10/09/2026

Bukan 1 tapi Ada 5 Jenis Banten untuk Melaksanakan Tumpek Krulut

berdasarkan lontar sundarigama, inilah penjelasan tentang buda wage (cemeng) warigadean

ilustrasi banten/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Krulut setiap Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Momen yang kerap disapa sebagai odalan gamelan ini menjadi ruang penghormatan bagi keindahan seni suara, gamelan, serta kasih sayang universal yang lahir dari getaran nada.

Masyarakat Bali menghadirkan sarana upacara berupa banten sebagai wujud bakti dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Setiap sarana yang dirangkai memiliki filosofi mendalam.

5 jenis banten yang lazim dihadirkan sepanjang ritual ini berlangsung:

1. Banten Pejati

Sarana ini menduduki posisi mendasar dan hadir di hampir setiap ritual. Di dalamnya terangkai nasi, lauk-pauk, canang, buah-buahan segar, dupa, serta pelengkap simbolis lainnya. Kehadiran Pejati menegaskan kesungguhan hati serta ketulusan umat saat memohon keridaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

2. Sesayut Gamelan

Persembahan ini disiapkan secara khusus untuk instrumen gamelan dan alat musik pendukung. Isian utamanya meliputi canang, dupa, air suci, serta porosan. Umat menghaturkannya untuk menghormati taksu atau jiwa spiritual yang dipercaya bersemayam di dalam bilah-bilah dan pencon gamelan, sehingga suara yang dihasilkan tetap bernyawa dan harmonis.

3. Banten Bebangkit

Rangkaian banten ini tergolong megah dan kaya akan isi, kerap dipakai saat tingkatan upacara yang lebih besar. Sajian di dalamnya mencakup aneka jajanan tradisional Bali, buah-buahan pilihan, lawar, hingga pelengkap sakral lainnya. Penyelenggaraan banten ini membawa doa permohonan agar kehidupan bermasyarakat senantiasa dilimpahi keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian.

4. Banten Daksina

Daksina berfungsi melengkapi sarana utama sekaligus menyimbolkan keseimbangan alam semesta. Bahan-bahannya terdiri atas kelapa, porosan, canang, uang kepeng, dan bunga segar. Susunan ini memuat simbolisme purusa dan pradana (unsur maskulin dan feminin) yang menjadi landasan keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Pencipta.

5. Segehan Putih-Kuning atau Segehan Agung

Penataan Segehan difokuskan untuk penyucian ruang dan lingkungan di sekitar tempat penyimpanan maupun pementasan gamelan. Sarana ini berisi nasi lima warna, lauk sederhana, serta canang. Kehadirannya melengkapi ritual untuk menyelaraskan energi alam bawah, menjaga keharmonisan antara dimensi yang terlihat (sekala) dan yang tak terlihat (niskala).

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE