09/09/2026

Perangi Fenomena ‘Fatherless’, BKKBN Bali Serukan Ayah Wajib Hadir Antar Anak Sekolah

Perangi Fenomena 'Fatherless', BKKBN Bali Serukan Ayah Wajib Hadir Antar Anak Sekolah

Perangi Fenomena 'Fatherless', BKKBN Bali Serukan Ayah Wajib Hadir Antar Anak Sekolah/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali secara masif menginisiasi Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS). Gerakan serentak ini dijadwalkan berlangsung pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin, 13 Juli 2026 mendatang.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk reorientasi peran laki-laki dalam domestik sekaligus menjadi komitmen nyata dalam peringatan puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tingkat Provinsi Bali yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”.

Inisiasi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas fenomena fatherless country di Indonesia, di mana sosok ayah sering kali hadir secara fisik namun absen secara emosional dalam pengasuhan anak. BKKBN Bali menilai, momentum tahun ajaran baru menjadi titik balik yang tepat untuk mengikis stigma budaya lama yang menempatkan peran ayah sebatas sebagai pencari nafkah semata.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MAR., mengimbau dengan sangat agar para ayah dapat meluangkan waktu demi masa depan psikologis anak. Keterlibatan aktif ayah (father involvement) terbukti memiliki korelasi positif yang kuat terhadap perkembangan kognitif, kestabilan emosi, dan rasa percaya diri anak.

“Terkait dengan GAMAS, gerakan ayah mengantar anak ke sekolah di hari pertama yaitu hari Senin nanti tanggal 13 Juli, kami sangat berharap dan mengimbau kepada bapak-bapak untuk meluangkan waktunya, beberapa jam saja, untuk mengantar anaknya ke sekolah,” ujar Sukardiasih di sela-sela puncak peringatan Harganas ke-33 di Bali, Kamis (9/7/2026).

Sukardiasih juga memaparkan data bahwa saat ini sekitar 25 persen anak Indonesia tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari sosok ayah, baik karena kendala fisik maupun absennya kedekatan psikologis. Kehadiran ayah yang utuh dan suportif juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres ibu pasca-melahirkan, yang berkontribusi besar pada keberhasilan ASI eksklusif dan pencegahan stunting dari tingkat desa.

“Hilangkan stigma bahwa tugas ayah hanya untuk mencari nafkah, dan urusan pola asuh tumbuh kembang anak hanya dibebankan kepada ibu saja. Ini harus kita geser, karena peran ayah juga sangat penting,” tegas Sukardiasih.

Gerakan moral ini mendapat respons dan dukungan penuh dari jajaran birokrasi. Pemerintah Provinsi Bali memastikan akan memberikan dispensasi atau kelonggaran bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pegawai instansi vertikal yang ingin berpartisipasi mengantarkan anaknya ke sekolah pada Senin pekan depan.

Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dr. I Wayan Ekadina, SE, M.Si., menegaskan bahwa kebijakan kelonggaran birokrasi ini merupakan wujud investasi jangka panjang demi mendukung penguatan karakter anak sejak dini. Ia optimistis kebijakan ini tidak akan menurunkan produktivitas kerja pegawai.

“Pimpinan pemerintah sangat positif memfasilitasi. Sepanjang kegiatannya untuk kepentingan penguatan keluarga, pasti didukung. Karena ketika di dalam keluarga ditemukan keharmonisan dan kesejahteraan, kami yakin begitu sampai di kantor, pegawai akan mampu memberikan kinerja terbaiknya,” kata Ekadina.

Dukungan serupa juga datang dari akademisi dan praktisi kependudukan. Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., M.Si., menekankan pentingnya transformasi budaya dari sistem patrilineal kaku menuju kesetaraan gender dalam pola pengasuhan. Menurutnya, tanggung jawab ayah tidak boleh berhenti pada aspek finansial semata.

“Kehadiran ayah bukanlah sekadar hadir dalam artian fisik, tetapi juga emosional dan psikososial, yang artinya anak itu merasa bahwa dia memiliki ayah seutuhnya. Kita harus transformasikan ke depan di mana ayah dan ibu memiliki peran yang setara di dalam rumah tangga. Jadi, kesetaraan gender tidak semata pada aspek politik, pendidikan, kesehatan, atau ekonomi saja, tetapi juga di dalam pengasuhan,” ujar Murjana Yasa.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

Tags:

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE