10/09/2026

Awal Baru Setelah Galungan dan Kuningan, Purnama Sasih Kasa Menjadi Titik Balik

purnama kedasa bertemu kajeng kliwon

ilustrasi gambar banten/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bagi masyarakat Hindu di Bali, pergantian bulan spiritual atau sasih selalu membawa ruang tersendiri untuk mendekatkan diri pada sang pencipta. Salah satu momentum yang paling dinantikan adalah Purnama Kasa, sebuah hari suci tahunan yang menandai awal dari siklus spiritual baru.

Bukan sekadar rutinitas kalender, hari raya ini memegang esensi mendalam sebagai waktu pembersihan jiwa (penyucian diri) sekaligus bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Hyang Rwa Bhineda—manifestasi Tuhan dalam wujud Dewa Matahari dan Dewa Bulan.

Lantas, bagaimana umat Hindu di Bali memaknai dan merayakan hari suci ini? Berikut ulasan lengkap mengenai makna, landasan sastra, hingga tata cara pelaksanaan Purnama Kasa.

Menghitung Siklus Waktu Perayaan Purnama Kasa

Dalam sistem penanggalan tradisional Bali, Purnama Kasa jatuh pada bulan purnama pertama, tepat di pertengahan sasih Kasa.

Kalender Bali membagi waktu secara seimbang antara siang dan malam, yang tercermin dari perayaan Purnama dan Tilem (bulan mati) yang datang silih berganti. Dari total 12 purnama dalam setahun, Purnama Kasa menempati posisi hulu atau pembuka, menjadikannya tonggak penting bagi umat untuk menata kembali spiritualitas mereka.

Menilik Sastra Suci: Landasan Filosofis dari Lontar Sundarigama

Keagungan hari raya ini bukanlah tanpa dasar. Kitab suci Lontar Sundarigama secara spesifik mengulas filosofi di balik dualisme kosmis (Rwa Bhineda) yang terjadi pada hari ini.

Dikisahkan bahwa saat Purnama tiba, Sang Hyang Ulan (Dewa Candra/Bulan) tengah berada dalam posisi mayoga (bersemadi). Sebaliknya, saat Tilem, giliran Sang Hyang Surya (Dewa Matahari) yang melakukan yoga.

Dalam teks asli Lontar Sundarigama disebutkan:

“Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga…”

Secara harfiah, sastra ini menegaskan bahwa Purnama dan Tilem adalah waktu terbaik bagi umat manusia—mulai dari para pendeta (purohita) hingga masyarakat awam—untuk menjernihkan pikiran (mahening ajnana). Umat diimbau menghaturkan wewangian dan persembahan suci di tempat pemujaan, kemudian memohon air suci (tirta) sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Tata Cara Pelaksanaan Ritual dan Persembahan

Perayaan Purnama Kasa kental dengan nuansa gotong royong dan khidmat. Sejak pagi hari, krama Bali telah sibuk menyiapkan sarana upacara. Berikut adalah tahapan ritual yang umumnya dilakukan:

  • Mempersiapkan Upakara (Banten): Umat merangkai persembahan utama berupa canang wangi-wangi dan canang yasa. Persembahan ini merupakan simbol ketulusan dan rasa syukur atas kesuburan serta sinar kehidupan yang diberikan alam semesta.
  • Persembahyangan di Tempat Suci: Ritual sembahyang dilakukan secara bertingkat, dimulai dari sanggah atau merajan (tempat suci keluarga), kemudian dilanjutkan ke parhyangan atau pura khayangan jagat di desa setempat.
  • Prosesi Melukat: Untuk menyempurnakan penyucian diri, banyak umat yang memilih melakukan melukat di sumber mata air alami atau pantai. Ritual mandi suci ini bertujuan melunturkan energi negatif (mala) dan kotoran batin.
  • Nunas Tirta: Di akhir persembahyangan, umat akan memohon tirta (air suci). Meminum dan memercikkan tirta diyakini membawa berkah kesucian, ketenangan pikiran, dan perlindungan spiritual.

Relevansi Purnama Kasa dalam Kehidupan Modern

Di tengah derasnya arus modernisasi, esensi Purnama Kasa tetap kokoh di hati masyarakat Bali. Hari raya ini menjadi pengingat hidup tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam semesta (Tri Hita Karana).

Melalui sepotong canang dan untaian doa, umat Hindu Bali terus merawat warisan leluhur sekaligus mengisi ulang energi spiritual mereka. Purnama Kasa bukan lagi sekadar perayaan periodik, melainkan sebuah jeda kontemplatif untuk merenung, bersyukur, dan melangkah maju dengan hati yang jauh lebih bersih.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE