Respons DPRD Badung Usai Disentil Prabowo: Kami Sudah Mati-matian, tapi Ini Butuh Turun Tangan Pusat
Respons DPRD Badung Usai Disentil Prabowo: Kami Sudah Mati-matian, tapi Ini Butuh Turun Tangan Pusat/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – I Gusti Lanang Umbara menegaskan bahwa menjaga wajah pariwisata Bali dari sampah kiriman lintas pulau harus menjadi concern Pemerintah Pusat, bukan hanya daerah.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Lanang Umbara, menyampaikan tanggapan resmi terkait sorotan Presiden Prabowo Subianto mengenai masalah sampah di Bali dalam acara Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor.
Dalam keterangannya di Badung, Selasa (3/2/2026), Lanang mengawali responsnya dengan apresiasi tinggi kepada Kepala Negara. Ia menilai teguran tersebut adalah bukti kasih sayang dan perhatian Presiden terhadap Pulau Dewata.
“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak Presiden, atas kepedulian dan kecintaannya pada Pulau Bali. Teguran ini memacu dan mengingatkan kami semua untuk sadar menjaga kebersihan,” ujar Lanang.
Namun, di balik ucapan terima kasih tersebut, Lanang juga membeberkan realitas lapangan yang dihadapi pemerintah daerah terkait asal-usul sampah yang membanjiri pantai.
80 Persen Sampah “Kiriman” Luar Pulau
Lanang meluruskan bahwa tumpukan sampah yang kerap viral di media sosial bukanlah semata akibat kelalaian warga Bali. Berdasarkan data lapangan, mayoritas sampah di pesisir adalah sampah kiriman yang terbawa arus laut.
“Realita yang sesungguhnya, sampah-sampah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan ton itu, 80 persen adalah dari pulau luar Bali yang terdekat,” jelasnya.
Sampah tersebut, lanjut Lanang, dibuang ke sungai di wilayah lain, hanyut ke laut, dan terbawa angin muson. Saat angin Muson Barat, sampah menumpuk di pantai wilayah barat seperti Kuta, Kedonganan, dan Canggu. Sebaliknya, saat Muson Timur, sampah menyasar Tanjung Benoa.
Oleh karena itu, ia meminta agar fenomena sampah lintas wilayah ini menjadi perhatian serius (concern) Pemerintah Pusat.
“Bali adalah pulau pariwisata, wajah Indonesia. Keindahan dan kebersihannya harus dijaga. Karena ini sampah lintas pulau, Pemerintah Pusat harus ikut turun tangan menanganinya,” tegasnya. Karna ini agenda setiap Tahunya Jadi harapan Kami penyelesaian sampah di Hulu yaitu di Barat Dari Pada pulau Bali, sehingga kalo di Barqt Pulau Bali Juga Tertangani Masalah Sampahnya dengan Baik jadi pada saat angin Barat Tdk Terlalu Banyak Sampah dr barat akan Terbawa ke Pulau Bali
Minta Penutupan TPA Suwung Ditunda
Mengingat volume sampah kiriman yang begitu besar, Lanang menyampaikan permohonan mendesak kepada Presiden Prabowo terkait infrastruktur pembuangan.
Ia meminta rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung ditunda hingga fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) benar-benar beroperasi penuh. Hal ini krusial karena pemerintah daerah terbentur aturan dalam pengadaan alat secara mandiri.
“Kami memohon kepada Bapak Presiden untuk menunda penutupan TPA Suwung hingga PSEL beroperasi. Agar sampah-sampah (kiriman) tersebut sementara dapat dibuang ke sana, dikarenakan kami tidak diperbolehkan membeli mesin incinerator sendiri,” ungkap Lanang.
Tindak Tegas Pembuang Sampah
Lanang memastikan, Pemkab Badung sendiri telah bekerja keras (“mati-matian”) menjaga kebersihan melibatkan TNI, Polri, Desa Adat, hingga Ormas. Regulasi ketat pun sudah diterapkan.
“Dari tingkat Banjar sampai Kecamatan, kami sudah melarang dan memberi sanksi tegas warga yang membuang sampah ke sungai,” katanya.
Ia berharap Presiden Prabowo juga menyerukan peringatan keras kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah.
“Ini butuh kesadaran kolektif seluruh rakyat Indonesia. Jangan buang sampah ke sungai, karena akan terbawa ke laut dan menyebar ke mana saja, termasuk mengotori Bali,” pungkasnya.
***
