasan timbulan sampah plastik ini telah diatur dalam regulasi di tingkat Pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Kota Denpasar.

 

Kata dia, pembatasan sampah plastik dari aktivitas keagamaan menjadi salah satu program yang gencar dilakukan oleh pemerintah di Bali.

 

Tentang ogoh-ogoh, dia menyebutkan bahwa pembuatan ogoh-ogoh pada hari raya Nyepi maupun tawur Agung bukanlah hal yang mutlak. Budaya itu mulai tenar pada tahun 1983 setelah pemerintah pusat menetapkan Nyepi sebagai libur bersama.

BACA JUGA:  Festival Bulan Bahasa Bali 2024 di Badung Berlangsung Lima Hari

 

Keberadaan ogoh-ogoh menurutnya telah berlangsung sejak lama. Oleh masyarakat Bali pada masa lampau, ogoh-ogoh digunakan dalam beberapa aktivitas adat maupun agama salah satunya Usaba Nini.

 

Pada tahun 70-an, ogoh-ogoh masih menggunakan bahan dasar ramah lingkungan seperti ilalang kering, bambu dan kayu. “Seiring waktu terjadilah perubahan trend, di mana ogoh-ogoh bukan saja atribut upacara, namun juga ruang kreatif bagi Yowana,” terang Kenak.

 

Keputusan pemerintah untuk mengizinkan pawai ogoh-ogoh disambut gembira oleh Ketua ST Yowana Saka Buana Banjar Tainsiat, Pande Ganantra bersama anggota. Dalam waktu dekat ini ia akan mulai menggarap ogoh-ogoh bersama arsitek Komang Kedux.

 

Namun dirinya masih merahasiakan sosok ogoh-ogoh apa yang akan dibuat pada Nyepi kali ini. “Kami senang ya. Sebab selama ini saya dan teman-teman rindu membuat ogoh-ogoh,” ujarnya saat diwawancarai Jumat sore.

 

Terkait penerapan prokes, dia mengaku sepakat hal tersebut harus ditaati dalam proses pembuatan dan pawai nanti. Baginya ini adalah momentum kebangkitan kreativitas generasi muda Bali yang mampu beradaptasi di tengah pandemi Covid-19. (red)

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE

error: Content is protected !!